Berita Kota Kupang
BPBD Akan Distribusi Air Bersih Bagi Warga Kota Kupang Bila Kekeringan Tiba
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan mendistribusi air bersih bagi warga Kota Kupang bila musim kekeringan tiba.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan mendistribusi air bersih bagi warga Kota Kupang bila musim kekeringan tiba.
BPBD menanggapi peringatan yang dikeluarkan BMKG perihal ancaman kekeringan yang melanda berbagai daerah di Indonesia, termaksuk NTT.
"Kalau sampai urusan teknis seperti (mitigasi) itu, kami hanya melihat dan mengikuti informasi yang disampaikan BMKG. Kalau misalkan ada potensi kekeringan, ada kemarau panjang, kami BPBD akan membantu masyarakat lewat distribusi air bersih" kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Ricko Umar, Rabu 22 Februari 2023.
Dia menyebut pihaknya terus memantau perkembangan yang disampaikan oleh BMKG. Adapun informasi dari BMKG selalu disampaikan BPBD ke masyarakat.
Baca juga: BPBD Kota Kupang Siapkan Masa Pasca Bencana Setelah Seroja
Untuk distribusi air bersih, menurutnya, BPBD menggunakan pola seperti tahun-tahun sebelumnya. Penyaluran air bersih dilakukan di 51 kelurahan dan berada di 400 lebih titik distribusi.
Tahun 2021 warga Kota Kupang hanya terdampak akibat kemarau panjang sebanyak 5.656 kepala keluarga, yang bila dijumlahkan dengan asumsi satu keluarga lima orang maka terdapat 28.280 jiwa yang membutuhkan air.
Dengan jumlah jiwa yang maka dibutuhkan 560 mobil berkapasitas 6.000 liter dengan total keseluruhan air ada 3 juta lebih liter air bersih yang harus disalurkan ke masyarakat Kota Kupang.
"Ini data tahun 2021, data tahun 2022 masih sementara dirampungkan. Tapi jumlahnya untuk tahun 2022 ada 400 tangki air karena waktu itu distribusi agak mepet ke hari raya Natal," jelas dia.
Targetnya, tahun ini BPBD akan tetap menggunakan data yang sama. Karena data ini juga melihat kepemilikan tandon air yang dimiliki masyarakat. Kalau pun ada penambahan, diharapkan pihak Kelurahan dan Kecamatan bisa menginformasikan.
Ricko mengaku untuk program ini menggunakan anggaran sebesar Rp 13 juta yang jika dihitung, bisa membayar 450 tangki air bersih. Sisi lain, BPBD juga akan melihat perkembangan untuk pengusulan tambahan anggaran di perubahan APBD tahun 2023.
BPBD sendiri memiliki 4 mobil tangki air yang siap pakai. Biasanya jika ada penyaluran air bersih, BPBD Kota Kupang meminta kerja sama dengan Biro Umum dan mitra BPBD untuk membantu pendistribusian.
Sisi lain, empat mobil ini diakui Ricko sebenarnya bisa melayani keseluruhan air bersih bagi warga. Namun, hal itu harus dilakukan dengan sistem kerja diluar waktu kerja guna lebih optimal dan sesuai target waktu.
Menjadi Kendala
Ricko menyebut BPBD Kota Kupang saat ini mengalami kendala karena minimnya tenaga lapangan seperti Pegawai Tidak Tetap (PTT). Kebijakan untuk merumahkan PTT memberi dampak dalam pelayanan.
"Sekarang yang menjadi soal itu, terus terang untuk BPBD, selama ini kegiatan lapangan itu melibatkan tenaga PTT. Mereka ini untuk sementara di rumahkan," kata dia.
Dari total 20 orang PTT, saat ini hanya ada dua orang yang rela berkantor seperti biasa. Pihaknya tidak bisa berbuat banyak atas kebijakan tersebut.
Sebelumnya, PDAM Kota Kupang juga mulai menyiasati pengelolaan air untuk menghadapi kekeringan.
Baca juga: BPBD Kota Kupang Catat Satu Kerusakan Saat Cuaca Ekstrem
Direktur Utama ( Dirut) PDAM Kota Kupang Daniel Frederik Maro, Selasa 21 Februari 2023 menyebut dari visinya ketika menjadi Dirut adalah menjadikan pengelolaan air bersih di Kota Kupang secara berkelanjutan.
Artinya, penggunaan air di Kota Kupang tidak hanya dimanfaatkan tetapi juga bisa dikelola dan dikembalikan ke tanah sebagai sumbernya. Hal itu agar ketersediaan air selalu ada.
"Jadi konsepnya yang saya rubah. Saya mau kembangkan disini. Seolah kita kelola ini air hanya dipakai untuk minum saja, tapi kita bagaimana kita mengembalikan air itu ke tanah supaya dia bisa bermanfaat selanjutnya," kata dia.
Dengan begitu maka, persoalan kekeringan bisa teratasi. Untuk itu perlindungan terhadap sumber mata air atau konservasi mata air juga sangat diperlukan.
Baca juga: BPBD NTT Minta Pemerintah Kabupaten dan Kota Perlu Adakan Kajian Risiko Bencana
Menurut dia, pihaknya juga fokus untuk menata sumber mata air seperti di mata air Sagu. Ia optimis jika ini dilakukan maka masyarakat Kota Kupang bisa tercukupi kebutuhan air bersih saat musim kekeringan tiba.
Di samping itu, bisa saja lewat kebijakan dari Pemerintah Kota mengarahkan masyarakat untuk memanen air hujan.
"Kalau di sekolah-sekolah, semua kita serentak bergerak untuk memanen air, itu luar biasa. Itu nilai tambah untuk ketersediaan air di Kota Kupang," sebut dia.
PDAM, kata dia, berharap dengan melakukan konservasi sumber mata air maka debit air bisa terjaga sehingga adanya kecukupan air bagi masyarakat Kota Kupang.
Musim Kemarau Tahun Ini
Dikutip keterangan tertulis pada 27 Januari 2023, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut musim kemarau 2023 disebut akan lebih kering ketimbang tahun-tahun sebelumnya.
Ia mengatakan, kondisi kemarau yang lebih kering ini berbeda dengan tiga tahun sebelumnya, yaitu 2020-2022. Sebab, pada tahun-tahun itu intensitas hujan cukup tinggi.
Ia menjelaskan, kondisi kemarau yang lebih kering dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya mengakibatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan semakin mudah terjadi.
Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini sebagai bentuk antisipasi.
"Kalau tiga tahun terakhir ini saat musim kemarau masih sering terjadi hujan, maka di tahun ini (2023), intensitas hujan akan jauh menurun," kata dia.
Menurutnya, kewaspadaan harus lebih ditingkatkan. Terutama di daerah-daerah yang masuk ke dalam kategori rawan Kahutla, contohnya seperti di Sumatera dan Kalimantan.
Berdasarkan pemantauan terbaru BMKG, ia mengungkap, saat ini intensitas La Nina terus melemah. Hal itu terlihat dari indeks El-Nino Southern Osciliation (ENSO) di 10 hari pertama Januari 2023.
El Nino dan La Nina merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. Ketika El Nino berlangsung, musim kemarau menjadi sangat kering serta permulaan musim hujan yang terlambat. Sedangkan ketika La Nina, musim penghujan akan tiba lebih awal dari biasanya.
Baca juga: NTT Waspada Kekeringan! BMKG Sebut Musim Kemarau 2023 Lebih Kering
La Nina juga menyebabkan hujan tetap terjadi saat musim kemarau. BMKG memprediksi kondisi tersebut akan terus berlangsung hingga akhirnya indeks menjadi netral pada Maret 2023.
"Berdasarkan catatan sejarah masa lalu, El Nino kategori lemah yang terjadi setelah pertengahan tahun umumnya berlangsung dengan durasi yang pendek," imbuhnya.
Pada bulan Maret hingga Mei 2023, beberapa wilayah di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara akan mengalami periode transisi atau peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau.
Dari periode peralihan musim ini, kata dia, pemerintah daerah dan masyarakat perlu mewaspadai kemunculan fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin puting beliung, petir, dan angin kencang.
Baca juga: BMKG Ingatkan Masyarakat Waspada Bencana Hidrometeorologi Imbas Hujan di NTT
"Kewaspadaan yang lebih tinggi perlu dilakukan untuk mengantisipasi musim kemarau yang diprediksikan lebih kering atau dengan jumlah curah hujan yang lebih rendah dibandingkan dengan 3 tahun belakangan karena kondisi La Nina yang telah netral atau bahkan berubah menjadi El Nino lemah," kata Dwikorita.
Kepala BMKG itu mengatakan, hingga enam bulan ke depan, BMKG memprediksi bahwa curah hujan bulanan akan didominasi kategori normal.
Namun, secara volume, curah hujan bulanan tahun 2023 relatif menurun dibandingkan dengan curah hujan bulanan selama tiga tahun terakhir.
Curah hujan bulanan kategori di atas normal berpeluang terjadi di Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara pada Februari dan Maret 2023.
Sementara itu, di Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Maluku dan Maluku Utara akan terjadi pada Februari 2023. Lalu, di Papua bagian tengah dan selatan akan terjadi pada Juni 2023.
Sedangkan curah hujan kategori di bawah normal berpeluang terjadi di sebagian Sumatera bagian tengah, sebagian Kalimantan bagian tengah, sebagian Sulawesi bagian tengah dan sebagian kecil Papua pada Februari hingga Maret 2023, dan sebagian besar Sumatera dan Jawa pada Mei dan Juni 2023. (fan)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.