Berita Kota Kupang

WALHI NTT Dukung Penjabat Kota Kupang Dalam Mengatasi Persoalan Sampah

Bentuk komitmen dari Penjabat Wali Kota Kupang ini mendapat dukungan penuh dari WALHI NTT yang mengusulkan agar tinggalkan paradigma lama

Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
TEMPAT SAMPAH - Salah satu tempat sampah yang ada di Kota Kupang. Penjabat Wali Kota Kupang George Melkianus Hadjoh menargetkan dalam waktu dua bulan akan menyelesaikan masalah sampah di Kota Kupang 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG-- Penjabat Wali Kota Kupang George Melkianus Hadjoh menargetkan dalam waktu dua bulan akan menyelesaikan masalah sampah di Kota Kupang dan dalam satu tahun akan menjadikan Kota Kupang sebagai kota terbersih di Indonesia. 

Bentuk komitmen dari Penjabat Wali Kota Kupang ini mendapat dukungan penuh dari WALHI NTT yang mengusulkan agar tinggalkan paradigma lama.

Bagi WALHI NTT pernyataan penjabat ini tentunya menjadi pintu masuk bagi pemerintah Kota Kupang untuk mengeluarkan skema baru dalam penanganan masalah sampah di Kota Kupang, yang selama ini tidak pernah teratasi secara baik oleh beberapa rezim pemerintah sebelumnya.

"Ini dapat dilihat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan lokasi-lokasi publik lainnya. Ratusan ton sampah di TPA yang terletak di RT 01/RW 01, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang, NTT tidak didaur ulang," kata Yuvensius Stefanus Nonga, S.H., M.H. selaku Kepala Divisi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kampanye WALHI NTT, Selasa 30 Agustus 2022. 

Sampah-sampah tersebut hanya ditutup menggunakan tanah putih lalu ditekan menggunakan alat berat. Paradigma pengelolaan sampah perlu dikembalikan sesuai mandat UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. 

Baca juga: Sampah Terbanyak di Kota Kupang Dihasilkan dari Rumah Tangga

"Implementasi pengelolaan sampah oleh pemerintah kota Kupang masih pada  skema kumpul-angkut-buang. Paradigma pembuangan akhir di TPA telah mengangkangi spirit UU Nomor 18 Tahun 2008," tambahnya dalam keterangan tertulisnya. 

TPA merupakan tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan. 

Paradigma lama pengelolaan sampah dengan pendekatan penanganan akhir yaitu kumpul – angkut – buang ke TPA sampah sudah saatnya ditinggalkan.

Yuven menjelaskan, paradigma baru sesuai Undang – Undang No 18/2008, memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan, misalnya untuk kompos, bahan bangunan maupun sebagai bahan-bahan lainnya.

"Sedangkan yang dibuang adalah sampah yang benar-benar sudah tidak dapat dimanfaatkan, karena tidak mempunyai nilai ekonomi," sebut dia. 

Baca juga: DPRD Kota Kupang Sebut Masalah Sampah Bukan Pemerintah Saja 

Berangkat dari kondisi di atas, WALHI NTT merekomendasikan ke pemerintah kota Kupang untuk melibatkan seluruh aktor pengelolaan sampah mulai dari pelaku usaha, masyarakat, dan pemerintah sendiri. 

Berpijak pada kewajiban pelaku usaha terkait produk ramah lingkungan dan tanggung jawabnya atas residu yang dihasilkan dari sisa hasil jualan produknya. Selain itu mengfasilitasi penanganan sampah mulai dari rumah tangga.

Selain itu, menjalankan mandat UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan tinggalkan paradigma lama kumpul – angkut – buang dalam pengelolaan sampah. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved