Selasa, 7 April 2026

Berita NTT

Karya Drama Thriller "Mama Martha" Untuk Semua Ibu

Film berjudul "Mama Martha Wanita di Ladang Gula" ini diproduksi Langit Terang Sinema dan mengambil lokasi utama di Batu Termanu

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
KONFERENSI PERS - Keterangan pers dari produser hingga pemain film Mama Martha, kepada wartawan di Kota Kupang. Rabu 21 Desember 2022. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sebuah karya drama thriller yang dibuat, bertujuan  dipersembahkan bagi semua ibu. 

Jeremias Nyangoen yang menulis naskah film Denias, Senandung di Atas Awan dan Rumah Merah Putih kini menjajal sebuah kisah nyata di Rote Ndao ke dalam film bergenre drama thriller.

Film berjudul "Mama Martha Wanita di Ladang Gula" ini diproduksi Langit Terang Sinema dan mengambil lokasi utama di Batu Termanu, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao.

Baca juga: Kuliner Khas NTT, Udara Panas di Kota Kupang? Pepaya Timor Solusinya, Aktif vs Kanker Usus

Jeremias dalam konferensi pers di Neo Aston Kupang, Rabu 21 Desember 2022, ingin mempersembahkan film yang telah rampung ini untuk ibunya dan terlebih untuk perempuan seluruhnya.

Film ini disebutnya akan menampilkan adegan-adegan kekerasan, berdarah, juga drama yang menggugah agar penonton bisa memetik makna yang tersemat di dalamnya. Tidak ada kejahatan atau kekerasan seperti apapun terhadap perempuan di dunia ini yang dapat dibenarkan.

Begitu juga yang dialami para perempuan di NTT. Menurutnya peran perempuan di NTT sangat kompleks apalagi dihadapkan dengan berbagai diskriminatif, kekerasan, tekanan sosial, juga berbagai faktor lainnya.

"Ada yang tanya saya kenapa bikinnya di Rote bukan di Jawa. Saya jawab sederhana, 'kenapa tidak di Rote dan harus di Jawa?'," sebutnya. 

Mama Martha diyakininya akan menjadi kaca mata yang berbeda dalam melihat nilai-nilai hidup seorang perempuan pada tataran sosial, juga melihat bagaimana keluarga perempuan sebagai korban dapat berjuang keluar dari berbagai kemalangan.

Kisah Mama Martha ini pun, kata dia, tidak saja untuk penikmat film di Indonesia saja tapi mampu diinterpretasikan di Myanmar, India, Afrika  sebagian Eropa dan Amerika yang mana kekerasan seksual terhadap perempuan masih tinggi terjadi.

Baca juga: Hari Ibu 2022, Ketua DPRD NTT Sampaikan Pesan Moral Soal Sosok Ibu

Untuk penokohan sendiri diisi dengan wajah lokal atau asli Rote Ndao dan Kupang. Deretan pemeran utama dari film ini memang belum pernah beradu akting sama sekali atau tak memiliki latar belakang di dunia perfilman.

Ia justru menyukai hal tersebut. Berdasarkan pengalamannya memproduksi beberapa film dari Indonesia timur, misalnya Denias maupun Rumah Merah Putih, malah masyarakat asli yang tidak pernah terlibat dalam industri perfilman sungguh memberi suguhan natural dan alami, seperti dialek dan interaksi, sebuah sentuhan yang tentunya berbeda dari yang bisa diberikan aktris atau aktor kawakan.

"Itulah kebahagiaan kami dalam proses film ini dan kami senang dengan hasil yang mereka berikan, bahkan orang bisa berpikir mereka sudah berkali-kali beradu akting," lanjutnya.

NTT memang memiliki angka TKI ilegal tertinggi yang sarat menjadi korban kekerasan hingga berujung pada kematian.

Film ini berangkat dari kisah Martha, seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual dan eksploitasi kala menjadi TKI ilegal. Ia pulang ke Rote dengan gangguan psikis dan depresi akut akibat penderitanya itu.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved