Berita NTT

IKABI NTT dan IDI NTT Gelar Seminar Penanganan Kasus-kasus Gawat Darurat di Faskes Primer

Selain itu, kata dr.Alders, pada malam hari pertama dilanjutkan dengan galla diner bersama semua dokter bedah seluruh NTT untuk membina keakraban.

POS-KUPANG.COM/HO
SEMINAR- Ikatan Ahli Bedah Indonesia atau disebut IKABI NTT menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT menggelar seminar penanganan kasus-kasus gawat darurat di fasilitas kesehatan primar di Hotel Kristal 30 Juni - 2 Juli 2023. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Ikatan Ahli Bedah Indonesia atau disebut IKABI NTT menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT menggelar seminar penanganan kasus-kasus gawat darurat di fasilitas kesehatan (faskes) primer.

Kegiatan seminar ini berlangsung selama tiga hari 30 Juni-2 Juli 2023 di Hotel Kristal.

Dalam kesempatan ini, dr. Alders AK Nitbani, SpB selaku Ketua Panitia kegiatan menyampaikan, kegiatan seminar tersebut merupakan kegiatan yang kedua diselenggarakan di NTT.

Baca juga: Ketua IDI NTT Akui Kebutuhan Dokter Spesialis Masih Minim

"Ini kali kedua kita adakah kegiatan seperti ini di NTT. Kegiatan pertamanya pas pembentukan awal, karena setelah itu masalah covid-19, sehingga sekarang ini baru kita adakan lagi yang kedua sekaligus dengan pembentukan kepengurusan yang baru," ungkap dr. Alders, Sabtu 1 Juli 2023.

dr. Alders mengatakan, dalam kegiatan hari pertama dimulai dengan kegiatan live demo laparascopy dan endoscopy atau orang awam biasa mengenalnya dengan sebutan bedah dengan kamera yang dikuti oleh peserta yang cukup banyak dan kegiatannya berjalan lancar.

"Jadi banyak kasus yang biasanya kita hanya ditemukan di buku. Tetapi, ternyata setelah digali bisa dibawakan dengan baik dan sangat bagus. Ini menunjukkan minat yang cukup baik dari kawan-kawan  dokter umum untuk memajukan diri agar tidak ketinggalan secara Ilmu pengetahuan," tuturnya.

Baca juga: IDI NTT Minta Red MEDEVAC Tetap Kedepankan Kemanusiaan

Selain itu, kata dr.Alders, pada malam hari pertama dilanjutkan dengan galla diner bersama semua dokter bedah seluruh NTT untuk membina keakraban.

Lebih lanjut, dr. Alders menyampaikan, untuk hari kedua yaitu simposium dari pagi sampai malam. Dimana, materinya lumayan banyak, sehingga dibagi menjadi 8 bagian yang masing-masing terdiri dari bedah saraf, bedah neurologi, bedah tumor, bedah anak, bedah faskulen, bedah tulang, bedah plastic, dan bedah saluran cerna. Sementara untu peserta yang datang terdapat 197orang yang terdaftar, dan yang belum terdaftar tidak tahu berapa banyak.

Baca juga: Ketua IDI NTT: Pemprov NTT Masih Butuh Dokter Spesialis dan Peralatan Medis

"Ini sangat luar biasa dan kami sangat senang. Banyak juga sponsor yang mengambil bagian dalam acara ini, sehingga menambah acara lebih meriah lagi. Besok hari terakhir yaitu workshop 8 ahli bedah menangani pelayanan emergency daerah terpencil dengan sumber daya yang terbatas, Jadi prinsip prinsip penanganan safe live atau menolong jiwa itu yang lebih utama," ungkapnya.

dr. Alders menyebutkan, untuk jumlah dokter bedah di NTT orang 42 orang, ditambah dengan bedah konsultan sekitar 10 orang. Sehingga secara keseluruhan sekitar 52 hingga 60 orang. Dimana, setiap Kabupaten yang ada di NTT sudah memiliki dokter bedah minimal satu orang dokter,

Baca juga: Capaian Vaksinasi di NTT Baru 63 Persen, Warga yang Belum Divaksin Diimbau Datangi Faskes

"Kita di NTT lebih banyak memiliki puskesmas yang berada di tingkat Kecamatan, yang mana tidak ada dokter bedahnya. Sementara dokter-dokter bedah pada umumnya ada di Kabupaten. Nah, disitulah dokter umum dipaksa melayani tanpa meninggalkan teori yang benar, tanpa meninggalkan prosedur yang benar, mampu membuat suatu keputusan yang baik sampai pasien itu sampai di Kabupaten dan ditangani lebih definitive," ungkap dr. Alders.

Sehingga, tambahnya, dari kegiatan ini, tujuannya adalah untuk membina ilmu pengetahuan terkini untuk memacu teman-teman dokter umum agar tidak tertinggal meskipun berada di Daerah terpencil, tetapi selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan secara berkala.

"Sehingga dokter umum maupun dokter spesialis yang tidak sempat seminar ke luar Kota, kita adakan kegiatan seminar ini di NTT," tutupnya.

Baca juga: Faskes Rusak Begini Tanggapan Kadis Kesehatan Kabupaten Kupang

Sementara itu, Ketua IDI NTT, dr Stef Soka, Sp. B mengatakan, seorang dokter harus selalu mengupdate keilmuan. Sehingga dengan diselenggarakan kegiatan seminar tersebut oleh dokter bedah di Wilayah NTT, tentunya sangat mendukung program kesehatan khususnya pelayanan kepada masyarakat apalagi sesuai dengan temanya dalam konteks pelayanan emergenzy di Daerah terpencil, di daerah yang pinggiran.

"Kita tahu bahwa NTT ini adalah Provinsi Kepulauan yang terdiri dari 22 Kabupaten/Kota. Dimana 80 persen masyarakatnya berada di Pedesaan. Tentunya dalam kondisi gawat darurat ini akan semakin komplek penanganannya karena dihadapkan dengan situasi Daerah terpencil dengan keterbatasan fasilitas kesehatan, keterbatasan tenaga kesehatan (Nakes), kondisi geografis yang tidak memungkinkan proses rujukan, itu menambah konteksitas dari penambah darurat," tuturnya.


dr. Stef Soka mengaku bersyukur dengan digelarnya seminar tersebut. Dimana, IDI juga diberikan kesempatan untuk membawa materi tentang moral dan etika khususnya penanganan kasus gawat darurat di Desa terpencil.

"Ini penting untuk memberikan dorongan, kenyamanan, keamanan bagi teman-teman sejawat khususnya di Daerah terpencil dalam menangani kasus-kasus gawat darurat khususnya di Daerah terpencil. Saya yakin bahwa dengan pergantian kepengurusan yang baru ini diharapkan persatuan ahli bedah Indonesia di Wilayah NTT bisa lebih dinamis, ke depannya lebih maju untuk membantu proses pelayanan masyarakat khususnya di bidang bedah," tutupnya. (cr20)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved