Opini

Katalog dan Petualangan

Semakin seseorang mengetahui sesuatu, semakin banyak pula barisan buku-buku yang belum dibaca di perpustakaannya.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/ISTIMEWA
Buku karya Usman Kansong berjudul Toko Buku Terakhir. 

“Aku kerap bertanya-tanya mengapa kusimpan buku-buku yang mungkin baru ada gunanya jauh di masa mendatang, judul-judul yang tak terkait dengan minatku pada umumnya, buku-buku yang pernah kubaca sekali dan tidak akan kubuka-buka selama bertahun-tahun. Itu pun kalau pernah! …”

Salah satu tokoh dalam novel tersebut bahkan membangun kediamannya dengan mengecor buku-buku, mewujudkan secara gamblang gagasan “tinggal di antara buku-buku” yang dilontarkan Borges dalam cerpennya.

Miniatur dari obsesi tersebut bisa juga kita baca dalam buku Toko Buku Terakhir (2023) karya Usman Kansong. Kisah pengelanaan sang penulis adalah kisah tentang seorang pembeli sekaligus pembaca buku.

Tulisan-tulisan dalam Toko Buku Terakhir menunjukkan hubungan antara buku-buku dengan orang-orang, dengan gagasan-gagasan, dengan aktivitas sang penulis, dan terutama, dengan buku-buku lain.

Di bagian “Buku dan Obituarium”, Usman menunjukkan buku yang ditulis menjadi identitas tak terpisahkan dari mendiang penulisnya.

Para penulis yang telah meninggal tersebut tetap diingat karena buku-buku yang mereka tulis, atau, jika kita setuju dengan kecurigaan Borges dalam cerpennya, meski manusia mengarah kepada kepunahan, Perpustakaan akan bertahan selamanya.

Borges tidak berbicara tentang buku sebagai medium semata, melainkan sebagai tempat gagasan dimanifestasikan.

Ketelitian diperlukan dalam Perpustakaan Babel, dan karena itulah, karena seseorang dapat memasuki buku yang satu dari dalam buku lain, menurut Eco, Borges telah merancang world wide web jauh lebih dahulu.

Di kutub yang berseberangan dari gagasan Borges tentang perpustakaan dan buku-buku, Usman mengemukakan tulisan berjudul “Singkirkan Buku tak Bermutu dari Raknya”.

Menyingkirkan buku tak bermutu dari rak bukanlah pemikiran Usman, melainkan gagasan James Daunt, CEO toko buku Barnes & Noble di Inggris.

“Menyingkirkan” berseberangan dari gagasan Borges, karena Perpustakaan Babel berisi buku-buku yang dibentuk dari kombinasi-kombinasi 25 abjad.

Dengan demikian, Perpustakaan Babel menampung tidak hanya buku-buku bermutu, tetapi juga buku-buku tak dianggap, misalnya “ribuan katalog palsu”, contoh yang diajukan Borges dalam cerpennya.

Membuat tulisan tentang buku adalah merapikan proses pembukaan kemasan tingkat kedua.

Pada tingkat pertama, buku, sebagai benda di toko buku, maupun bagian dari koleksi perpustakaan, ditarik dari rak yang mengemasnya dalam jalinan dengan buku-buku lain, dan dihadapkan si pembaca ke hadapan dirinya, dideretkan di antara koleksi lain di raknya.

Pada tingkat kedua, makna yang dikemas dalam buku dibuka dan diolah, makna yang senantiasa menunjukkan jalinannya dengan buku-buku dan gagasan-gagasan lain, dan dengan demikian, menghadirkan juga kesan berantakan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved