Opini

Opini : Pesparani Nasional II Kupang dan Jejak Inkulturasi Musik Liturgi Gereja Katolik NTT

Umat Katolik Indonesia patut bergembira karena PESPARANI II yang tertunda dari tahun 2020 akan segera terlaksana pada tanggal 28-31 Oktober 2022.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/RAY REBON
Pelajar SMA/SMK gladi pembukaan Pesparani Nasional 2022 di Staduon Oepoi Kupang. Pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik pada Jumat 28 Oktober 2022. 

Oleh : Ladislaus Naisaban

(Anggota LP3KN-Bidang Lomba)

POS-KUPANG.COM - Umat Katolik Indonesia patut bergembira karena PESPARANI II yang tertunda dari tahun 2020 akan segera terlaksana pada tanggal 28 hingga 31 Oktober 2022 di Kupang, NTT.

Pesta Paduan Suara Gerejani ( PESPARANI ) Katolik ini diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan PESPARANI Katolik Nasional ( LP3KN ), bekerja sama dengan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan PESPARANI Daerah ( LP3KD ) NTT.

LP3K dibentuk oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia ( KWI ) dan Pemerintah (Bimas Katolik RI) dan telah beraktivitas sejak tahun 2017. Para pengurusnya terdiri dari perwakilan Gereja ( KWI ), Pemerintah (Bimas Katolik RI), dan umat (perwakilan ormas-ormas katolik).

Lembaga yang dinakodai Prof. Adrianus Meliala, PhD ini, mengusung visi: terwujudnya aktivitas menggereja, Seni Budaya Gerejani yang hidup dalam kehidupan menggereja, bermasyarakat dan bernegara. Dan salah satu misi yang ingin dikembangkan adalah menggiatkan pastisipasi umat dalam menyemarakan seni budaya dan liturgi Gereja yang bertumpu pada warisan tradisi budaya gerejani dan musik liturgi serta pengembangan liturgi yang bersifat inkulturatif.

Dengan semangat misi ini dan dalam konteks terselenggaranya PESPARANI Katolik Nasional II di NTT, maka penulis menurunkan di sini sebuah refleksi tentang Inkulturasi Musik Liturgi Gereja Katolik di NTT.

Jejak inkulturasi musik liturgi Gereja NTT dimulai sejak awal abad 20. Pada tanggal 13 Mei 1922 Pastor Frans Dorn SVD, bersama anak-anak sekolah di Ruteng berlatih menyanyikan lagu Gereja dalam bahasa Manggarai, dan tanggal 21 Mei 1922, untuk pertama kalinya mereka menyanyikan lagu-lagu itu pada saat misa hari Minggu.

Baca juga: Pesparani Nasional 2022, Ketua LP3KD NTT Frans Salem Sebut Persiapan Sudah 95 Persen 

Sejak itu, proses adaptasi lagu-lagu asli Manggarai ke dalam lagu Liturgi semakin bertumbuh subur di bawah dukungan penuh pimpinan Gereja setempat Mgr. Van Bekum, SVD.

Pengkristenan lagu-lagu asli dan penerjemahan lagu-lagu asing ke dalam bahasa Manggarai mendapat sambutan baik dari umat, sehingga pada tahun 1941 lagu-lagu itu dikumpulkan dalam bentuk stensilan dengan nama: Dere Serani.

Tahun 1947, buku nyanyian Dere Serani dicetak untuk pertama kali di Percetakan Arnoldus Ende, setelah mendapat izin dari Vikarius Apotolik Ende waktu itu, Mgr. Hendrik Leven, SVD. Selanjutnya buku Dere Serani dicetak ulang pada tahun 1954, 1960 dan 1973.

Cetakan keempat ini berisikan 224 lagu yang di antaranya terdapat 135 lagu asli Manggarai. Kemudian, di tahun-tahun selanjutnya Dere Serani terus dicetak dengan penambahan doa-doa harian dalam Bahasa Manggarai.

Sementara itu,sudah sejak tahun 1930, di Seminari Menengah Mataloko, Pastor Does SVD (Poestardos), menerjemahkan lagu-lagu dari Gereja Eropa yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan sebagai buku pada tahun 1937 dengan nama Jubilate.

Lagu-lagu di dalam buku nyanyian Jubilate adalah lagu-lagu romantik Gereja abad XIX dan beberapa lagu Gregorian. Pada tahun 1947, buku Jubilate disempurnakan dan kemudian dijadikan buku 2 pegangan umat Katolik Vikariat Apostolik Ende dan Timor yang terbentang dari Propinsi NTT, NTB dan Bali.

Baca juga: Pesparani Nasional 2022, Papua Barat Bawa Suporter untuk Capai Hasil Maksimal

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved