Papua Barat
Diplomat Musik Papua Barat
15 orang Papua Barat dari band Sorong Samarai menabuh genderang mereka secara serempak. Irama yang kuat bergema di sekitar Sidney Myer Music Bowl.
Di Melbourne, sekelompok musisi West Papua dan First Nations, termasuk Sorong Samarai, akan tampil di Hamer Hall untuk edisi ketiga Blaktivisme, merayakan penentuan nasib sendiri dan perlawanan masyarakat adat terhadap kolonialisme.
Pengibaran bendera Bintang Kejora pada tanggal 1 Desember memperingati enam puluh dua tahun sejak bendera tersebut pertama kali dikibarkan di Nugini Belanda, menandai dimulainya negara Papua Barat yang merdeka dengan bendera, lagu kebangsaan, dan stempel negaranya sendiri.
Namun, rasa kebebasan itu hanya berumur pendek. Tahun berikutnya, Indonesia menduduki Papua Barat untuk menggagalkan apa yang mereka kutuk sebagai negara boneka Belanda dan memasukkan wilayah tersebut ke dalam negara Indonesia yang baru merdeka.
Sejak saat itu, mereka tetap mempertahankan kendali atas wilayah tersebut, didukung oleh PBB, Amerika Serikat, dan Australia.
Pemerintahan Indonesia di wilayah ini ditandai dengan ekstraksi sumber daya alam secara besar-besaran seperti emas, tembaga dan kayu, penebangan hutan hujan untuk perkebunan kelapa sawit, program migrasi massal masyarakat Jawa ke Papua Barat, dan – menurut aktivis hak asasi manusia – berbagai macam pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat Papua Barat yang melanjutkan kampanye kemerdekaan.
Oleh karena itu, tanggal 1 Desember menjadi hari perayaan sekaligus hari berkabung.
Dalam lagu-lagu kami, kami para musisi mengekspresikan kehidupan sehari-hari, penderitaan, dan apa yang kami lihat. Kami menggunakan cerita-cerita itu. Kami menulis lagu tentang perjuangan. Perjuangannya ada pada kata dan ritme.
Generasi saya lahir dalam perjuangan. Kami tumbuh dengan mendengarkannya dalam kaset. Tujuan kami adalah untuk menyebarkan berita kampanye. Kami berharap dapat menyadarkan masyarakat akan perjuangan kami yang sedang berlangsung untuk mencapai kemerdekaan dan menggalang dukungan.
Selain memberikan argumen intelektual, berkomunikasi melalui musik juga dapat membuat penonton merasakan hal-hal yang berhubungan dengan kita: solidaritas, kemarahan, kegembiraan, dan semangat.
Kami melihat penonton menari bersama kami, melihat wajah mereka saat mereka merespons pesan-pesan kami, merasakan solidaritas yang semakin meningkat. Inilah alasan kami bermain.
Sebagai bentuk diplomasi budaya, musik adalah cara kita terhubung dengan masyarakat, mengomunikasikan kisah dan posisi politik kita, serta menghasilkan tindakan. Kami tidak hanya bermain untuk bersenang-senang — kami menjadikan musik sebagai kontribusi kami terhadap perjuangan yang lebih luas.
Kekuatan musik sebagai alat diplomasi berasal dari kemampuannya membuat orang merasakan sesuatu. Musisi Papua Barat berbicara tentang intensitas musik, kekuatannya untuk mempengaruhi diri mereka sendiri dan pendengarnya, namun tidak mungkin menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan musik tidak hanya dialami secara sadar, namun juga melibatkan tubuh dan seluruh indera.
Baca juga: KKB Papua Makin Sadis, Habisi 3 Pekerja Bangunan Sebelum Tembak Mati 4 Prajurit TNI di Nduga
Dalam ilmu-ilmu sosial, dimensi keterhubungan ini disebut afek. Afeksi berbeda dengan emosi, karena hal ini terjadi di dalam tubuh, sebelum otak menerjemahkan sensasi mentah menjadi emosi yang kemudian dapat kita bicarakan dengan kata-kata. Emosi dibentuk secara sosial dan budaya, perasaan kita dipengaruhi oleh ekspektasi sosial.
Di sisi lain, pengaruhnya bersifat mentah, intens, dan memberikan wawasan tentang seluruh tubuh. Memanfaatkan kekuatan musik untuk mempengaruhi memungkinkan musisi untuk terhubung dengan audiensnya dan memberi mereka hubungan langsung ke organ indera audiensnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Diplomat-Musik-Papua-Barat_01.jpg)