Opini
Katalog dan Petualangan
Semakin seseorang mengetahui sesuatu, semakin banyak pula barisan buku-buku yang belum dibaca di perpustakaannya.
Membuka kemasan, sebagaimana dikutip Alberto Manguel dari Walter Benjamin, pada dasarnya adalah aktivitas luas dan tak rapi.
Buku-buku yang dibebaskan dari kemasan ditumpukkan sementara karena keterdesakan, sebelum disusun berdasarkan indeks si pembaca ke rak. Di masa tunggu itulah, buku-buku berada dalam keacakan yang tak diharapkan, sebelum dipisahkan satu sama lain.
Menulis tentang buku adalah usaha merapikan hal yang berantakan tersebut, berdasarkan jalinan gagasan yang telah diperoleh si pembaca dari buku-buku lain, menempatkannya ke dalam susunan tertentu, katalog yang telah dibuat oleh si penulis, bahkan menghadirkan buku-buku lain tanpa aba-aba ke hadapan orang-orang yang membaca tulisan tersebut.
Tulisan-tulisan dalam Toko Buku Terakhir melemparkan kita dari satu tempat ke tempat lain, dari satu buku ke buku lain, menunjukkan hubungan antara buku-(buku) yang ini dengan buku-(buku) yang itu, hubungan antara tempat, ingatan, dan perjalanan dengan buku-buku, dan sebaliknya.
Toko Buku Terakhir adalah katalog, tempat kita bisa mengintip sebagian kecil isi perpustakaan Usman, sekaligus travelog, yang menuntun kita berkelana dari satu gagasan ke gagasan lain.
Kita pun menjelma jadi Don Quixote sekaligus pustakawan Babel, yang bertualang karena percaya pada apa yang ia baca, sekaligus yang tak mungkin keluar dari semesta perpustakaan karena dibatasi heksagonnya, dan terutama, karena keluasan yang membentang di balik heksagon tersebut adalah titik buta ketidaktahuan yang menggodanya untuk terus memperluas batas-batas heksagon tersebut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Toko-Buku-Terakhir.jpg)