Opini
Bunuh Diri, Media Sosial dan Kesadaran Etis Kita
Bagaimana seharusnya tanggungjawab etis masyarakat dalam menghadapi kasus dan tindakan pencegahannya?
Oleh: Gabriel A.I Benu
Tinggal di Seminari Tinggi St. Mikhael Kupang
POS-KUPANG.COM - Akhir-akhir ini pemberitaan kasus bunuh diri makin meresahkan. Data pemberitaan media menunjukkan bahwa selama tahun 2023 khususnya di Kota Kupang sudah ada 11 kasus bunuh diri.
Melihat dan membaca begitu maraknya kasus bunuh diri selain kasus-kasih kekerasan fisik dan verbal di tengah-tengah ramainya pemberitaan jelang pesta politik, rasa-rasanya masayarakat perlu disadarkan kepada bahaya laten bunuh diri yang agaknya tersingkirkan dari perhatian dan perbincangan publik.
Kasus-kasus bunuh diri ini bukan masalah sepele dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bagaimana kita harus membedah kasus termasuk di dalamnya upaya pencegahan yang harus dilakukan untuk memutus lingkaran setan ini.
Beberapa Pertanyaan Mendasar
Dalam begitu banyak kasus bunuh diri sebagaimana yang diberitakan, jelas bahwa terdapat satu pergeseran nyata dan menyedihkan bahwa ternyata bunuh diri menjadi jalan pintas yang dipilih untuk mengakhiri kehidupan dari begitu banyak kepungan persoalan yang dihadapi.
Apalagi banyak korban bunuh diri yang dilaporkan adalah mahasiswa dan pelajar. Ini makin mendulang sejumlah pertanyaan, sejauh mana seharusnya pendidikan menciptakan kesadaran kritis dan kreatif untuk mengelola dan mencari solusi atas persoalan yang dihadapi?
Atau sebaliknya kita harus diperhadapkan pada hipotesis bahwa ternyata pola dan metode pendidikan menciptakan tekanan berlebihan yang menjerat peserta didik hingga berakhir pada pilihan mengakhiri hidup secara tidak bertanggungjawab?
Bagaimana seharusnya tanggungjawab etis masyarakat dalam menghadapi kasus dan tindakan pencegahannya? Atau justru masyarakatlah yang menciptakan kondisi-kondisi yang mendorong tindakan tersebut? Dan masih banyak pertanyaan lagi.
Posisi Kunci Media Sosial
Joanna Maclaughlin dan David Gunnel (2022) dalam Preventing and Responding to Student Suicide menyebutkan bahwa persoalan bunuh diri di sektor intitusi Pendidikan Tinggi termasuk di luar pendidikan yang didokumentasikan sejauh ini, dipengeruhi oleh penyakit mental, penyalahgunaan obat-obatan, perundungan (bullying) pelecehan fisik dan seksual, pencapaian pendidikan yang buruk dan persoalan sosial ekonomi.
Bahkan disebut juga akses tempat dan sarana bunuh diri berkisar pada jembatan dan bahan kimia berbahaya.
Sehubungan dengan faktor-faktor penyebab di atas, Gustavo Turecki dan David A Brent (2016) dalam Suicide and Suicidal Behavioral menambahkan salah satu faktor meningkatnya kasus bunuh diri adalah pemberitaan media.
Faktor terakhir ini menjadi sangat berpengaruh ketikan pemberitaan media kerapkali hanya memperhatikan aspek distribusi informasi bahkan romantisasi korban serta tindakannya dan melupakan laporan mendalam tentang hubungan kasus dengan kesehatan mental, tekanan sosial-ekonomi, termasuk upaya upaya mitigasi dengan menunjukkan konsekuensi bunuh diri secara mental dan sosial-kemasyarkatan.
Berangkat dari beberapa analisis di atas, penting untuk mempertimbangkan posisi kunci media sosial (medsos). Hari ini kita hidup dalam gempuran dan tekanan kuat medsos.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-depresi_20170319_083241.jpg)