Berita Lembata
Menjaga Eksistensi Leye di Meja Makan, Pangan Lokal Asli Kedang Lembata yang Nyaris Punah
Anastasia dengan sigap melayani satu per satu pembeli. Sementara, ibu-ibu lainnya sibuk menghidangkan kopi hitam dari leye yang dipesan pengunjung
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Eflin Rote
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Anastasia Ina (54) tampak antusias ketika puluhan orang menyerbu stand jualannya di pameran pangan lokal Festival Uyelewun di Desa Balauring, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Selasa, 15 Agustus 2023. Para pengunjung pameran hendak membeli cemilan berbahan dasar leye (jali-jali) yang sudah diolah menjadi bubuk kopi, sereal, kue kering dan makanan ringan lainnya.
Anastasia dengan sigap melayani satu per satu pembeli. Sementara, ibu-ibu lainnya sibuk menghidangkan kopi hitam dari leye yang dipesan para pengunjung. Lapak Mama Anastasia yang berasal dari Desa Hoelea 2 itu memang merupakan salah satu stand kuliner yang paling ramai dikunjungi pengunjung pameran. Orang-orang penasaran dengan olahan leye, pangan lokal khas masyarakat etnis Kedang yang kini sudah tidak ditemukan lagi di meja makan.
Ada tiga suku di desa Hoela, Kecamatan Omesuri yang masih mengkonsumsi leye sebagai makanan wajib yakni suku Leuhoe Tubar, Leuhoe Take dan Leuhoe Payong. Kaum perempuan atau istri dari tiga rumpun suku ini diwajibkan hanya mengkonsumsi leye seumur hidupnya. Mereka pantang makan nasi atau jagung.
Baca juga: Festival Uyelewun Jadi Ajang Promosi Keunikan Wisata di Kabupaten Lembata
“Ubi, pisang, mereka boleh makan, tetapi nasi atau jagung tidak boleh,” kata Anastasia.
Tradisi makan leye di tiga suku ini membuat eksistensi leye di tengah masyarakat Kedang masih terjaga meskipun, Anastasia mengaku, bahwa minat anak muda untuk mengkonsumsi leye pada umumnya sudah menurun drastis sekarang.
Abdul Gafur Sarabiti, salah satu pengunjung pameran, mengapresiasi ibu-ibu yang telah membuat leye makin dikenal melalui olahan-olahan pangannya yang beragam. Menurut Abdul yang juga adalah penggiat budaya Kemenristekdikbud itu, olahan pangan berbahan dasar leye yang beragam bisa menghidupkan lagi memori kolektif orang akan keragaman pangan yang ada di Lembata khususnya di Kedang.
Baca juga: DCS Segera Ditetapkan, KPU Lembata Sebut Belum Tentu Semua Caleg Lolos
“Eksistensi leye perlu dijaga dan juga pangan lokal lainnya seperti jagung dan ubi juga harus terus diolah karena kita tidak bisa terlalu bergantung pada beras dan terigu yang merupakan pangan yang diimpor dari luar,” kata Abdul.
Dia prihatin karena leye sudah tidak ditemukan lagi dalam hidangan di meja makan masyarakat pada umumnya.
Ben Assan, peneliti pangan di Lembata, mengatakan dalam konteks kedaulatan pangan, leye terlebih dahulu harus diakui baru kemudian dilindungi. Leye harus diakui semua pihak sebagai pangan yang cocok untuk ditanam dan dikonsumsi masyarakat.
“Baru kita bicara tentang urusan melindunginya melalui intervensi kebijakan pemerintah daerah,” ungkapnya. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lain di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.