Perang Rusia Ukraina

Rusia Terus Kepung Mariupol Ukraina, Volodymyr Zelensky Beri Peringatan Keras ke Vladimir Putin

Ancaman Zelensky pada Putin jika Rusia Bunuh Satu Tentara Terakhir Ukraina di Pabrik Baja Mariupol

Editor: Eflin Rote
Via Intisari.Grid.ID
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina , Volodymyr Zelensky 

Pengambilalihan pelabuhan Laut Azov adalah tujuan utama perang Rusia dan akan melepaskan lebih banyak pasukan untuk bergabung dalam serangan Rusia di wilayah Donbas timur.

Palamar mengatakan, Rusia telah menembaki pabrik baja dari kapal perang dan menjatuhkan bom penghancur bunker di atasnya, dikutip dari BBC.

Svyatoslav Palamar, dari resimen Azov, mengatakan kon
Svyatoslav Palamar, dari resimen Azov, mengatakan kondisi di tempat persembunyian di Pabrik Baja, Mariupol. (Tangkap Layar BBC)

"Semua bangunan di wilayah Azovstal praktis hancur. Mereka menjatuhkan bom berat, bom penghancur bunker yang menyebabkan kehancuran besar."

"Kami telah terluka dan ada tewas di dalam bunker. Beberapa warga sipil tetap terperangkap di bawah bangunan yang runtuh," kata Kapten Palamar.

Resimen Azov awalnya adalah kelompok neo-Nazi sayap kanan yang kemudian dimasukkan ke dalam Garda Nasional Ukraina.

Para pejuangnya bersama dengan brigade Marinir, penjaga perbatasan dan petugas polisi adalah pembela Ukraina terakhir yang tersisa di kota.

Ketika ditanya berapa banyak pasukan Ukraina yang bertahan dan tersisa di Mariupol, Kapten Palamar menjawab 'cukup untuk mengusir serangan'.

Dia mengatakan bahwa warga sipil berada di lokasi terpisah jauh dari pejuang.

Mereka berada di ruang bawah tanah yang masing-masing berisi 80-100 orang, tetapi tidak jelas berapa jumlah total warga sipil karena beberapa bangunan telah dihancurkan dan pejuang tidak dapat menjangkau mereka karena penembakan.

Dan pintu masuk ke beberapa bunker di Mariupol diblokir oleh pelat beton berat yang hanya bisa digerakkan oleh alat berat, katanya.

Satelit mendapatkan gambar adanya kuburan massal di Mariupol, yang diduga karena kekejaman tentara Rusia, Kamis (21/4/2022). (Sumber: Satellite image ©2022 Maxar Technologies via AP)
Satelit mendapatkan gambar adanya kuburan massal di Mariupol, yang diduga karena kekejaman tentara Rusia, Kamis (21/4/2022). (Sumber: Satellite image ©2022 Maxar Technologies via AP) (Via Kompas.TV)

"Kami tetap berhubungan dengan warga sipil yang tinggal di tempat-tempat yang bisa kami datangi. Kami tahu ada anak kecil di sana yang berusia tiga bulan," katanya.

Pejuang itu mengimbau warga sipil untuk diberikan jalan keluar yang aman dari pabrik baja dan menyerukan negara ketiga atau badan internasional untuk bertindak sebagai penjamin keselamatan mereka.

“Orang-orang ini telah melalui banyak hal, melalui kejahatan perang. Mereka tidak mempercayai orang Rusia, dan mereka takut,” katanya.

Warga sipil lanjut usia di pabrik baja membutuhkan obat-obatan, sementara ada juga sekitar 500 pejuang yang terluka parah yang tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan, termasuk operasi besar seperti amputasi.

"Setelah 52 hari blokade dan pertempuran sengit, kami kehabisan obat-obatan. Dan kemudian kami juga menyimpan mayat para pejuang kami yang tidak terkubur yang perlu kami kubur dengan bermartabat di wilayah yang dikuasai Ukraina," katanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved