Opini
Opini : Beragama yang Baik dan Benar
Beragama tanpa berhati sama dengan nol bulat alias tidak beragama. Gagasan sederhana ini muncul di tengah derasnya badai hidup.
Oleh : Yohanes Mau
( Warga Belu, kini bertugas di Zimbabwe, Afrika )
POS-KUPANG.COM - Beragama tanpa berhati sama dengan nol bulat alias tidak beragama. Gagasan sederhana ini muncul di tengah derasnya badai hidup yang datang silih berganti bersama musim.
Saya berjalan-jalan sembari melihat realitas suram yang sedang terjadi di tengah dunia ini. Di jalanan panjang itu saya selalu melihat anak-anak negeri menangis menahan pilu atas derita hidup yang sedang melandanya.
Begitu banyak anak-anak negeri yang hidup dan tinggal beratapkan pondok sederhana dan makan apa adanya. Kadang hanya makan satu kali dalam sehari. Bahkan malam tidur pun tanpa selimut karena tak punya rejeki yang cukup.
Melihat realitas suram ini hati para elite politik sepertinya belum ada rasa untuk mengalirkan sejuk berkat bagi mereka.
Para pemimpin agama yang setia berteriak setiap hari di rumah-rumah ibadat untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, dan dengan segala kekuatan, juga mengasihi sesama manusia sebagaimana mengasihi diri sendiri pun diam seribu bahasa.
Sepertinya mereka tidak peduli. Kisah-kisah tragis penderitaan hidup anak negeri itu dibiarkan berlalu begitu saja bersama matahari pada hari-hari dan malam-malam hidup selanjutnya.
Para pemimpin agama menepuk dada bahwa mereka adalah orang-orang saleh yang tampil atas nama suara orang-orang kecil yang selama ini tidak mampu bersuara. Padahal di dalam praktik harian masih saja ditemukan yang tidak berhati mulia.
Mereka menepuk dada sangat saleh dan setia berdoa setiap hari namun di dalam realitas harian doa dan buah-buah kesalehan itu tidaklah tampak. Lantas kemanakah buah-buah kesalehan dari mereka itu?
Baca juga: Opini : Pejabat Publik dan Usaha Menghargai "Yang Lain"
Agamawan tampil dan mereka dihormati dan disanjung dimana-mana. Segala kemudahan selalu ada untuk mereka di dalam menjalankan pelayanan.
Pelayanan adalah kata yang lazim digunakan untuk melancarkan segala tugas pelayanan di dalam hidup keagamaan. Seorang tokoh agama bisa mengeluh dan meminta sesuatu kepada donator atas nama orang-orang kecil untuk melayani.
Sebenarnya tugas agamawan hadir dan melayani secara penuh dan tuntas. Artinya memberi segala totalitas diri demi bahagia orang yang dilayani.
Namun realitas di lapangan terjadi berbalik dengan hakekat pelayanan. Agamawan hanya pandai berkata tentang cinta yang rela berkorban dan mendahulukan yang terakhir.
Di dalam realitas masih banyak orang-orang menderita yang menangis tak tertahankan oleh karena ketidakadilan yang dilakonkan oleh elite politik dan agamawan yang tidak berhati terhadap suramnya situasi sosial di tengah masyarakat.
Inilah kesedihan paling sedih yang sedang terjadi di tengah dunia modern terkini. Tentang realitas ini sangat terasa di wilayah-wilayah benua Asia dan Afrika.
Para agamawan senang dan bangga dihormati dan disanjung. Penghormatan dan sanjungan itu menghantar mereka lupa akan peran utamanya sebagai pelayan.
Pelayan artinya meninggalkan segala sikap keakuan yang memenjarahkan dan keluar dari segala rasa nyaman untuk melebur dan mencair di dalam situasi hidup masyarakat yang menjerit tanpa kenal waktu dan musim.
Baca juga: Opini : Tangis dan Air Mata Besipae
Jika seorang agamawan sungguh-sungguh menyadari akan eksistensi diri ini maka saya sangat yakin hadir mereka bisa meminimalisir ketidakadilan dan kemiskinan yang sedang menggurita di negeri ini.
Negeri ini adalah rahim yang mengandung, melahirkan dan membesarkan kita. Kita ada dan besar hingga seperti sekarang ini oleh karena negeri ini. Maka sebagai ungkapan rasa tanggung jawab atas negeri ini jangan biarkan anak negeri menangis mengalirkan air matanya.
Mari hapus air mata mereka karena mereka adalah kita. Mereka adalah kita yang sedang berada dan tinggal bersama di negeri ini. Bergandeng tanganlah bersama mereka untuk peluk erat bahagia. Bahagia itu bukanlah milik pribadi tapi bahagia itu adalah milik bersama.
Sesuatu yang tak mungkin hanya akan bisa mungkin bila dihadapi dan dilakonkan berdasarkan hati dan atas nama hati.
Manusia adalah binatang yang berakal budi dan berhati. Berhadapan dengan segala duka, tangis, air mata dan penderitaan yang sedang membumi di dunia ini.
Mari hadapinya dengan hati yang besar. Mengalirkan cinta dan hapuskan air mata serta ringankan beban hidup mereka dengan senyum dan tertawa bersama mereka. Masihkah ada hati untuk mencintai dan waktu untuk peduli?
Baca juga: Opini : Regsosek Optimisme Program Perlindungan Sosial
Di sana selalu ada kesempatan untuk berhati. Berhati adalah cara beragama yang paling baik dan benar. Jika anda masih beragama tunjukkan kepada dunia tempat dimana anda berpijak sekarang ini dengan hal-hal kecil yang sedang berceceran di sekitar.
Agama yang paling mumpun dan tak tergoyahkan adalah hati yang penuh belaskasih terhadap hal-hal kecil di tengah dunia dengan cinta yang besar.
Agama yang baik dan benar adalah agama yang tidak membiarkan sesama menangis dan menjerit di tengah musim-musim hidup yang datang silih berganti dengan segala tawarannya. Agama itu tidak membiarkan segala kekacauan hidup manusia terjadi dan terkapar di mana-mana.
Agama adalah hati yang mengalirkan sejuk damai kepada siapa pun dan di mana saja berada. Agama tidak kenal jabatan dan status. Agama tidak dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan etnis, suku bangsa, warna kulit dan lain sebagainya.
Agama itu merangkul yang tak terangkul menjadi satu di dalam satu ikatan yang bernama ikatan kasih sayang sebagai makluk Tuhan yang sama-sama menghirupkan napas kehidupan dan mengabarkan kebaikan tanpa kalkulasi untung dan rugi. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/karyawan-ksp-kopdit-obor-mas-beragama-islam-saat-memasuki-gereja-katolik.jpg)