Berita Alor
Suara Perempuan Alor Bahas Kendala Pengobatan HIV/AIDS di Kabupaten Alor
Ida Farida Adi Bungsu Bala, selaku narasumber dan juga Pengelola Program HIV/AIDS P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Alor
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Else Nago
POS-KUPANG.COM, KALABAHI - Suara Perempuan Alor ( Super ) mengadakan kegiatan bincang-bincang santai, yang membahas tentang kendala pengobatan HIV/AIDS di Kabupaten Alor.
Ida Farida Adi Bungsu Bala, selaku narasumber dan juga Pengelola Program HIV/AIDS P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Alor, mengatakan ada dua kendala utama yang sering ditemui di lapangan.
"Kendala pertama adalah diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS ( ODHA ), kedua adalah jarak. Kita di Kabupaten Alor ini pengobatan untuk pasien ODHA hanya tersedia di RSUD Kalabahi. Sehingga pasien yang tempat tinggalnya jauh, harus membutuhkan waktu dan biaya untuk menjangkau faskes yang menyediakan obat ARV," ujarnya, Minggu 28 April 2023 malam di sekretariat CD Bethesda Alor.
Baca juga: Dinobatkan Sebagai Pasar Termegah di NTT, Ini Fasilitas Pasar Kadelang Kalabahi Alor
Ida juga memaparkan bahwa di tahun 2022 sebanyak 80 orang terdeteksi HIV/AIDS dan 11 orang meninggal di Kabupaten Alor.
Data per kecamatan tahun 2022 di Kabupaten Alor, yakni :
Kecamatan Teluk Mutiara 36 orang
Kecamatan Alor Tengah Utara 19 orang
Kecamatan Abad 7 orang
Kecamatan Pantar 5 orang
Kecamatan Pantar Timur 2 orang
Kecamatan Alor Selatan 2 orang
Kecamatan Alor Barat Laut 2 orang
Kecamatan Alor Timur Laut 2 orang
Kecamatan Pantar Barat 1 orang
Kecamatan Pureman 1 orang
Kecamatan Kabola 1 orang
Kecamatan Pulau Pura 1 orang
Kecamatan Mataru 1 orang
Baca juga: BREAKING NEWS: Tuntut Ganti Rugi, Pedagang Ikan dan Aktivis Lintas OKP di Alor Gelar Aksi Demo
"Dari data di tahun 2022, tren kasus yang paling banyak adalah perempuan dan di dominasi oleh ibu rumah tangga, dan berusia produktif mulai dari 18-49 tahun," kata Ida.
Mengatasi kendala pengobatan tersebut, Ida menuturkan bahwa pihaknya telah melatih 9 puskesmas yang akan digunakan sebagai faskes rujukan pengobatan, bagi penderita HIV/AIDS.
"Untuk mencegah pasien putus obat, sementara ini saya berusaha untuk 9 puskesmas terdekat dalam kota saya beri pelatihan namanya Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) agar Puskesmas tersebut bisa pengadaan obat dan reagen sendiri, sehingga mengakomodir pasien yang datang dari wilayah mereka agar tidak perlu jauh-jauh ke rumah sakit," tutur Ida.
Baca juga: Musnahkan Jualan Pedagang Ikan, Begini Penjelasan Satpol PP Alor
Untuk melawan diskriminasi di masyarakat, Ida menyampaikan bahwa dirinya kerap kali mengadakan sosialisasi, terutama di tempat-tempat yang beresiko seperti tempat lokalisasi. Dinkes Kabupaten bekerjasama dengan RSUD Kalabahi selalu mengadakan pemeriksaan HIV/AIDS secara rutin di tempat tersebut.
Ida berharap, dengan adanya bincang-bincang tentang HIV/AIDS semakin membuka pikiran masyarakat untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap penderita, menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan terjadinya HIV/AIDS, mencegah penularan, dan memberikan edukasi tentang pengobatan HIV/AIDS.
"HIV/AIDS ini bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kesehatan, tetapi kita semua ikut andil dalam upaya pencegahan dan penularan. Kita juga bisa memberikan edukasi untuk orang lain," pungkasnya.
Selain menjelaskan kasus, narasumber juga memaparkan secara umum penyakit HIV/AIDS, penularan, pencegahan, dan pengobatan.
Pantauan POS-KUPANG.COM, peserta aktif berdiskusi dan bertanya jawab. Peserta meminta agar materi HIV/AIDS bisa disosialisasikan secara masif di kalangan muda, terutama di sekolah dan perguruan tinggi. (cr.19)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.