Politani Kupang

Politani Kupang, BEM Gelar Diskusi Publik Bahas Pendidikan Politik Bagi Mahasiswa

pemahaman klasik Aristoteles yang menyatakan bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK.POLITANI KUPANG
POSE BERSAMA - Foto bersama narasumber dan peserta dalam diskusi publik di Politani Kupang. Senin 28 November 2022.   

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Organisasi kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa atau BEM Politeknik Pertanian Negeri Kupang atau Politani Kupang melaksanakan kegiatan Diskusi Publik di Gedung Student Center Politani Kupang, Senin, 28 November 2022 siang. 

Kegiatan bertajuk "Pentingkah Politik bagi Kaum Milenial?" dimoderatori Arnoldus B. U. S. M. Bewa, menghadirkan tiga narasumber, yakni Yefha Yerianto Sabaat, S.IP., M.IP akademisi FISIP Undana Kupang, Anggota DPRD NTT, Lili Adoe, aktivis dan jurnalis investigasi, Emanuel Boli, dan Ketua BEM Politani Kupang, Dev Bian.

Dalam kesempatan itu, Yeftha Sabaat menekankan urgensi pendidikan politik bagi mahasiswa.

Baca juga: SMA Negeri 3 Kupang Boyong Piala Direktur Sylvia Cup Kehutanan Politani Kupang

Ia mengutip pemahaman klasik Aristoteles yang menyatakan bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (bonnum commune).

Namun, tidak dipungkiri bahwa kaum muda milenial belum sepenuhnya tertarik dengan politik. Hal itu dibuktikan dengan sejumlah hasil survei. 

Yefta Sabaat, alumni Pascasarjana Universitas Airlangga memaparkan survei LSI bahwa ada 79 persen pemuda tidak tertarik politik. Ia menjelaskan,
sekitar 35-40 persen pemilih dalam Pemilu 2019 didominasi pemilih generasi milenial.

Dia melanjutkan, IDN Research Institute, dalam laporan bertajuk Indonesian Millenial Report 2019 menyebutkan bahwa sebesar 23,4 persen milenial suka mengikuti berita mengenai politik.

Sementara itu, papar Yeftha, Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), hanya 14,6 persen anak muda yang memiliki keinginan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR/DPRD. 

Baca juga: Gelar Pengabdian Masyarakat, Politani Kupang Desain Kandang Untuk Penggemukan Sapi 

"Kemudian, hanya 14,1persen anak muda ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah (Agustus 2022). Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak, karena fungsi hidupnya hanya beternak diri," tegas mantan aktivis GMKI Kupang, mengutip ungkapan Pramoedya Ananta Toer.

Yeftha juga mengutip kalimat seorang penyair Jerman Betolt Brecht yang menyebutkan buta yang terburuk
adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. 

"Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodohnya sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik," tegasnya.

Selanjutnya, Lili Adoe menjelaskan bahwa pendidikan politik itu adalah suatu proses penanaman nilai-nilai politik yang dilakukan secara sengaja, terencana, dan bisa bersifat formal maupun informal dilakukan secara terus-menerus dari generasi ke generasi agar warga negara mau berpartisipasi dalam politik, serta memiliki kesadaran akan hak dan kewajiban secara bertanggung jawab

Tujuan daripada itu, lanjut dia, agar membuat rakyat mampu memahami sosial politik penuh konflik. Selain itu, berani bersikap tegas memberikan kritik membangun terhadap kondisi masyarakat yang tidak mantap.

Baca juga: Dosen dan Mahasiswa Jurusan Peternakan Politani Kupang Gelar Pengabdian Masyarakat di Raknamo

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved