Berita Manggarai Barat
Kenaikan Tarif Taman Nasional Komodo, Ini Komentar Vikjen Keuskupan Ruteng
gereja Keuskuapn Ruteng tidak henti-hentinya memperjuangkan pariwisata holistik yang mencakupi semua dimensi kehidupan manusia
Penulis: Gecio Viana | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana
POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Wacana kenaikan tarif masuk ke Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo atau TNK menjadi Rp 3.75 juta mendapatkan komentar dari Vikjen Keuskupan Ruteng, Rm Alfons Segar memberikan komentar, Rabu 27 Juli 2022.
Dalam rilis yang diterima POS-KUPANG.COM, terdapat 6 poin yang disampaikan Vikjen Keuskupan Ruteng, Rm Alfons Segar.
Poin pertama, menurut Vikjen Keuskupan Ruteng, Rm Alfons Segar mengatakan, rencana kenaikan tersebut dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK RI bersama dengan Pemerintah Provinsi NTT dengan pertimbangan konservasi habitat komodo, yang pada gilirannya mendukung pariwisata yang berkelanjutan.
Baca juga: Astindo NTT Tolak Kenaikan Harga Tiket Masuk Taman Nasional Komodo

"Namun, protes dari para pelaku pariwisata dan masyarakat yang terdampak memperlihatkan pefntingnya mengintegrasikan kondisi perekonomian masyarakat yang baru menggeliat akibat pandemi Covid-19 dalam kebijakan pariwisata," katanya.
Poin kedua, gereja Keuskupan Ruteng tidak henti-hentinya memperjuangkan pariwisata holistik yang mencakupi semua dimensi kehidupan manusia dan kesejahteraan umum.
"Secara khusus, kami mengusung tema pariwisata holistik dalam program pastoral Keuskupan Ruteng tahun 2022 ini dengan motto: Berpartisipasi, Berbudaya dan Berkelanjutan. Berpartisipasi berarti pariwisata yang melibatkan dan mensejahterakan masyarakat lokal. Berbudaya berarti pariwisata yang berakar dan bertumbuh dalam keunikan dan kekayaan kultur dan spiritualitas setempat. Berkelanjutan berarti pariwisata yang merawat dan melestarikan alam ciptaan," jelasnya.
Poin ketiga, melalui paroki, lembaga gerejawi, biara-biara maupun awam katolik, khususnya para pelaku wisata, Gereja Keuskupan Ruteng telah dan akan terus menerus terlibat untuk mengembangkan pariwisata holistik dari Wae Mokel sampai Selat Sape, Manggarai Raya.
"Selain mengelola situs dan program pariwisata rohani, gereja katolik berpartisipasi dalam menggerakkan ekonomi kreatif pariwisata umat, menggalakkan pariwisata budaya serta mendorong pariwisata alam. Lebih dari itu Gereja terlibat dalam menguatkan aspek spiritual dan etis umat sehingga dapat mengupayakan pariwisata yang beradab dan bermartabat serta menangkal dampak negatif yang timbul dari pariwisata," katanya.
Baca juga: Kuota Kunjungan ke Taman Nasional Komodo NTT Dibatasi
Lebih lanjut, poin keempat, pihaknya menilai momentum kenaikan tiket tersebut kuranglah tepat, karena dunia pariwisata di Labuan Bajo dan Flores pada umumnya sedang bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covi1-9.
Selain itu, kenaikannya yang sangat drastis mengganggu animo wisatawan dan menghambat kebangkitan dunia pariwisata yang menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat.
"Kebijakan publik demikian, mesti melibatkan pelbagai pihak yang berkepentingan dalam sebuah dialog dan uji publik yang intensif. Selain kajian akademik, dituntut pula kajian sosial yang mempertimbangkan dampak ekonomis, poliltis, kultural dan ekologis dari kebijakan tersebut. Selain itu dibutuhkan proses sosialisasi yang tepat dan terus menerus," jelasnya.
Poin kelima, pihaknya mengimbau kepada semua pihak untuk membangun dialog dalam menangani isu-isu sosial bersama.
Hal ini sangatlah selaras dengan budaya Manggarai, yakni lonto leok dalam rangka memperkuat kebersamaan dan kesatuan kita (nai ca anggit, tuka ca leleng).
"Cara atau metode yang digunakan untuk menyampaikan pendapat secara demokratis kiranya tidak berdampak merugikan pariwisata," katanya.
Baca juga: Kawasan Taman Nasional Komodo Manggarai Barat Terbakar Dua Kali