Berita Kupang Hari Ini

Petani Milenial NTT Raup Cuan Dari Ternak Babi

Syahrul optimistis kaum milenial yang inovatif dan memiliki gagasan yang kreatif akan mampu mengawal pembangunan

Penulis: Edy Hayong | Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/HO-BBPP KUPANG
Petani Milenial NTT Raup Cuan Dari Ternak Babi 

POS-KUPANG.COM, KUPANG  - Upaya Kementerian Pertanian untuk terus menghadirkan sumber daya manusia pertanian yang berkualitas guna memaksimalkan pembangunan pertanian sangat gencar dilakukan.

Salah satunya melalui program PWMP di SMK-PP Negeri Kupang yang terus berupaya memaksimalkan potensi dari generasi muda petani milenial agar dapat menciptakan job creator di masa depan khususnya di bidang pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menyatakan pertanian harus didorong menjadi subsektor ekonomi yang maju, mandiri dan modern yang didukung oleh kapasitas SDM pertanian yang profesional, mandiri dan berdaya saing.

Baca juga: Kapolres Kupang Siap Jamin Keamanan Pembangunan Bendungan Manikin

“Dan hal tersebut harus didukung oleh kapasitas SDM Pertanian yang professional, mandiri dan berdaya saing,” ujar Mentan Syahrul.

Syahrul optimistis kaum milenial yang inovatif dan memiliki gagasan yang kreatif akan mampu mengawal pembangunan pertanian yang maju, mandiri, modern.

Senada dengan pernyataan Mentan, Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi juga mendukung program PWMP dan menyemangati para pelaku usaha milenial untuk mensukseskan pertanian.

Baca juga: Terangi 4 Desa di Manggarai Barat dan Manggarai Timur PLN Gelontorkan Dana Rp  9 M

"SDM yang tentunya berdaya saing tinggi, berkompetensi dan jeli melihat potensi pasar," katanya, saat menjelaskan dukungan-dukungan yang diberikan BPPSDMP terhadap program kegiatan BPPSDMP yang menjadi skala prioritas “ujar Dedi.

Kali ini salah satu siswa SMK-PP Negeri Kupang yaitu  Alesandro . I. A . Lomi adalah salah satu siswa penerima program PWMP tahun 2017. Komoditi yang dia pilih adalah usaha ternak babi. Adapun alasan Lomi memilih komoditi babi karena daging babi banyak dicari oleh masyarakat atau konsumen untuk kebutuhan sehari-hari, pesta, dan acara-acara besar keagamaan maupun acara-acara adat.

Permintaan di masyarakat kian hari kian tinggi. Kelebihan daging babi daripada daging ternak lainnya yaitu cita rasanya lebih gurih dan empuk. Hal ini membuat daging babi sangat diminati masyarakat, khususnya di daerah yang berpenduduk mayoritas non muslim seperti di Bali, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Toraja,  Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Baca juga: Pengrusakan Dua ATM BNI di Labuan Bajo, Polisi Periksa Saksi-Saksi

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman dilapangan (pasar) pada tahun 2020 harga daging babi Rp. 75.000/Kg dan pada tahun 2021 meningkat menjadi Rp.100.000/Kg. Sedangkan hasil olahan daging babi yaitu Se’i dari harga Rp.150.000/Kg naik menjadi Rp.250.000/kg.  Hal ini menunjukan bahwa ternak babi memiliki prospek yang cukup menjanjikan bagi peternak babi.

“Dengan peluang inilah diharapkan usaha ini dapat berkembang dengan pesat karena selain untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan masyarakat, dagingnya pun menjadi favorit untuk diolah menjadi berbagai variasi makanan,” jelas Lomi.

Bertempat di daerah Oesao, Lomi membangun kandang ternak babi tepat di belakang rumahnya. Dengan bermodal awal membeli 4 ekor anak babi berumur 1 bulan seharga Rp.1.000.000/ekor. Anak babi tersebut terdiri dari 3 (tiga) ekor betina dan 1 (satu) ekor jantan. saat ini.

Baca juga: Pemda Lembata Berkunjung ke Istana Raja Larantuka Sebagai Wujud Lewo Kakan Arin 

Untuk biaya satu kali inseminasi buatan sebesar Rp1.000.000 untuk menghasilkan anak babi yang berkualitas. Untuk penjualan anak babi, satu ekor dibandrol dengan harga Rp1.000.000. Ada sekitar 10 anak babi yang berhasil terjual, sehingga pendapatannya Rp.10.000.000.

Untuk penjualan semen cair saat ini masih dilakukan secara langsung yaitu peternak babi yang datang ke lokasi usaha , telepon serta melalui media sosial seperti facebook dan whatsapp.  Semen cair yang berhasil dijual sebanyak 10 semen dengan harga jual Rp400.000 sehinga dari semen cair, Lomi dapat penghasilan Rp4.000.000.

Usaha tanpa tantangan dan hambatan bukanlah disebut usaha. Hambatan yang dialami selama menjalankan usaha ternak Babi inisalh satunya adalah masalah penyakit yaitu wabah African Swine Fever (ASF). Penyakit ini sangat menular dan menyebabkan kematian pada babi hingga 100 % .

Baca juga: Tanggapan Pelatih Barcelona Xavi Hernandez Terkait Rumor Frenkie de Jong ke Manchester United

Virus ini dapat bertahan hidup di lingkungan dan relatif lebih tahan terhadap disinfektan serta belum ada obatnya. Sehingga upaya yang dilakukan adalah isolasi hewan sakit dan peralatan serta dilakukan pengosongan kandang selama 2 bulan. Karena virus inilah yang mengakibatkan kerugian sangat besar.

“Harapan saya kedepannya walaupun usaha ini masih dalam skala kecil, tetapi saya optimis dapat mengembangkan usaha ternak babi menjadi lebih besar mengingat daging babi menjadi favorit bagi masyarakat,” tutur Lomi.(*)

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved