Berita NTT Hari Ini

Komunitas Au Manekat Tasi Kembali Tanam Bibit Terumbu Karang di Teluk Kupang 

tidak ada kendala dalam mendapatkan bibit terumbu karang. Bibit ini memang butuh substrat atau media untuk bertumbuh

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK.PRIBADI
Komunitas Au Manekat Tasi saat mempersiapkan terumbu karang untuk dilakukan penanaman di perairan teluk Kupang, Sabtu 9 April 2022 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Komunitas Au Manekat Tasi kembali menggerakkan penanaman bibit terumbu karang di wilayah laut Teluk Kupang sejak Badai Seroja menimpa wilayah laut Kota Kupang. 

Pada 9 April 2022 komunitas yang dipimpin oleh Aipda Joel Bolang ini melakukan penanaman bibit baru di batu karang yang sudah mati. Tiap titik penanaman ini telah dipersiapkan pada tanggal 2 April. Ada sekitar 300 bibit baru yang dipasang saat itu.

Bibitnya sendiri dari bekas terumbu karang yang terdampak Badai Seroja dan ditemukan masih hidup di pasir.

Anggota Dit Polair Polda NTT ini menyebut ada sekitar 300 bibit terumbu karang di wilayah Pantai Nunhila yang berhasil ditransplantasi. 

Baca juga: Terima Aset Tanah Kerangan, Bupati Edistasius Endi: Akan Kelola Untuk Masyarakat dan Pemda

Kegiatan seperti ini telah dilakukan keempat kalinya pasca Badai Seroja. Awal proses dilakukan pasca badai 5 April 2021 itu. Komunitas ini telah menambah bibit terumbu karang baru di lokasi terdampak. Hampir 2000 yang ditanam kembali hingga dengan saat ini. 

Wilayah Teluk Kupang yaitu di laut Namosain telah sebanyak dua kali ditanam dengan 250 bibit pertama kali lalu 1.200 bibit pada kali kedua. Kemudian di laut Air Cina sekitar 500 bibit lalu yang terakhir ini 300 bibit. 

"Semua bibit baru yang kita ambil dari alam yang ada peluang hidup," ungkapnya saat dijumpai pada Senin, 11 April 2022.

Terdapat sekitar 20 anggota di komunitas ini baik penyelam maupun bukan penyelam. Penyelam bertugas terkait dengan media paku diikat di dalam laut. Sedangkan media tanam spider atau kerangka besi berbentuk jaring laba-laba bisa diikat di darat bibitnya lalu dibawa ke dalam laut.

Baca juga: Pimpinan DPRD NTT Bakal Sambut Demonstran

Rata-rata ada 8 hingga 10 penyelam yang turun ke dasar laut membawa bibit terumbu karang ini. Sementara untuk merangkai rangka spider ini memang membutuhkan banyak tenaga. Untuk merangkainya harus cepat dilakukan agar tidak cepat mati bibitnya sebelum dibawa ke laut.

Progres penanaman pada proses awal yang dilalukan komunitas ini sendiri presentasi kehidupannya telah 90 persen dan sisanya terdampak sampah yang nyangkut di bibit tersebut sehingga menghambat pertumbuhan.

Maka dari itu tiap bulan timnya memeriksa pertumbuhan tiap bibit yang ditanam agar tidak terhambat dengan membersihkan terumbu karang yang mulai berkembang ini dari sampah.

Baca juga: Rektor Undana Larang Mahasiswa Kenakan Atribut Kampus Saat Demonstrasi

"Sampah lebih dari seminggu saja bibit-bibitnya bisa mati karena tidak bisa makan," jelas dia lagi. 

Menurut dia, tidak ada kendala dalam mendapatkan bibit terumbu karang. Bibit ini memang butuh substrat atau media untuk bertumbuh sehingga bibit yang ditemukan di pasir harus segera dimanfaatkan untuk berkembang kembali.

Bibit ini bisa didapatkan juga dengan snorkeling di sekitar Bolok dan Semau. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved