Berita Ende Hari Ini

Serambi Soekarno, Sepenggal Kisah Ketika Bung Karno Bertemu dengan Para Misionaris SVD di Ende

Untuk diketahui bahwa, situs bersejarah tersebut berada di dalam kompleks Biara St. Yosef Ende, persis di sebelah kiri Gereja Katedral Ende

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/TOMMY MBENU NULANGI
SERAMBI - Kondisi situs bersejarah Serambi Soekarno yang berada di Biara St. Yosef Ende. Gambar diambil pada, Jumat 27 Mei 2022 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tommy Mbenu Nulangi

POS-KUPANG.COM, ENDE--Serambi Soekarno merupakan salah satu situs bersejarah yang dibangun oleh seorang misionaris SVD bernama Pater Henri Daros, SVD untuk mengenang pertemuan antara Bung Karno dengan para misionaris SVD khususnya Pater Geradus Huijtink, SVD dan Pater Dr. Johannes Bouma, SVD ketika Bung Karno dibuang ke Ende oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1934-1938.

Di situs bersejarah tersebut dibangunlah sebuah Patung Bung Karno yang sedang duduk bersila dengan sejumlah buku yang diletakkan diatas meja persis disamping patung tersebut.

Selain itu, ada lukisan kedua misionaris SVD bersama dengan Sang Proklamator Bangsa yang terpampang di dinding gedung serambi tersebut.

Situs bersejarah ini diresmikan oleh Bupati Ende Ir. Marselinus Y. W Petu pada tahun 2019. Kini situs tersebut sudah dibuka untuk umum.

Untuk diketahui bahwa, situs bersejarah tersebut berada di dalam kompleks Biara St. Yosef Ende, persis di sebelah kiri Gereja Katedral Ende.

Baca juga: Jelang Hari Lahir Pancasila, Warga Antusias Ikut Parade Kebangsaan di Ende

Situs ini beralamat di Kelurahan Potulando, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bung Karno banyak menghabiskan waktunya untuk berinteraksi dan juga berdiskusi dengan para misionaris SVD dan membaca beragam buku di tempat yang sekarang menjadi Serambi Bung Karno tersebut.

Kepada Pos Kupang, Jumat 27 Mei 2022, Pengelola Serambi Soekarno, Pater Yosef Seran, SVD mengatakan bahwa, kedatangan Bung Karno muda ke biara tersebut untuk membaca buku-buku milik biara.

Bung Karno juga menjadikan biara tersebut sebagai tempat latihan untuk mementaskan tonil-tonil yang sudah disusunnya sendiri.

Tonil-tonil tersebut mengangkat topik berkaitan dengan bagaimana menyatukan Indonesia yang penuh dengan keberagaman dari berbagai suku, budaya, adat istiadat, dan agama menuju kemerdekaan.

Baca juga: Cerita Karyawan di Biara St. Yosef Ende, Serambi Soekarno Punya Kesan Mistis

Setelah berdiskusi, akhirnya para misionaris menyetujui bahwa Tuan Soekarno dapat melatih tonil-tonil di biara tersebut sebelum dipentaskan.

Bahkan latihan pementasan tonil Bung Karno kembali diulangi dalam film berjudul Ketika Bung di Ende pada tahun 2013 lalu.

"Jadi semua tempat ini dipakai untuk persiapan pementasan tonil yang sudah disusun oleh Bung Karno sendiri," ujarnya.

Dijelaskan Pater Yosef bahwa, keinginan para misionaris SVD untuk menerima Bung Karno karena alasan bahwa Bung Karno ingin mementaskan tonil-tonilnya.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved