Opini
Opini : Pejabat Publik dan Usaha Menghargai "Yang Lain"
Imaji tentang Indonesia yang terbuka dan menghargai perbedaan masih jauh dari panggang api. Kita sedang dihantui bahaya laten intolerasi.
Susahnya Mengakui “Yang Lain”
Minusnya pengakuan akan eksistensi “Yang Lain” bukanlah suatu hal yang baru dalam kehidupan umat manusia. Ia begitu lekat dalam diri manusia sampai manusia sendiri sulit untuk melepaskan diri daripadanya.
Hemat penulis, minusnya pengakuan akan “Yang Lain” disebabkan oleh pola pikir ke-Aku-an, di mana “Yang Lain” hanya bersifat partikular, ia terpisah jauh dari ke-Aku-anku.
Inklusi Habermas sesungguhnya mau mempertegas bahwa pengakuan akan eksistensi “Yang Lain” hanya bisa menjadi suatu kenyataan apabila orang berani untuk terbuka, inklusif. Ketika orang berani untuk terbuka maka segala sesuatu (“Yang Lain”) dapat diberi ruang dalam ke-Aku-anku.
Apabila “Yang Lain” sudah mendapatkan tempat dalam ke-Aku-anku, maka pada saat yang bersamaan, pengakuan pun akan terjadi di sana. Kuncinya adalah berani untuk terbuka.
Indonesia seharusnya belajar dari negara-negara di Timur Tengah yang hancur karena terlalu gampang terprovokasi. Jika isu seputar agama menjadi hal yang sensitif maka tidak mengherankan lagi jika semangat persatuan dan kesatuan hanya menjadi sebuah slogan semata.
Beberapa waktu lagi, negara kita akan memasuki tahun politik. Semoga kasus-kasus minus rasionalitas seperti yang sudah penulis kemukakan di atas dapat diatasi. Sebab, jika tidak masyarakat kita akan mengalami keterpecahan dan polarisasi.
Dan apabila masyarakat kita sudah pecah dan terpolarisasi, bonum communae yang menjadi harapan bersama akan semakin jauh kelihatan. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gereja-HKBP-Distrik-21-Banten.jpg)