Opini

Opini : Regsosek Optimisme Program Perlindungan Sosial

Regsosek akan senantiasa dimutakhirkan dan pendataan awal ini menjadi stepping stone untuk basis data tersebut.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Foto ilustrasi. Petugas sedang melakukan pendataan Regsosek terhadap keluarga Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, Senin 17 Oktober 2022. 

Oleh : Leonar Do DaVinci T, SST

Statistisi Pertama BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Sudah sekian lama Indonesia masih berperang untuk mengentaskan kemiskinan, mulai dari penerapan kebijakan jangka panjang, hingga jangka pendek dengan memberikan program-program perlindungan sosial.

Semenjak dunia terkena wabah Covid-19, perekonomian mengalami fluktuasi hebat, akibatnya program perlindungan sosial semakin dibutuhkan. Tidak berhenti sampai di sana, pandemi telah mengubah tatanan sosial masyarakat.

Perilaku hingga interaksi antar masyarakat menjadi sangat terbatas, namun hal ini perlahan-lahan kembali normal setelah berbagai tindakan yang dilakukan pemerintah dan masyarakat. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa dampak pergolakan ekonomi tersebut masih terasa dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Pada tahun 2020, Indonesia mengalami kontraksi (y on y) hingga -2,07 persen (BPS, 2020). Demikian juga di Nusa Tenggara Timur yang mengalami kontraksi (y on y) -0,84 persen (BPS ,2020). Hal ini ditengarai berbagai kondisi yang mengakibatkan roda perekonomian sulit berputar.

Mulai dari kondisi makro, sebagai akibat kemampuan perekonomian global yang lumpuh di berbagai lini, hingga kondisi mikro akibat ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhannya. Isu yang hangat penyebab masalah ini pada waktu pandemi adalah peningkatan jumlah pengangguran akibat putus kerja.

Baca juga: Opini : Memaknai Kembali Sumpah Pemuda

Memang di tahun 2021 dan 2022, Indonesia mulai berbenah. Terbukti dari menurunnya jumlah pengangguran dan kemiskinan pada 2022. Tercatat pada September 2021, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 11.859,34 ribu jiwa, turun menjadi 11.820,06 ribu jiwa pada Maret 2022 (BPS, 2022).

Sementara di Provinsi Nusa Tenggara Timur juga terjadi fenomena yang sama, pada September 2021 jumlah penduduk miskin mencapai 1.146,28 ribu jiwa dan pada Maret 2022 turun menjadi 1.131,62 ribu jiwa. Namun tetap saja angka tersebut masih lebih tinggi dibanding masa sebelum pandemi.

Tidak usah jauh-jauh dari kondisi ekonomi, fenomena sosial di tengah-tengah masyarakat juga turut terdampak. Sebagai gambaran, penelitian yang dilakukan oleh Sonny D. Judiasih dan Elycia F. Salim (Jurnal Veritas et Justitia) yang dilakukan secara yuridis sosiologis, menyimpulkan bahwa angka perceraian meningkat semasa pandemi, dengan temuan bahwa gugatan cerai lebih banyak diajukan oleh isteri di Indonesia.

Fenomena ini juga ternyata ditemukan di berbagai negara, yang disinyalir terjadi semasa pandemi Covid-19. Sebenarnya, faktor penyebab perceraian memang tidak dapat dipukul rata sebagai akibat munculnya pandemi, ada banyak faktor yang bisa menggerakkan keluarga atau pasangan suami-isteri untuk berpisah.

Namun dapat disimpulkan bahwa pandemi mampu mendorong perubahan status seseorang, seperti kondisi ekonomi, pendidikan, kesehatan, psikologis, dan lain sebagainya.

Baca juga: Opini : Pesparani Nasional II Kupang dan Jejak Inkulturasi Musik Liturgi Gereja Katolik NTT

Selain faktor pasca pandemi, tantangan yang muncul di tahun 2022 dalam masa transisi pemulihan adalah perang Ukraina-Rusia. Imbasnya adalah kenaikan harga komoditi dunia yang juga memicu inflasi di berbagai negara. Baru-baru ini masyarakat juga dikejutkan dengan penarikan subsidi terhadap bahan bakar minyak. Kondisi ini memaksa masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

Kekhawatiran yang muncul adalah ketidakmampuan masyarakat dalam beradaptasi, terutama bagi mereka yang memiliki pendapatan sangat kecil yang tidak sebanding dengan kenaikan harga-harga komoditas. Peluang peningkatan penduduk miskin pun akan semakin besar.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved