Cuaca Ekstrem

Bibit Siklon Tropis 95W Berpotensi Terjadi Sepekan Kedepan, Begini Dampaknya di NTT 

Bibit siklon diperkirakan tumbuh di Samudra Pasifik sebelah Utara Papua Barat, tepatnya di sekitar 8.8°LU 130.9°BT.

Editor: maria anitoda
Dok.Tribun
ANGIN KENCANG - Ilustrasi angin kencang melanda salah satu wilayah. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Bibit siklon tropis 95W tumbuh dalam sepekan kedepan di wilayah Indonesia. Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu provinsi yang terdampak. 

Bibit siklon diperkirakan tumbuh di Samudra Pasifik sebelah Utara Papua Barat, tepatnya di sekitar 8.8°LU 130.9°BT, dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan terendah 1008 mb. 

"Potensi sistem untuk tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam kedepan berada dalam kategori rendah," kata Kepala Stasiun Meteorologi Kupang, Agung Sudiono Abadi di Kupang, Selasa 27 Desember 2022 malam. 

Ia menjelaskan BMKG telah mengeluarkan rilis potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi dalam sepekan hingga tanggal 01 Januari 2023. 

Baca juga: Cuaca Ekstrem, Pemkot Kupang Imbau Warga Lakukan Mitigasi Hadapi Musim Hujan

Informasi rilis tersebut berkaitan dengan adanya signifikansi dinamika atmosfer yang dapat meningkatkan potensi cuaca ekstrem selama periode Nataru 2022/2023.

Menurut Agung, dampak adanya seruakan dingin dari Asia yang disertai CENS, dapat berdampak secara tidak langsung pada peningkatan curah hujan dan kecepatan angin disekitar wilayah Indonesia bagian selatan ekuator.

Adanya indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah Australia yang dapat memicu terbentuknya pola pumpunan dan perlambatan angin di sekitar wilayah Indonesia bagian selatan ekuator. 

Disamping itu, dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan dan angin kencang di sekitar wilayah Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara, serta berdampak pada peningkatan gelombang tinggi di perairan Indonesia.

Baca juga: Cuaca Maritim Terkini, BMKG: Waspada Gelombang Tinggi Hingga 6 Meter di Perairan NTT 7 Hari Kedepan

Berdasarkan citra satelit Himawari-8, 6 jam terakhir menunjukkan adanya aktivitas konvektif yang signifikan terutama di sebelah utara sistem. 

Model prediksi numerik menunjukkan bahwa sistem ini bergerak ke arah barat-barat laut menjauhi wilayah Indonesia. 

"Aktifitas Madden Julian Oscillation (MJO) disertai fenomena Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial, masih menunjukkan kondisi yang signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan dan potensi cuaca ekstrem dalam sepekan kedepan di wilayah Indonesia," ujarnya. 

Berdasarkan itu, Agung menyebut, beberapa wilayah perlu siaga yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, Papua Barat.

Baca juga: 1 Januari 2023 Indonesia Tertutup Cuaca Ekstrem, Jabodetabek Diancam Badai Dahsyat

Sementara potensi hujan dengan intensitas signifikan selama periode tanggal 27 Desember 2022 - 02 Januari 2023 perlu diwaspadai dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat, dapat terjadi di Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT. 

Potensi Gelombang Laut 

Sementara itu untuk potensi gelombang tinggi di wilayah perairan Indonesia pada periode tanggal 27 Desember 2022 - 03 Januari 2023 yang perlu diwaspadai. 

Adapun wilayah dengan kategori tinggi gelombang di atas 6 meter yakni Laut Natuna Utara dan Samudra Hindia selatan NTT.

Sedangkan tinggi gelombang 4-6 meter terjadi di Samudra Hindia selatan Banten, Samudra Hindia selatan Jawa Barat, Samudra Hindia selatan Jawa Tengah, Samudra Hindia selatan Jawa Timur, Samudra Hindia selatan Bali.

Selanjutnya di Samudra Hindia selatan NTB, Perairan P. Sumba, Perairan Kupang – Pulau. Rote, Perairan Pulau. Flores, Perairan Kepulauan. Anambas – Kepulauan. Natuna, Laut Sumbawa, Selat Makassar bagian selatan, Laut Flores, Laut Banda, Laut Arafuru.
 
NTT juga akan mengalami potensi banjir rob atau Pesisir pada tanggal 22 - 28 Desember 2022.

BMKG mengimbau, pihak terkait agar memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.

Lalu, melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan pohon yang tidak terkontrol serta melakukan program penghijauan secara lebih masif.

Kemudian, masyarakat pengguna transportasi angkutan penyeberangan perlu meningkatkan kewaspadaan sebagai salah satu upaya adaptasi dan mitigasi kondisi tersebut.

Selain itu, melakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang.

Berikutnya, para pihak diminta menggencarkan sosialisasi, edukasi, dan literasi secara lebih masif untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian Pemerintah Daerah, masyarakat serta pihak terkait dalam pencegahan/pengurangan risiko bencana hidrometeorologi.

"Lebih mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar pihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometrorologi. Terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG, secara lebih rinci dan detail untuk tiap kecamatan di seluruh wilayah Indonesia," ujar Agung. (Fan)

BACA BERITA TERBARU POS-KUPANG.COM DI GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved