Breaking News

Berita Bisnis

Pemerintah Indonesia Berencana Merger Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air

Maskapai penerbangan sekarang sedang mempelajari operasi mereka dan bagaimana hal ini dapat digabungkan ke dalam operasi gabungan.

|
Editor: Agustinus Sape
Kolase POS-KUPANG.COM
Pemerintah Indonesia berencana menggabung alias merger antara Garuda Indonesia, Citilink dan Pelita Air demi efisiensi dan penyederhanaan pelayanan. 

Siapa Pelita Air

Meskipun Garuda Indonesia dan Citilink lebih terkenal, divisi maskapai penerbangan raksasa minyak Pertamina hanya menampung 11 pesawat sederhana dari pangkalannya di Bandara Internasional Soekarno Hatta (CGK) Jakarta.

Jajaran pesawat tersebut mencakup tujuh Airbus A320-200, masing-masing satu ATR 72, ATR 42, dan Fokker 100. Pesawat ini juga memiliki ATR72 lain yang diparkir dan saat ini tidak beroperasi.

Layanan Beda Kelas Kok Digabung?

Pengamat penerbangan Alvin Lie mempertanyakan akan seperti apa fokus bisnis holding penerbangan ini jika ketiga maskapai yang berbeda kelas pelayanan ini digabungkan.

Pasalnya, masing-masing maskapai memiliki fokus bisnis di kelas yang berbeda. Garuda Indonesia merupakan maskapai full service, sedangkan Citilink dan Pelita Air merupakan maskapai berbiaya rendah atau Low Cost Carrier (LCC).

Maskapai penerbangan Citilink
Maskapai penerbangan Citilink (ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM)

Dengan adanya perbedaan kelas pelayanan tersebut, maka izin penerbangan juga berbeda termasuk pada penentuan tarif batas atas antara maskapai full service, medium service, dan LCC.

"Ini saya juga agak kesulitan memahami kalau itu nanti tiga perusahaan ini Garuda, Pelita, dan Citilink dijadikan satu apakah namanya nanti hanya tinggal satu Garuda saja atau Citilink saja atau Pelita saja?

Itu agak rancu ya karena pelayanan penerbangan ini kan ada kelas pelayanannya. Kan sangat aneh kalau Garuda kemudian juga jadi LCC misalnya," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa 22 Agustus 2023.

Perbandingaan dengan bisnis Lion Air Group dan Singapore Airlines

Selain itu, dari sisi konsumen juga menjadi rancu dalam memilih kelas penerbangan jika ketiga maskapai ini digabungkan.

"Apa yang dapat menjadi ekspektasinya (konsumen) kalau mereknya sama?" kata dia.

Bahkan, dia memperkirakan penggabungan ini akan membuat Garuda Indonesia kehilangan banyak pelanggan yang selama ini menikmati layanan premium eksklusif yang ditawarkan Garuda.

Alvin membandingkan dengan maskapai swasta Lion Air Group yang masing-masing maskapainya memiliki kelas pelayanan yang jelas.

Misalnya Lion Air dan Super Air Jet fokus menjadi maskapai LCC serta Wings Air fokus melayani penerbangan dengan pesawat baling-baling,

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved