Selasa, 5 Mei 2026

Berita Malaka

Harga Beras Mahal hingga Konsumsi Pisang, Warga Malaka Bersyukur Bulog Gelar Pasar Murah

Meski begitu, mereka bersyukur karena Pemerintah Kabupaten Belu dan Bulog Atambua menggelar Pasar Murah di Betun.

Tayang:
Penulis: Novianus L.Berek | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/NOFRY LAKA
Masyarakat di Kabupaten Malaka rela antri beli beras medium merk SPHP di pasar murah Betun, Jumat 6 Oktober 2023. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Nofry Laka

POS-KUPANG.COM, BETUN - Harga beras yang melambung tinggi membuat tiga warga Desa Wederok, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka mengkonsumsi Pisang sebagai pengganti beras. Tiga warga Desa Wederok tersebut adalah Esi Bui, Eta Rika, dan Atri Bete. 

Meski begitu, mereka bersyukur karena Pemerintah Kabupaten Belu dan Bulog Atambua menggelar Pasar Murah di Betun.

"Untuk saat ini harga beras mahal yakni Rp 15.000 per kilogram yang mereka beli di kios-kios dalam kampung. Ini harga kontan/bayar tunai tapi kalau  bon maka bisa mencapai kisaran harga enam belas ribu lebih. Sehingga mendengar informasi kalau Pemerintah Kabupaten Malaka dan Bulog Atambua bekerja sama menggelar pasar murah di Betun pihaknya bersyukur bisa membeli beras dengan harga murah," ucap Ibu Esi Bui kepada POS-KUPANG.COM, Jumat 6 Oktober 2023 usai dirinya membeli beras medium merk SPHP Rp 11.500 per kilogram ini.

Baca juga: Aliansi Kontraktor Malaka Mengadu ke Kantor DPRD Malaka

Masing-masing dari kami membeli beras merk SPHP sebanyak empat plastik dalam satu kemasan berisi beras 5 kilogram. Sehingga masing-masing dari kami tiga orang tersebut wajib membawa beras 20 kilogram ke rumah.

Estimasi untuk beras 20 kilogram ini paling lama 1-4 hari sudah selesai dikomsumsi/makan. 

"Kalau sudah selesai konsumsi atau makan iya ada uang beli di kios tapi kalau tidak ada uang makan pisang sebagai pengganti beras," kata Ibu Esi Bui dengan percaya diri. 

Dikatakan, untuk membeli beras pihaknya menjual kembali pisang ke Pasar Beiabuk supaya setelah terjual pakai beli kembali beras untuk konsumsi/makan. 

"Dalam seminggu satu kali kegiatan jual pisang di Pasar Beiabuk Betun. Sekali jual sebanyak 20-40 sisir dengan harga Rp 5.000 per sisir. Kalau semua terjual maka pendapatannya mencapai  Rp 100.000- 200.000 per Minggu. Pendatapan ini pun tidak menentu kadangkala tidak semua pisang hasil terjual," ungkapnya. 

Sehingga dari pendatapan yang ada, kata Ibu Esi Bui, sebagian uang dipakai beli beras dan sebagian uang tabung untuk keperluan anak sekolah.

Baca juga: Disdukcapil Kabupaten Malaka Pastikan Tak Ada e-KTP Siluman

"Anak-anak saya tidak bisa ke sekolah perguruan tinggi karena faktor ekonomi. Tapi komitmen dia anaknya harus selesaikan studi di SMA - minimal anak saya punya ijazah SMA," sebut Esi Bui yang adalah seorang petani.

Ditanya tentang beasiswa Kartu Malaka Cerdas atau KMC dari Pemerintah Kabupaten Malaka ia tidak tahu menahu.

"Beasiswa KMC ini jangan sampai hanya diberikan kepada anak-anak yang kuliah saja atau dikasih juga untuk anak-anak SMA juga karena sejauh ini ia tidak tahu kalau ada beasiswa dari pemerintah daerah," tanyanya. 

Berbicara terkait pendidikan ini tentunya sangat jauh, yang dirasakan kami saat ini adalah ketidakmampuan untuk membeli beras

"Ini kondisi ril kami di masyarakat benar -benar susah. Susah mendapatkan beras murah untuk konsumsi/makan. Kita berharap agar pemerintah mencari solusi untuk mengatasi krisis pangan ini," tegas Ibu Esi Bui petani pisang itu.

Baca juga: Pemkab Malaka Kerja Sama dengan Bulog Atambua Gelar Pasar Murah

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved