Puisi
Puisi-puisi Boy Waro
Tuan membangun menara dari keringat kami yang diperas, Lalu bertanya, “Mengapa kalian malas?”
Kontras
Gelasmu penuh anggur, gelas kami penuh peluh.
Mejamu penuh rencana, meja kami penuh keluh.
Kau bicara tentang “pertumbuhan” di atas podium kayu,
Kami bicara tentang “bertahan hidup” di balik pintu layu.
Satu bumi, dua dunia.
Antara yang sibuk berkuasa,
Dan yang lelah dipaksa tiada.
Menara dan Debu
Tuan membangun menara dari keringat kami yang diperas,
Lalu bertanya, “Mengapa kalian malas?”
Di kantongmu, ada sisa jatah sekolah anak kami,
Di meja makanmu, ada hak buruh yang kau kebiri.
Kau kenyang oleh janji yang kau masak sendiri,
Kami lapar memakan sepi di kolong negeri.
Hukum bagimu adalah sutra yang melindunginya,
Bagi kami, ia adalah pedang yang siap menghujam dada.
Ingatlah, Tuan yang bertahta di atas awan,
Tak ada singgasana yang abadi dari kemarahan yang tertahan.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-awan-putih.jpg)