Berita NTT

NTT Belum Punya Perusahaan Pengelolaan Limbah B3

kita alokasikan anggaran ke sana karena kita sendiri belum mempunyai alat untuk mengurangi limbah.

Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/VALDO
PODCAST - Kepala Balai POM di Kupang, Tamran Ismail, S.Si., M.P., Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya Balai POM di Kupang, Frama El Lefiyana Pollo, S.Si., M.Sc., Apt, berapa host jurnalis Pos Kupang, Ella Uzurasi.   

E : Sejauh ini, isu - isu yang terkait dengan pengelolaan limbah B3 seperti apa? 

T : Kita di NTT khususnya, itu masih kesulitan untuk bisa memusnahkan limbah - limbah B3 tadi karena yang pertama, terbatasnya perusahaan pengolahan limbah B3 yang sudah mempunyai izin. Jadi se-Indonesia itu baru ada 12 perusahaan di Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. 

E : Jadi di NTT belum ada ya? 

T : NTT belum ada. Jadi kami di Balai POM juga banyan limbah bahan kimia termasuk B3 karena di situ kita ada menguji logam berat, artinya ada limbah B3 di situ termasuk logam berat.

Nah itu tidak bisa dibuang sembarang. Itu biasanya kita tampung dulu nanti kita sub kontrakan dengan pihak ketiga jadi ada yang biasa jasa pengangkut limbah dari Kupang kirim ke Surabaya atau di Bogor nanti baru pengusahanya di sana dan kita alokasikan anggaran ke sana karena kita sendiri belum mempunyai alat untuk mengurangi limbah. Baru ada 12 se-Indonesia. 

Kemudian, jumlah perusahaan yang mempunyai izin masih kurang banyak dibandingkan dengan jumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia.

Misalnya jumlah rumah sakit ada 2.893, Puskesmas 9.993, klinik ada berapa ribu, toko obat ada berapa ribu lagi, belum apotek dan lain sebagainya.

Nah itu fasilitasnya sangat banyak sedangkan fasilitas untuk pengolahan limbahnya itu sangat sedikit sehingga potensinya akan sangat besar kepada lingkungan yang menjadi tempat untuk pembuangan. 

Kemudian, timbunan limbah B3 yang dihasilkan dari rumah sakit dan Puskesmas sebesar 296,86 ton per hari, itu berdasarkan sensus dari Kemenkes pada tahun 2019.

Sedangkan kapasitas pengolahan yang dimiliki oleh pihak ketiga 12 perusahaan tadi, hanya bisa 151,6 ton per hari sehingga ada kekurangan hampir separuh yang tidak bisa diolah pada hari yang sama sedangkan pada hari besoknya sudah ada limbah yang baru lagi.

Ini akan menyebabkan ada limbah yang tidak tertangani dan bisa beresiko terhadap lingkungan sekitar nantinya.

E : Seperti apa dampak limbah medis terhadap kesehatan lingkungan dan manusia? 

T : Limbah medis tadi yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif bagi baik lingkungan maupun masyarakat atau manusia itu sendiri. Kita mungkin contohkan saja yang paling umum itu adalah jika di rumah sakit, kemungkinan kontaminasi itu akan sangat besar.

Nah di sana yang paling besar peluang untuk terjadi adalah infeksi nosocomial yaitu infeksi yang berasal dari lingkungan ke manusia, bisa pasien, bisa perawat, bisa dokter yang ada di sana.

Itu biasanya terjadi, potensinya itu sangat besar terutama penyakit - penyakit infeksi seperti virus Hepatitis B, Hepatitis C, HIV dan bakteri - bakteri patogen lainnya. 

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved