OPINI

Pendidikan dan Masyarakat

Hasil akhir dari proses belajar adalah memberikan kontribusi dalam interaksi individu bersama masyarakat

Editor: Edi Hayong
HO-ILUSTRASI.
Foto ilustrasi merdeka belajar 

Pendidikan dan Masyarakat

Oleh : Mario Djegho*)

PERJALANAN hidup manusia tidak (bisa) terlepas dari kegiatan belajar. Manusia, baik individu maupun kelompok selalu meramu pikiran dan kehendaknya untuk melahirkan perubahan-perubahan dengan mempelajari pola realitas. Manusia selalu mengingat aktivitas sebelumnya, melakukan refleksi, menentukan keputusan, hingga menciptakan inovasi. Semua itu ditunjang oleh daya kreasi dan olahan pengalaman yang diperolehnya dari proses belajar.

Hal tersebut secara perlahan mendorong manusia untuk berevolusi, membangun kehidupan bermasyarakat, merangkai kebudayaan, dan melahirkan peradaban. Aktivitas tersebut terus berlanjut secara berkesinambungan dan terpola, sebab manusia selalu berpijak pada aspek pertama, yaitu belajar.

Pada hakikatnya, belajar adalah sebuah aktivitas atau proses internal di dalam diri individu untuk mengolah rekaman realitas (pengalaman), mengingat prinsip-prinsip prioritas, membentuk imajinasi kreatif, serta melahirkan ide atau gagasan tertentu guna menciptakan perubahan kognitif, afektif, dan konatif dalam interaksi sosial. Hasil akhir dari proses belajar adalah memberikan kontribusi dalam interaksi individu bersama masyarakat. Interaksi yang intens tersebut akan mendorong individu untuk membentuk karakter dan nilai-nilai personalnya sesuai ketentuan-ketentuan di dalam lingkungannya.Tahapan dan pola-pola tersebut menjadi dasar bagaimana kegiatan belajar dan perkembangan masyarakat saling berhubungan satu sama lain.

Baca juga: Nyeri Perut? Hati-hati Appendicitis, Begini Penjelasan Dokter Reynold Yusmar

Kegiatan belajar bisa diaktualisasikan melalui pendidikan dan pengalaman. Pada masa pra-industri, kegiatan belajar dilakukan dengan mengamati dan mempelajari pola aktivitas individu atau kelompok sebelumnya terhadap satu spesifikasi kerja. Hal itu secara tidak langsung membawa serta semua nilai, sikap, dan prinsip-prinsip individu atau kelompok tertentu dalam kegiatan belajar. Tidak heran, terdapat begitu banyak pembauran kebudayaan, baik secara difusi, akulturasi, maupun asimilasi. Sedangkan, dewasa ini, kegiatan belajar lebih merujuk pada konsep pendidikan yang mengacu pada eksistensi lembaga sekolah sebagai wadah pembentukan (formasi).

Secara leksikal, terminologi pendidikan diadopsi dari kata Yunani “paedagogie” yang berarti pendidikan dan “paedagogia” yang berarti bermain dengan anak. Selain itu, kata pendidikan juga sering digunakan oleh Bangsa Roma dengan istilah “educare” dan Bangsa Jerman dengan istilah “erziehung” yang sama-sama berarti mengeluarkan dan menuntun. Dengan kata lain, pendidikan berarti mengeluarkan atau mengeksplorasi potensi individu secara positif dan produktif serta menuntunnya dalam bidang peminatan masing-masing agar mampu membawa perubahan yang berguna (konstruktif).

Dalam praksisnya, sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan bertugas untuk menuntun dan mengeksplorasi seluruh potensi yang dimiliki oleh setiap generasi ketika (sedang) mengenyam pendidikan. Sekolah dipandang sebagai rekan masyarakat dan penghasil Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Masyarakat selalu menganggap sekolah sebagai muara harapan yang mampu membentuk generasi emas masa depan melalui SDM yang unggul dan literat. Dengan kata lain, sekolah merupakan cerminan masyarakat sekaligus pilar pembangunan dan perbaikan masyarakat.

Baca juga: Posting Video Singkat di Medsos, Netizen Sebut Kelakuan Hotman Paris yang Satu Ini Membosankan

Namun, di era konvergensi media saat ini, hubungan erat antara pendidikan dan masyarakat sedikit memperoleh celah akibat retakan proses formasi yang (sedikit) mendiskreditkan fungsi sosial pendidikan itu sendiri. Generasi muda lebih cenderung menguyah teori ketimbang praksis hidupnya di tengah masyarakat. Fatalnya, kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terlampau cepat mendahului SDM yang ditempah oleh proses pendidikan. Akibatnya, penanaman nilai-nilai sosial, budaya, dan karakter tidak berjalan seirama dengan pemberian pengetahuan, sehingga moralitas dan fungsi sosialnya di masyarakat menjadi prematur. Tidak heran, output kegiatan belajar dengan konsep-konsep pendidikan formal akan merosot jauh di bawah kalangan pembelajar berdasarkan pengalaman.

Di sisi lain, pada tahun 1896, seorang ahli pendidikan, John Dewey pernah membangun Sekolah Percobaan (Laboratory School) di Chicago untuk mengembangkan pengalaman belajar di dalam kelas sebagai bentuk kehidupan yang bisa menumbuhkan semangat sosial, saling membantu, dan gotong royong. Hal itu didorong oleh semakin merosotnya “peranan persiapan” anak didik di tengah proses pendidikan. Menurutnya, lembaga pendidikan belum mampu menyadari hadirnya “masyarakat baru” kala itu. Anak didik, terangnya, akan lebih mengacu pada hasil ketimbang proses dan tahapan menujunya. Semua menjadi berseberangan dengan konteks kehidupan yang kompleks. Untuk itu, melalui Sekolah Percobaan tersebut, Dewey ingin memacu kembali peranan lembaga pendidikan (sekolah) sebagai jembatan antara kegiatan belajar dan masyarakat itu sendiri (Idi, Abdullah. Sosiologi Pendidikan. 2011).

Baca juga: TPNPB Umumkan Duka Nasional, Sosok Berjasa Bagi Papua Merdeka Ini Meninggal Dunia Secara Tidak Wajar

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved