Pesparani II Kupang
Musik Liturgi dan Pesta Paduan Suara Gerejani: Sebuah Tinjauan Kritis dari Perspektif Pendidikan
Sayangnya, Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik atau Pesparani dalam pelaksanaan di lapangan terlihat lebih menonjolkan sisi kompetisi
Sebaliknya, guru berbasis standar akan mengadaptasi instruksi pembelajarannya dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa secara individu untuk membantu semua siswa mengembangkan potensi dan bakat mereka sehingga bisa menguasai hasil belajar 3 (learning outcomes) yang ingin dicapai.
Musik Liturgi dan Pesta Paduan Suara Gerejani (PESPARANI)
Sesuai dokumen Konstitusi Liturgi, Nomor 112, disebutkan bahwa dalam Gereja Katolik, tujuan dari musik liturgi adalah untuk pemuliaan Allah dan pengudusan umat (www.vatican.va).
Sayangnya, Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik atau Pesparani dalam pelaksanaan di lapangan terlihat lebih menonjolkan sisi kompetisi atau bertujuan untuk menyeleksi Paduan Suara (PS) yang dianggap terbaik menurut juri.
Padahal, dalam dokumen Pedoman Penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejani pun, kata kompetisi tidak disebutkan. Yang disebutkan dalam dokumen tersebut ialah bahwa kegiatan ini merupakan aktivitas seni budaya masyarakat (umat) Katolik dalam bentuk pagelaran dan musik liturgi yang bertujuan mengembangkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan masyarakat atau umat Katolik terhadap ibadah/ liturgi gerejani.
Di sini jelas terlihat bahwa ide dasar kegiatan Pesparani adalah untuk pengembangan potensi umat Katolik dalam hal musik liturgi dan bukan untuk kompetisi atau bukan untuk menyeleksi siapa yang terbaik.
Baca juga: Menuju Pesparani II Kupang NTT, PLT Dirjen Bimas Katolik Buka Rakernas LP3KN-LP3KD
Jelas terlihat bahwa baik dalam dokumen-dokumen resmi Gereja Katolik yang berhubungan dengan musik liturgi maupun dalam dokumen resmi negara yang berhubungan dengan Pesparani, tidak satu pun yang menyebutkan kata kompetisi.
Lalu, kenapa dalam kegiatan Pesparani yang ada sekarang terlihat jelas bahwa kita terlalu berfokus pada kompetisi alias mau menyeleksi yang terbaik dengan segala macam kategori dan kriteria yang belum tentu juga objektif dan terukur?
Kalaupun dalam dokumen resmi negara dicantumkan kata kompetisi, atau dengan kata lain bahwa tujuan dari Pesparani adalah untuk menyeleksi paduan suara terbaik, maka jelas hal ini bertentangan dengan roh dari musik liturgi Gereja Katolik karena tujuan musik liturgi dalam Gereja Katolik seperti disebutkan dalam dokumen Konstitusi Liturgi, Nomor 112, adalah untuk pemuliaan Allah dan pengudusan umat dan bukan untuk mencari siapa yang lebih baik dari yang lain atau paduan suara mana yang dianggap terbaik.
Akhirnya, tulisan ini ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan reflektif untuk kita semua terutama bagi mereka yang peduli terhadap musik liturgi dan juga pendidikan secara umum.
Pertama, apa tujuan dari Pesta Paduan Suara Gerejani yang kita adakan dan kita ikuti dengan sangat antusias? Apakah tujuannya adalah untuk berkompetisi dan menyeleksi siapa yang terbaik?
Kalau tujuannya lebih berfokus pada kompetisi dan menyeleksi maka bisa dipastikan bahwa kegiatan Pesparani ini sudah tidak sejalan dengan tujuan sesungguhnya dari Musik Liturgi dan semangat yang ada di dalam Konstitusi Liturgi Gereja Katolik dan tidak sesuai dengan tujuan yang ada dalam dokumen resmi negara tentang Pesparani.
Dalam situasi dunia zaman sekarang, kita hendaknya lebih menanamkan kerjasama dan bukan menanamkan kompetisi serta persaingan yang sebetulnya tidak perlu (Carlin, 2019).
Seperti yang diuraikan pada awal tulisan di atas, sama seperti bidang pendidikan, jika musik liturgi ataupun kegiatan Pesparani hanya bertujuan untuk berkompetisi atau menyeleksi maka kegiatan seperti ini seringkali gagal memberikan manfaat bagi mereka yang terlibat dan juga gagal untuk memperhatikan mereka yang sebenarnya berpotensi.
Kalau tujuan Pesparani adalah untuk mengembangkan potensi umat Katolik dalam bidang musik liturgi, maka fokus dari kegiatan yang ada sekarang perlu direvisi dan diarahkan ulang.