Opini

Membaca dan Berpikir: Yang terakhir dari Toko Buku Terakhir

Kegelisahan ini dimunculkan oleh penulis karena kecintaannya pada kegiatan membaca, menulis dan berpikir.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM/DION DB PUTRA
Romo Dr. Leo Mali, Pr (kiri) dan Usman Kansong dalam diskusi buku di aula Kantor Dinas Kominfo Provinsi NTT, Sabtu (13/4/2024). 

Oleh: Romo Dr. Leo Mali, Pr
Pengajar di Seminari Tinggi St. Mikael, Kupang

POS-KUPANG.COM - Awal bulan November tahun lalu saya membaca Toko Buku Terakhir karya Usman Kansong. Sebagai seorang pembaca dan seorang guru, saya merasakan kegelisahan penulis mengenai dua hal. Pertama ancaman menghilangnya buku-buku fisik.

Kedua, budaya baca masyarakat kita masih tetap lemah di tengah gempuran perangkat digital.

Kegelisahan ini dimunculkan oleh penulis karena kecintaannya pada kegiatan membaca, menulis dan berpikir.

Dalam refleksi ini, seperti tertulis pada judul, saya ingin memberi catatan mengenai hubungan antara membaca dan berpikir.

Pada saat membaca kita mengarahkan pikiran kita pada sebuah teks. Text adalah sebuah tenunan (Latin; tessere).

Kalau sebuah kain ditenun dari jalinan benang, maka sebuah teks yang dibaca ditenun oleh jalinan huruf yang membentuk kata dan jalinan kata yang membentuk makna.

Kata dalam setiap bahasa memberi wujud sebuah ide yang berumah dalam pikiran seorang penulis.

Melalui tujuh bagian buku Toko Buku Terakhir, Usman Kansong, menuliskan dengan ringan isi ringkas sekalian serta pesan tertentu dari buku-buku yang dikejarnya di berbagai rak toko buku yang ada, dibacanya dan dituliskan kembali.

Mata air dari pengejaran penulis pada buku-buku adalah minat dan kecintaannya pada buku dan pengetahuan.

Dari kiri ke kanan: Romo Leo Mali, Pr, Usman Kansong, Pdt. Emmy Saherian, Kepala Dinas Kominfo NTT, Frederik Christian Purwanto Koenunu, dan penyair Mario F Lawi.
Dari kiri ke kanan: Romo Leo Mali, Pr, Usman Kansong, Pdt. Emmy Saherian, Kepala Dinas Kominfo NTT, Frederik Christian Purwanto Koenunu, dan penyair Mario F Lawi. (POS KUPANG.COM/DION DB PUTRA)

Maka bergerak dari “Mata Air” Azra, Air mata kita, sebuah tulisan pada bagian pertama tentang Buku dan Obituarium, tentang berpulangnya Asyumardi Azra, penulis melanglangbuana dan menerobos jauh, melewati ruang dan waktu, menyapa banyak sosok dan tokoh hingga tiba di akhir pencarian, pada sebuah tempat di Los Angeles, California, sebuah toko buku bekas, The Last Bookstore, (Toko Buku Terakhir).

Penulis menempatkannya di akhir, sekalian sebagai judul seluruh buku.
Struktur buku ini memperlihatkan tujuh bagian pokok: Buku dan Obituarium; Buku dan Agama; Buku, Kafe, Kopi; Buku dan Politik; Buku dan Aku; Buku, Perjalanan, Kebahagiaan; toko Buku Terakhir.

Saya tidak ingin membahas satu persatu tujuah bagian itu. Karena saya lebih tertarik pada kesan yang saya tangkap berupa nuansa kepedihan dan kesenduan sejak awal ketika penulis, pada bagian Buku dan obituarium, menempatkan tulisannya untuk mengenang kepergian Azyumardi Azra dengan judul yang impresif, Mata air Azra, Air mata Kita.

Kesenduan ini kemudian dijawabi dengan harapan yang kuat sejak awal ketika Penulis menempatkan dirinya dalam dialog yang hidup dengan tokoh-tokoh historis dan pemikir yang nyata, seperti Azyumardi Azra, Mona Lohanda, Ong Hok Ham, Jalaludin Rachmat, Bahtiar Efendi, Ridwan Saidi, Buya Syafii Maarif atau sejumlah sosok lain yang disebut pada bagian buku selanjutnya.

Pepatah Latin mengatakan Homo est liber vivus; manusia adalah buku yang hidup. Buku yang hidup, dibedakan dengan buku yang ditulis (Liber scriptus).

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved