Berita Ende Hari Ini
Tiwu Ldapha Ldhero, Surga Tersembunyi di Wilayah Perbatasan Ende-Nagekeo
sudah semakin dikenal oleh masyarakat baik masyarakat yang ada di Kabupaten Ende maupun mereka yang berasal dari luar Ende.
Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi
POS-KUPANG.COM, ENDE - Kabupaten Ende memiliki banyak sekali destinasi wisata alam yang sangat indah. Salah satu destinasi wisata alam tersebut adalah Tiwu (Kolam) Ldapha Ldhero.
Tiwu Ldapha Ldhero terletak di perbatasan antara Kabupaten Ende dan Nagekeo, tepatnya di wilayah Desa Watumite, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende.
Keindahan destinasi wisata alam tersebut semakin lengkap dengan adanya air terjun. Pesona keindahan wisata alam ini tidak bisa dipandang sebelah mata bahkan bisa disejajarkan dengan air terjun lainnya di wilayah Kabupaten Ende.
Baca juga: KPU NTT Jadwalkan Pertemuan Bersama Parpol Peserta Pemilu 2024 dan Parpol Baru
Kini, keberadaan obyek wisata alam tersebut sudah semakin dikenal oleh masyarakat baik masyarakat yang ada di Kabupaten Ende maupun mereka yang berasal dari luar Ende.
Meski begitu, destinasi wisata Tiwu Ldapha Ldhero yang terletak di wilayah persekutuan tanah Phupu, disebelah Kampung Keka itu belum ditunjang dengan serana dan praserana yang memadai.
Kepala Desa Watumite, Kristoforus Aryanto Dei Siu kepada Pos Kupang, Jumat 17 Juni 2022 mengungkapkan,
bahwa, kebutuhan dasar yang harus segera dipenuhi di lokasi wisata air terjun diantaranya pembukaan akses jalan menuju lokasi, pengadaan toilet umum, lopo, gasebo, maupun rabat jalan masuk.
Baca juga: Genjot Momentum Pertumbuhan, Bank Mandiri Injak Gas Penyaluran KUR
Apabila pengembangan destinasi wisata air terjun Ldapha Ldhero itu dilakukan, maka dapat meningkatkan jumlah kunjungan dan lama tinggal wisatawan lokal maupun asing.
"Selain itu, dapat berkontribusi bagi peningkatan ekonomi ditingkat desa melalui Bumdes Tana Ndota dan juga peningkatan PADes," ungkapnya.
Mitos Dibalik Keindahan Tiwu Ldapha Ldhero
Kristoforus mengaku, ada mitos yang telah diwariskan secara turun temurun dibalik keindahan obyek wisata Tiwu Ldapha Ldhero tersebut.
Baca juga: KPU Kota Kupang Beri Sosialisasi Bagi Pemilih Pemula
Dijelaskannya, pada zaman dahulu kala, ada acara gkua lodha (sunatan) untuk seorang anak laki-laki yang akan memasuki masa remaja atau dewasa di sekitar lokasi tersebut.
Acara tersebut biasanya diiringi dengan musik Gko Ldapha (Gong/gendang). Alunan musik gong atau gendang semakin memikat pendengar dan peserta undangan. Acara semakin meriah dengan adanya tari-tarian. Para tamu undangan pun sorak sorai.
Tiba-tiba seorang gadis bernama Lderho hilang dibawa nitu (roh halus). Dalam tradisi adat setempat, orang yang hilang disebabkan nitu rhoko (roh halus sembunyi).
Baca juga: Panti Asuhan Alma Baumata Jadi Surganya Anak-Anak Berkebutuhan Khusus
Untuk mencari orang yang hilang biasanya mereka memukul gong atau gendang disekitar lokasi obyek wisata tersebut.