Opini

Katalog dan Petualangan

Semakin seseorang mengetahui sesuatu, semakin banyak pula barisan buku-buku yang belum dibaca di perpustakaannya.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/ISTIMEWA
Buku karya Usman Kansong berjudul Toko Buku Terakhir. 

Oleh  Mario F. Lawi
Penyair

POS-KUPANG.COM - Membuka bab pertama bukunya, The Black Swan, Nassim Taleb meminjam gagasan Umberto Eco tentang antiperpustakaan.

Bab yang diberi judul “Umberto Eco’s Antilibrary” tersebut pada dasarnya membahas bagaimana kita melihat kenyataan sejarah dan masa kini dan distorsi-distorsi seperti apa yang hadir dalam persepsi demikian.

Paragraf pembuka bab tersebut adalah paragraf yang paling populer dikutip di media sosial. Menurut Umberto Eco, perpustakaan seharusnya berisi sebanyak mungkin daftar bacaan yang tidak diketahui sang pemilik.

Semakin seseorang mengetahui sesuatu, semakin banyak pula barisan buku-buku yang belum dibaca di perpustakaannya.

Taleb mencantumkan beberapa karya Eco sebagai bagian dari daftar pustaka bukunya. Kita tahu, salah satu pengungkit awal gagasan Eco tentang antiperpustakaan adalah cerpen Jorge Luis Borges berjudul “Perpustakaan Babel”.

Perpustakaan Babel adalah semesta, tempat seorang pembaca tidak dapat keluar dari sana.

Sang manusia dapat berpindah dari karya yang satu ke ke karya yang lain, tetapi, sebagaimana semesta, pandangannya hanyalah terbatas pada apa yang ada di sekitarnya.

Karya-karya yang tidak dijangkau olehnya adalah titik buta, dan tidak berarti karya tersebut tidak pernah ada.

Dalam premis Taleb, kita hanya perlu seekor angsa hitam untuk menggugurkan anggapan kita selama bertahun-tahun bahwa semua angsa berwarna putih.

Eco menulis esai khusus tentang cerpen Borges tersebut, dan mengadopsi sejumlah gagasan dari cerpen tersebut ke dalam novelnya, Il nome della rosa.

Inkuisitor dan arsitektur perpustakaan biara dalam novel Eco adalah dua hal yang prototipenya bisa kita temukan dalam cerpen Borges. Dengan demikian, sebagaimana disampaikan Taleb, “Buku-buku yang belum dibaca jauh lebih berharga dari yang telah dibaca.”

Gagasan Borgesian semacam itu juga diamini oleh Alberto Manguel. Dalam karyanya Packing My Library, Manguel mengisahkan bahwa dalam perpustakaannya juga terdapat buku-buku dalam bahasa yang tidak bisa diaksesnya, misalnya buku-buku berbahasa Arab.

Dalam bentuk yang lebih mencengangkan, obsesi terhadap buku-buku, terhadap pengetahuan, terutama terhadap ketidaktahuan ini, dikisahkan oleh Carlos Maria Domínguez dalam novela Rumah Kertas.

Dalam salah satu paragraf, profesor sastra narator novel tersebut bahkan menyatakan:

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved