Minggu, 19 April 2026

Opini

Opini : Beragama yang Baik dan Benar

Beragama tanpa berhati sama dengan nol bulat alias tidak beragama. Gagasan sederhana ini muncul di tengah derasnya badai hidup.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/SCREEN
Foto ilustrasi - Karyawan KSP Kopdit Obor Mas beragama Islam saat memasuki Gereja Katolik Santo Thomas Morus Maumere pada saat perayaan misa syukur Ulang Tahun Emas KSP Kopdit Obor Mas, Jumat, 4 November 2022. 

Inilah kesedihan paling sedih yang sedang terjadi di tengah dunia modern terkini. Tentang realitas ini sangat terasa di wilayah-wilayah benua Asia dan Afrika.

Para agamawan senang dan bangga dihormati dan disanjung. Penghormatan dan sanjungan itu menghantar mereka lupa akan peran utamanya sebagai pelayan.

Pelayan artinya meninggalkan segala sikap keakuan yang memenjarahkan dan keluar dari segala rasa nyaman untuk melebur dan mencair di dalam situasi hidup masyarakat yang menjerit tanpa kenal waktu dan musim.

Baca juga: Opini : Tangis dan Air Mata Besipae

Jika seorang agamawan sungguh-sungguh menyadari akan eksistensi diri ini maka saya sangat yakin hadir mereka bisa meminimalisir ketidakadilan dan kemiskinan yang sedang menggurita di negeri ini.

Negeri ini adalah rahim yang mengandung, melahirkan dan membesarkan kita. Kita ada dan besar hingga seperti sekarang ini oleh karena negeri ini. Maka sebagai ungkapan rasa tanggung jawab atas negeri ini jangan biarkan anak negeri menangis mengalirkan air matanya.

Mari hapus air mata mereka karena mereka adalah kita. Mereka adalah kita yang sedang berada dan tinggal bersama di negeri ini. Bergandeng tanganlah bersama mereka untuk peluk erat bahagia. Bahagia itu bukanlah milik pribadi tapi bahagia itu adalah milik bersama.

Sesuatu yang tak mungkin hanya akan bisa mungkin bila dihadapi dan dilakonkan berdasarkan hati dan atas nama hati.
Manusia adalah binatang yang berakal budi dan berhati. Berhadapan dengan segala duka, tangis, air mata dan penderitaan yang sedang membumi di dunia ini.

Mari hadapinya dengan hati yang besar. Mengalirkan cinta dan hapuskan air mata serta ringankan beban hidup mereka dengan senyum dan tertawa bersama mereka. Masihkah ada hati untuk mencintai dan waktu untuk peduli?

Baca juga: Opini : Regsosek Optimisme Program Perlindungan Sosial

Di sana selalu ada kesempatan untuk berhati. Berhati adalah cara beragama yang paling baik dan benar. Jika anda masih beragama tunjukkan kepada dunia tempat dimana anda berpijak sekarang ini dengan hal-hal kecil yang sedang berceceran di sekitar.

Agama yang paling mumpun dan tak tergoyahkan adalah hati yang penuh belaskasih terhadap hal-hal kecil di tengah dunia dengan cinta yang besar.

Agama yang baik dan benar adalah agama yang tidak membiarkan sesama menangis dan menjerit di tengah musim-musim hidup yang datang silih berganti dengan segala tawarannya. Agama itu tidak membiarkan segala kekacauan hidup manusia terjadi dan terkapar di mana-mana.

Agama adalah hati yang mengalirkan sejuk damai kepada siapa pun dan di mana saja berada. Agama tidak kenal jabatan dan status. Agama tidak dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan etnis, suku bangsa, warna kulit dan lain sebagainya.

Agama itu merangkul yang tak terangkul menjadi satu di dalam satu ikatan yang bernama ikatan kasih sayang sebagai makluk Tuhan yang sama-sama menghirupkan napas kehidupan dan mengabarkan kebaikan tanpa kalkulasi untung dan rugi. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved