Berita Lembata

CRS dan Pemda Lembata Bahas Perubahan Iklim, Benediktus: Kita Sudah di Fase Pendidihan Global

Dalam forum itu, peserta menyadari fase iklim saat ini sudah berada di titik pendidihan global, bukan lagi sekadar pemanasan global (global warming

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/RICKO WAWO
IKLIM - Pembahasan mengenai masalah perubahan iklim dan dampak-dampaknya berlangsung alot saat Catholic Relief Services (CRS) dan pemerintah daerah Kabupaten Lembata serta para pemerhati masalah sosial bertemu dalam forum lokakarya di Hotel Olympic, Kota Lewoleba, Jumat, 13 Oktober 2023. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Pembahasan mengenai masalah perubahan iklim dan dampak-dampaknya berlangsung alot saat Catholic Relief Services (CRS) dan pemerintah daerah Kabupaten Lembata serta para pemerhati masalah sosial bertemu dalam forum lokakarya di Hotel Olympic, Kota Lewoleba, Jumat, 13 Oktober 2023.

Dalam forum itu, para peserta menyadari fase iklim saat ini sudah berada di titik pendidihan global, bukan lagi sekadar pemanasan global (global warming).

Hal ini diutarakan oleh Direktur LSM Barakat Benediktus Bedil mengutip apa yang disampaikan PBB mengenai kondisi iklim sekarang.

“PBB sudah menyebut kondisi sekarang sebagai pendidihan global, bukan lagi pemanasan global,” ungkap Benediktus.

Baca juga: Bank NTT Lewoleba Serahkan Tabungan Simpanan Pelajar kepada Pelajar Difabel SDK Atawuwur

Maka dari itu, dia juga meminta pemerintah daerah menyiapkan program-program mitigasi mengenai dampak dari pendidihan global dan bagaimana aksi-aksi lokal bisa dibuat yang nantinya berdampak secara global.

Kepala Kantor Kehutanan Kabupaten Lembata, Linus Lawe, menyinggung kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Lembata yang sudah tercatat ribuan kasus di sepanjang tahun ini. Menyambung hal ini, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Anton Leumara menyebutkan kalau keberpihakan Pemda Lembata pada penanggulangan bencana alam belum maksimal. Salah satu contohnya adalah anggaran untuk penanggulangan karhutla dan dampak kekeringan ekstrim.

Sebagai wakil rakyat yang duduk di DPRD Lembata, Anton juga mengusulkan supaya anggaran penanggulangan bencana semacam itu tidak dianggarkan pada pos penganggaran yang proses pengurusannya ribet.

Baca juga: Polres Lembata dan UPTD KPH Tanam Malapari, Wujud Nyata Hadapi Perubahan Iklim

Diskusi dalam lokakarya ini berujung pada penandatanganan berita acara rencana kerja tahunan program INCIDENT Tahun 2023-2024 hasil kolaborasi CRS bersama Pemda Lembata.

Program Manajer INCIDENT, Angel Patricia Christy Supit, mengatakan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan lembaga lainnya sangat penting dilakukan supaya dampaknya menjadi lebih besar.

Lokakarya rencana kerja tahunan tersebut merupakan salah satu wujud nyata dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) CRS dan Kementerian Sosial. Di Lembata, CRS yang bekerja sama dengan lembaga lokal LSM Barakat, sedang menjalankan program INCIDENT yang menyiapkan masyarakat untuk adaptasi perubahan iklim. Program ini didanai oleh USAID dan fokus pada tiga sektor utama yaitu pengurangan risiko bencana, pertanian dan ketahanan ekonomi rumah tangga.

“Kita bersama dinas pertanian menunjukkan kepada para petani untuk bercocok tanam dengan teknologi yang lebih tangguh dan cerdas iklim. Dan kita ada kelompok-kelompok untuk ketahanan ekonomi,” kata Angela.

Baca juga: Padma Indonesia Dukung Lembata Jadi Pulau Energi Melalui Program Mama Papa

INCIDENT merupakan singkatan dari Increasing people’s resilience through Climate Change Adaptation and Disaster Risk Reduction in Nusa Tenggara yang bermakna meningkatkan ketangguhan melalui adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana di Nusa Tenggara. 

Program tersebut akan dilaksanakan di 3 kabupaten di NTT bersama mitra lokal Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) di Kabupaten Flores Timur, bermitra dengan Lembaga Pengembangan Masyarakat Lembata (Barakat) di Kabupaten Lembata dan bermitra dengan Perkumpulan Relawan CIS Timor di Kabupaten Belu.  

Tujuan besar dari proyek INCIDENT adalah masyarakat rentan di NTT dan NTB mencapai resiliensi jangka panjang terhadap guncangan dan tekanan yang diakibatkan oleh perubahan iklim

Di kabupaten Lembata, proyek ini diimplementasikan di 5 desa di Kecamatan Nubatukan dan Nagawutung. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved