Senin, 25 Mei 2026

Opini

Opini Arnoldus Wea: Reba, Po Gege dan Milenial

Tiap kampung adat merayakan Reba di waktu berbeda. Di Maghilewa, Watu, dan Jere, Pesta Reba dirayakan mulai tanggal 27-29 Desember.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO-ARNOLDUS WEO
Arnoldus Wea, penulis opini Reba, Po Gege dan Milenial. 

Semua turunan harus sekolah. Ini bukan tingginya gelar, tetapi proses pembelajaran yang memungkinkan seseorang memiliki keterampilan untuk menjalani hidupnya masing-masing.

Baca juga: Opini: Sungguhkah Kampus Harus Steril dari Politik

Ketiga, persaudaraan yang kuat dan cinta damai. Hampir tak pernah terjadi konflik dalam keluarga. Para pendahulu saling mendukung terutama dalam situasi sulit seperti kelaparan.

Semangat ini harus diwariskan oleh yang muda. Tali silaturahmi harus dijaga kemanapun kami pergi dan bekerja.

Keempat, memberi diri pada masyarakat ketika dibutuhkan. Kontribusi sosial bisa dalam tenaga, pikiran, sumbangan lain. Selain itu, yang muda tidak boleh menjadi sumber konflik sosial, tetapi penjaga kedamaian komunitas.

Kelima, mae naka go ngata (jangan mencuri). Seperti para pendahulu, hidup harus berakar dari kerja keras. Tidak mengambil milik orang lain atau hak orang lain hanya agar kelihatan hebat. Dalam konteks kontemporer, frasa ini juga berarti jangan mencuri harta dan benda orang lain.

Singkatnya, Reba harus memiliki fungsi pembelajaran bagi milenial. Hal ini bisa dilakukan dalam pertemuan rumah adat.

Dengan cara ini, kenangan yang muda tentang Reba, bukan hanya soal meghe, aroma daging, O uwi dan senyuman gadis-gadis cantik dalam balutan kain tenun.

Mereka harus pulang dengan mengenang ‘family spirit’ yang menuntun mereka di rantau saat go ate nee go magha da kio kao (galau berat). (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved