Pilpres 2024

Tak Mungkin Prabowo Gandeng Puan Maharani, Sama Ibunya Aja Kalah Kok, Masa Mau Ulangi Kekalahan?

Politisi senior PDIP Panda Nababan melontarkan pernyataan tajam tentang wacana duet Calon Presiden Prabowo Subianto-Puan Maharani pada Pilpres 2024.

Editor: Frans Krowin
Tribunnews
Politisi senior PDIP, Panda Nababan dalam suatu kesempatan bersama Presiden Jokowi di Kantor DPP PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sementara di sisi kiri, terlihat Tjahjo Kumolo (kini almarhum). 

POS-KUPANG.COM - Panda Nababan politisi senior PDIP ( Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ) melontarkan pernyataan tajam soal duet Calon Presiden - Calon Wakil Presiden yang akan diusung pada Pilpres 2024 mendatang.

Dia mengatakan, wacana tentang duet antara Prabowo Subianto dan Puan Maharani merupakan hal yang tidak rasional.

Bahwa Prabowo Subianto merupakan Ketua Umum Partai Gerindra dan elektabilitasnya tinggi sesuai hasil survei, itu sah-sah saja.

Namun bukan berarti dengan dua aspek tersebut, serta merta PDIP merestui pasangan yang disebut-sebut pantas untuk diusung pada Pilpres 2024 mendatang.

Panda Nababan khawatir, Puan Maharani akan mengalami nasib yang sama seperti Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri ketika berduet dengan Prabowo Subianto pada Pilpres 2009 silam.

Baca juga: Ini Ramalan Firman Manan: Habib Rizieq Shihab Bakal Didekati Para Politisi Bahkan Calon Presiden RI

"Sekarang ini, analisa-analisa politik kadang-kadang banyak juga yang tidak rasional. Seperti halnya menggandeng Prabowo dengan Puan."

"Orang lupa ibunya Puan (Megawati) aja dengan Prabowo kalah (Pilpres 2009)."

"Ya kan tahu 2009 Megawati calon presiden, Prabowo calon wakil presiden, kalah."

"(Dengan ibunya saja) kalah kok. Masa mau diulangi lagi dengan anaknya?" tutur Panda dalam diskusi Adu Perspektif Total Politik yang dikutip, Jumat 22 Juli 2022.

Karena itu, Panda menilai, duet antara Menteri Pertahanan dengan Ketua DPP PDIP tersebut, diramalkan tidak akan ada.

"Artinya tidak mungkin gitu loh (Prabowo-Puan)," ucapnya.

Baca juga: Megawati Soekarnoputri Ternyata Sudah Punya Nama Calon Presiden Tapi Belum Bisa Diumumkan

Dari kekalahan pada Pilpres 2009 tersebut, ia menyatakan duet antara Prabowo-Puan tidak dimungkinkan pada Pilpres 2024 mendatang.

"Sudah pengalaman (Megawati-Prabowo kalah). Ini kan kita belajar dari pengalaman. Ibu Mega dengan Prabowo kalah, sekarang mau diulangi lagi dengan anaknya?" ujar Panda.

Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP mengatakan tak mungkin campur minyak dan air. Tapi jika ada, maka PDIP tetap mendorong agar kerja sama partai itu dalam satu spirit, yakni demi masa depan Indonesia.
Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP mengatakan tak mungkin campur minyak dan air. Tapi jika ada, maka PDIP tetap mendorong agar kerja sama antarpartai itu dalam satu spirit, yakni demi masa depan Indonesia. (Tribunnews.com)

Sementara itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti kerja sama antar partai dalam Pilpres 2024 mendatang.

Dikatakannya, sampai saat ini, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan diusung PDIP, merupakan kewenangan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Akan tetapi, katanya, pasangan capres-cawapres juga harus dibangun melalui kesepahaman bersama antar-parpol pengusung.

Karena, lanjut Hasto, menurut konstitusi, pasangan capres-cawapres diusulkan oleh partai politik atau gabungan parpol. Maka, partai pengusung yang bakal membahasnya.

Baca juga: Jangan Pernah Bermimpi Anies Baswedan Bakal Pinang Puan Maharani: Kedua-Duanya Mau Jadi Capres 2024

"Dan bagi PDI Perjuangan, kerja sama partai politik itu ada kesesuaian aspek ideologi, sejarah, platform partai, dan kesamaan desain bagi masa depan. Bagaimana agenda-agenda strategis yang akan dibuat," terangnya.

Berikutnya, lanjut Hasto, basis massanya pun harus senapas walau tidak mungkin mencampur minyak dan air.

"Jadi, hal-hal ini yang mestinya dilihat secara objektif."

Akan tetapi, katanya, ketika ada minyak dan air, maka tugas PDI Perjuangan, adalah mendorong agar meskipun berbeda, arahnya jelas, sama-sama punya komitmen membangun bangsa negara berdasarkan Pancasila.

Untuk mencapai kesepakatan semacam ini, kata Hasto, tentu dibutuhkan pelbagai pertimbangan yang matang.

Sementara dalam tradisi PDIP, keputusan untuk mengusung Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, siapa calon yang akan diusung, sepenuhnya ada di tangan Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Baca juga: Pemilih PKS Masih Fanatik pada Prabowo Subianto & Anies Baswedan Tapi Ada juga Dukung Ganjar Pranowo

Dan, lanjut dia, sampai saat ini PDIP belum menentukan dan atau memutuskan, siapa figur yang akan diusung untuk menggantikan Presiden Jokowi.

Keputusan tentang itu, sepenuhnya merupakan wewenang Ketua Umum PDIP. "Di PDIP, keputusan itu merupakan kewenangan Bu Mega," tandasnya. (*)

Berita Lain Terkait Capres 2024

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved