Opini

Opini : Tangis dan Air Mata Besipae

Suara anak-anak dan Ibu-ibu di kampung Besipae, kabupate Timor Tengah Selatan (TTS) menangis histeris meratapi nasib mereka yang tak menentu.

Editor: Alfons Nedabang
DOK POS-KUPANG.COM
Foto Ilustrasi - Warga Besipae memilih bertahan di dalam tenda darurat ketimbang menempati rumah relokasi yang dibangun Pemprov NTT. Opini : Tangis dan Air Mata Besipae. 

Oleh : Yohanes Mau

Misionaris SVD asal NTT, kini Bertugas di Zimbabwe Afrika

POS-KUPANG.COM - Suara anak-anak dan Ibu-ibu di kampung Besipae, kabupate Timor Tengah Selatan (TTS) menangis histeris meratapi nasib mereka yang tak menentu.

Rumah-rumah hunian yang dibangun Pemprov Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2020 silam telah digusur hingga rata tanah. Pemprov NTT membangun rumah hunian untuk masyarakat Besipae dan Pemprov sendiri yang menggusurnya kembali.

Kamis, 20 Oktober 2022 tertulis rapi di kalender. Pemprov NTT datang dan menggusur hunian warga Besipae.

Di tengah hujan deras itu anak-anak kecil menangis pilu di bawah pohon dan beberapa lembar seng yang masih tersisa dijadikan untuk berlindung dari rintik hujan dan panas matahari. Hati saya tersayat pilu menyaksikan video singkat yang beredar di media sosial tentang ratap dan tangis anak-anak negeri.

Pemprov NTT datang menggusur rumah hunian masyarakat. Alasannya tempat hunian masyarakat Besipae itu adalah tanah bersertifikat milik Pemprov NTT. Karena tertulis di sertifikat tanah itu adalah milik Pemprov NTT dan lokasi itu hendak dibangun jalan menuju lokasi untuk buka kandang peternakan sapi sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat setempat sehingga penggusuran yang dilakukan pun tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan.

Baca juga: Opini : Memperkuat Imunitas Bahasa Daerah

Saya melihat tindakan ini adalah wujud dari tidak sanggup membangun komunikasi yang efektif, baik dan benar bersama tokoh-tokoh penting terkait yang ada di sekitar wilayah Besiapae. Walaupun Pemprov NTT sudah menjelaskan bahwa penertiban itu dilakukan setelah diterbitkan surat pemberitahuan.

Alam Besipae serta arwah seluruh nenek moyang yang jazadnya terkubur di sana hanya diam menyaksikan aksi yang dilakonkan oleh Pemprov NTT yang dikawal aparat keamanan. Kalau tindakan mereka di sana tidak mengalirkan sejuk nilai kemanusiaan kepada masyarakat kecil Besipae dan sekitarnya maka suatu saatnya nanti akan ada balasan setimpal dengan sikap dan tindakan.

Segala sesuatu yang ada di dunia terjadi secara natural dan jangan merusak, apalagi membuat sakit dan luka yang telah ada dan diciptakan oleh Tuhan.

Tuhan telah menciptakan segalanya itu baik adanya. Apakah Tuhan sudih membiarkan menyakiti hati anak-anak kecil polos yang tak tahu berdosa itu diterlantarkan di bawah pohon tanpa beralaskan selembar teduhan sejuk?

Mereka adalah anak-anak kita. Mereka adalah orangtua kita. Mereka butuh hunian yang layak untuk berteduh sebagaimana anak-anak, orangtua dari Pemprov NTT juga membutuhkan teduhan sejuk di tengah hari dan musim. Lantas tegahkah hatimu membiarkan mereka menangis sepanjang hari dan malam di pepohonan rindang hanya beratapkan ranting dan langit?

Tindakan minus kemanusiaan yang telah dilakukan di lokasi Besipae-TTS adalah ketaatan mutlak. Warga sekitar menangis pilu pun tak dipeduli. Mereka taat untuk melakukan suatu tindakan yang tidak manusiawi.

Walaupun mau melakukan penggusuran rumah warga setidaknya dikomunikasikan dengan baik agar tidak saling menyakiti dan melukai satu dengan yang lain.

Baca juga: Opini : Post-Nasionalisme dan Krisis Negara-Bangsa

Sejati manusia adalah hadir untuk saling tolong-menolong, saling melengkapi satu sama lain. Bukan hadir untuk menyakiti yang lemah, kecil dan sederhana. Tidak. Itu sangat salah dan tidak dibenarkan sedikit pun oleh apa dan siapa pun. Secara pribadi saya sangat menantang dengan tegas aksi penggusuran di Besipae, TTS. Tindakan Pemprov semena-mena tanpa mengkalkulasi unsur humanism.

Tangis dan air mata anak-anak di kampung Besipae, TTS masih saja berjatuhan. Tubuh mungil mereka menahan dingin dibawah hujan dan hanya bertapakan ranting pohon dan langit. Kampung kecil yang selama ini gaungnya tidak menggema kini pantulan gaungnya mendunia.

Besiapae sekali-kali bukanlah yang terkecil. Dari yang kecil dan tak terhitungkan itu kini gaung suara kemanusiaan memecah ruang-ruang publik untuk menghapus air mata anak negeri dengan saputangan kasih. Masihkah ada waktu di hidupmu untuk menjadi berkat sejuk bagi yang lain dan masihkah ada hatimu untuk saling mencinta?

Para peduli hak dan martabat kemanusiaan mari gaungkan suara kenabian dan tantang aksi minus kemanusiaan yang sedang berkeliaran di negeri ini. Ulurkanlah tangan dan tolonglah mereka. Rangkul dan hapuslah air mata mereka. Baluti luka-luka mereka dengan perban kasih yang mengalir tanpa minta pulang. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved