Berita Manggarai Timur Hari Ini

Bendung Wae Laku Hilir Rusak, Puluhan Petani di Manggarai Timur Enam Bulan Merana

berharap agar Pemerintah bisa memperhatikan keluhan mereka itu dimana membangun kembali bendung yang ambruk. 

Penulis: Robert Ropo | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Aloysius Sani seorang petani sedang memberikan keterangan, Selasa 15 Juni 2022. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo

POS-KUPANG.COM, BORONG - Bendung Wae Laku Hilir di Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur rusak dihantam banjir bandang di sungai Wae Laku. 

Jebolnya bendung itu pada bulan Januari 2022 atau sudah berlangsung enam bulan lamanya dan belum diperbaiki. Akibatnya puluhan petani dari Desa Golo Kantar, Desa Nanga Lanang dan Desa Compang Ndejing pemilik lahan sawah menderita. 

Aloysius Sani (54), seorang petani setempat, kepada TRIBUNFLORES.COM, Selasa 15 Juni 2022, mengatakan sejak bulan Januari 2022 lalu bendung tersebut jebol akibat dihantam banjir sungai Wae Laku.

Dampak bendung yang rusak itu lahan persawahan Mbocok, Senggok,, Lu'ang Sita, Mongkol, bahakan sebagian persawahan di Toka kering tak bisa diairi. 

Baca juga: Begini Harapan Kapus Betun Saat Melakukan Monitoring di Polindes Kateri Malaka

Aloysius mengatakan, luas area persawahan di sejumlah titik itu bisa mencapai 60 lebih hektar dengan pemiliknya mencapai puluhan petani. 

Karena tidak ada air yang mengairi persawahan itu, kata Aloysius, mereka tidak bisa tidak bisa menanam padi. "Sudah 6 bulan ini kami cukup menderita karena kami tidak bisa tanam padi sawah," ujarnya. 

Dikatakan Aloysius, padahal padi sawah itu menjadi sumber hidup bagi keluarganya. Lahan sawahnya bisa menghasilkan padi 600-800 kilogram (Kg). 

"Saya hanya mengharapkan kerja sawah ini saja untuk kebutuhan hidup kami. Ini sawah sudah tidak bisa kerja jadi keluarga saya cukup menderita, saya terpaksa butuh harian untuk bisa penuhi kebutuhan hidup kami termasuk biaya sekolah anak,"ungkapnya.

Aloysius juga meminta kepada Pemerintah Daerah untuk bisa membangun lagi bendung yang rusak itu, agar mereka bisa kembali menanam padi. 

Baca juga: Akademisi Fisip Undana Kupang: Politik Akomodatif

"Harapan kami semoga bapak pemerintah bisa perhatikan keluhan kami ini. Kami juga rencana secara swadaya bangun lagi bendung secara manual pakai tumpuk batu dan material lainya biar tahan saja supaya air bisa masuk mengairi persawahan kami," ungkap Aloysius. 

Laserus Gampul (51) petani lainya juga membenarkan hal itu. Ia mengatakan bendung itu ambruk dihantam banjir pada bulan Januari 2022 lalu. Akibat rusaknya bendung itu, puluhan hektar lahan sawah tidak bisa digarap karena kering tidak ada air. 

"Kami tidak bisa kerja karena air tidak ada. Saya punya luas lahan sekitar setengah hektar dengan hasil sekitar setengah ton beras juga sudah enam bulan saya tidak kerja lagi, memang kering total tidak ada air," Ungkapnya. 

Laserus juga berharap agar Pemerintah bisa memperhatikan keluhan mereka itu dimana membangun kembali bendung yang ambruk. 

"Harapan kami mohon perbaiki lagi. Karena kami sudah menderita selama 6 bulan ini, saya harus kerja harian di orang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup kami dalam keluarga,"ungkapnya.

Baca juga: Update Covid-19 Mabar: Kabar Gembira, Tidak Ada Kasus Positif

Benediktus Magur (41) petani lainya juga menyampaikan hal yang sama. Ia berharap agar Pemerintah bisa membuka mata untuk membangun kembali bendung yang telah ambruk dihantam banjir bandang Wae Laku pada bulan Januari 2022 lalu. (*) 
 

Berita Manggarai Timur Hari Ini

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved