Angka Stunting NTT Tertinggi di Indonesia, Pemerintah Dorong Penuhi Gizi pada 1.000 HPK

Data SSGI 2021 menyebutkan, angka prevalensi stunting di NTT berada pada posisi 37,8 persen atau yang tertinggi dari seluruh provinsi.

Dok. Kemenkominfo
Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka prevalensi stunting di NTT berada pada posisi 37,8 persen atau yang tertinggi dari seluruh provinsi di Tanah Air. Persentase tersebut juga masih di bawah angka stunting nasional, yaitu 24,4 persen. 

POS-KUPANG.COM – Angka prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini masih tergolong tinggi. Salah satu penyebabnya adalah kekurangan asupan gizi.

Merespons hal itu, pemerintah mengingatkan masyarakat akan urgensi asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Adapun 1.000 HPK merupakan periode penting bagi tumbuh kembang anak yang dimulai sejak janin terbentuk, masa kehamilan, hingga anak berusia dua tahun.

Imbauan tersebut disampaikan Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (IKPMK) Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Wiryanta dalam Diseminasi Informasi dan Edukasi Percepatan Penurunan Stunting bertajuk “Kepoin GenBest: Stunting Akibat Kurang Gizi? Yuk, Bongkar Rahasianya di Sini” di Kupang, NTT, Jumat (19/8/2022).

“Seluruh pihak harus bergotong royong untuk menurunkan angka prevalensi stunting. Terutama, memberi perhatian serius pada 1.000 HPK,” ujar Wiryanta dalam siaran pers yang diterima Tribun Kupang, Sabtu (20/8/2022).

Baca juga: Pemikiran Out Of The Box dan Kerja Kolaboratif Percepat Penurunan Stunting di NTT,

Wiryanta menambahkan, diperlukan kerja sama seluruh pihak untuk menurunkan angka prevalensi stunting hingga 14 persen pada 2024 sesuai target pemerintah pusat.

Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka prevalensi stunting di NTT mencapai 37,8 persen atau yang tertinggi dari seluruh provinsi di Tanah Air. Persentase tersebut juga masih di bawah angka stunting nasional, yaitu 24,4 persen.

“Setidaknya, masih ada 15 kabupaten di NTT yang masuk kategori merah dalam kasus stunting. Penyematan status merah menunjukkan bahwa wilayah tersebut memiliki prevalensi stunting masih di atas 30 persen,” terang Wiryanta.

Pada kesempatan sama, dokter spesialis anak Andreas menjelaskan, perkembangan manusia paling pesat terletak pada 1.000 HPK dan usia remaja.

Ia menilai, dua periode tersebut merupakan momentum krusial tumbuh kembang manusia. Pertama, sejak usia kehamilan sampai usia dua tahun. Kedua, usia remaja yang juga terjadi pertumbuhan yang sangat cepat.

Oleh karena itu, nutrisi seimbang perlu diberikan secara tepat kaya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral. Seluruh kandungan tersebut harus terpenuhi dengan baik pada masa remaja.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved