Berita Manggarai Barat Hari Ini
Musim Hujan Belum Usai, Fenomena Pergerakan Tanah Masih Ancam Warga Manggarai Barat
Pergerakan tanah itu mengancam sebanyak 114 kepala keluarga di Desa Persiapan Benteng Tado
Penulis: Gecio Viana | Editor: Edi Hayong
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana
POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Musim hujan yang belum usai di wilayah Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat mengakibatkan warga masih terancam fenomena pergerakan tanah.
Pergerakan tanah itu mengancam sebanyak 114 kepala keluarga di Desa Persiapan Benteng Tado, Kecamatan Sano Nggoang.
Fenomena pergerakan tanah yang terdeteksi sejak 2018 lalu mengakibatkan sebanyak 2 rumah rusak berat dan 9 rumah lainnya rusak sedang di dua kampung, yakni Kampung Wae Munting dan Kampung Dange.
Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Manggarai Barat, Sti Nenotek, , Sabtu 2 April 2022 mengatakan, musim hujan di daerah yang mengalami pergerakan tanah itu masih berlangsung hingga akhir April 2022.
Baca juga: Atasi Stunting di Sikka, Pemkab Sikka Beri Makanan Tambahan Buat Anak-anak
"Untuk bagian selatan Sano Nggoang di pesisir memasuki musim kemarau lebih awal atau pada April 2022. Tapi untuk kampung ini, karakteristiknya lebih ke daratan tinggi pada akhir bulan April atau perbedaan 2 minggu, atau pada akhir april 2022. Jadi karena kita memasuki bulan kemarau pada April, otomatis potensi musim hujan masih ada. Walaupun tidak setiap hari terjadi hujan, namun potensi terjadi hujan masih ada pada akhir April," katanya.
Sti menjelaskan, musim kemarau di daerah itu akan terjadi pada Mei 2022.
"Namun, dalam bulan ini masih ada potensi hujan sedang lebat, walaupun tidak terjadin setiap hari. Otomatis, jika dikaitkan dengan bencana pergerakan tanah ini, kita perlu antisipasi dalam beberapa minggu ke depan hingga akhir april ini sampai akhir bulan April," jelasnya.
Baca juga: Pergerakan Tanah Semakin Parah, Warga Harap Pemda Mabar Segera Tetapkan Status Bencana
Terkait permintaan agar pakar geologi melakukan kajian terkait fenomena pergerakan tanah, Sti menjelaskan, Wakil Bupati Mabar, dr Yulianus Weng telah meminta kepada Kepala Stasiun Geofisika Kupang.
Pihak Stasiun Geofisika Kupang, lanjut Sti, akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tepatnya Pusat vulkanologi mitigasi bencana geologi (PVMBG).
"Kepala stasiun berkoordinasi dengan PVMBG untuk meminta tim turun agar melakukan penelitian," katanya. (*)