NTT Terkini
Peneliti UNWIRA, UIN Malang, UNIK Kediri, UHT Surabaya dan PT Asimas Malang Kembangkan Obat Herbal
Pada tahun 2025 ini, prototipe obat yang sudah dihasilkan tersebut diuji lebih lanjut pada hewan yaitu mencit.
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Hilirisasi hasil penelitian di perguruan tinggi memegang peranan vital dalam mendorong kemajuan iptek sekaligus meningkatkan daya saing bangsa.
Selama ini, banyak hasil riset dari para peneliti di universitas yang hanya berhenti pada tahap publikasi ilmiah tanpa pernah mencapai masyarakat luas atau diadopsi oleh dunia industri.
Padahal, penelitian yang tidak dihilirisasi akan kehilangan potensi manfaat ekonomis dan sosial yang besar. Dengan proses hilirisasi, hasil-hasil riset tersebut dapat dikembangkan menjadi produk, teknologi, atau solusi yang aplikatif dan dapat digunakan secara langsung dalam kehidupan nyata.
Ini juga menjadi cara untuk memastikan bahwa investasi negara dalam riset dan pengembangan (R&D) melalui perguruan tinggi benar-benar memberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi pembangunan
nasional.
Untuk mewujudkan hilirisasi yang efektif, kolaborasi antara dunia pendidikan—terutama
universitas dan para penelitinya—dengan industri menjadi sangat penting.
Baca juga: Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Akan PPKM Internasional di Atapupu dan Batugade
Industri memiliki pengalaman dan sumber daya dalam hal produksi massal, pemasaran, serta pengembangan bisnis, sementara universitas memiliki kekuatan dalam hal inovasi dan penguasaan teknologi.
Kolaborasi ini memungkinkan hasil riset yang semula bersifat teoritis atau eksperimental untuk diinkubasi, diuji coba, dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Sinergi ini juga membuka ruang bagi pengembangan riset yang lebih terarah, relevan, dan berbasis kebutuhan nyata industri dan masyarakat.
Oleh karena itu, membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan universitas dan industri secara erat menjadi langkah strategis untuk menjadikan hasil penelitian sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan.
Selama tahun 2024 dan 2025, tim peneliti dari Universitas Katolik Wdya Mandira (UNWIRA)
Kupang, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang, Universitas Kadiri
(UNIK) dan Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya, telah berkolaborasi dengan perusahaan
farmasi PT. Agaricus Sido Makmur Sentosa (Asimas) Malang untuk mengembangkan obat
herbal afrodisiak yang diberi nama “Uva Max.”
Obat herbal ini dikembangkan dari ekstrak kulit batang tumbuhan Uvaria rufa yang secara tradisional diyakini memiliki khasiat sebagai afrodisiak untuk laki-laki dewasa. Di Timor (NTT), tumbuhan ini dikenal dengan nama Koknaba (bahasa Dawan), Koke (bahasa Tetun), dan Lelak (bahasa Indonesia dialek Kupang).
Tim penelitian ini diketuai oleh Dr. Maximus M. Taek (UNWIRA), dan beranggotakan Dr. apt.
Burhan Ma’arif dan apt. Novia Maulina, M.Si. (UIN Malang), Dr. apt. Dian Nurmawati (UNIK
Kediri), Faisal Akhmal Muslikh, M. Farm (UHT Surabaya), dan Erly Grizca Boelan, M.Si.
(UNWIRA). Penelitian untuk mengembangkan obat herbal afrodisiak ini didukung dengan dana
yang berasal dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) Kementrian
Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), melalui Program Bantuan Biaya
Luaran Prototipe (2024) dan Program Hilirisasi Riset-Pengujian Model dan Prototipe (2025).
Pada tahun 2024, tim peneliti telah melakukan uji potensi afrodosiak dari ekstrak kulit batang
tumbuhan Uvaria rufa, dilanjutkan dengan uji toksisitas dari ekstrak tersebut.
Hasil pengujian menunjukkan potensi afrodisiak yang kuat, dengan derajat toksisitas yang rendah, sehingga
dianggap prospektif untuk dikembangkan sebagai kandidat obat. Ekstrak tersebut kemudian
diformulasikan menjadi prototipe obat herbal dalam bentuk kapsul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Obat-herbal-UVA-MAX.jpg)