Berita Kupang Hari Ini
Warga Desa Pathau Kabupaten Kupang Mulai Kesulitan Air Bersih
Sebagai makanan pokok bersama dengan nasi, jagung tersebut bisa mereka atur sehingga bisa bertahan hingga musim tanam berikut.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ryan Tapehen
POS-KUPANG.COM, OELAMASI - Desa Pathau di Kecamatan Amabai Oefeto Timur mulai seiring masuknya maim kemarau mulai merasakan debit air bersih yang mulai berkurang.
Bahkan bila sumber air mulai mengering seperti sungai-sungai yang hanya mengalir di musim hujan mereka harus menempuh berkilo-kolometer untuk bisa mengakses air bersih.
Salah satu warga dusun 3 desa Pathau, Maklon Bani menjelaskan wilayah mereka tidak ada sumber air.
"Dulu pernah dapat bantuan sumur bor tapi setelah bor sampai kedalam 70 meter sudah tidak dapat air mereka pindahkan ke tempat lain bukan di dusun kami lagi," ungkapnya, Senin 1 April 2022.
Baca juga: Mendulang Pahala di Bulan Suci, Berikut 11 Amalan Sunnah yang Bisa Dikerjakan di Bulan Ramadhan
Kata dia puncak kekeringan akan terjadi pada bulan Oktober, biasanya mereka harus rela mengeluarkan uang 10 ribu rupiah untuk membeli air 3 jeriken ukuran 25 liter.
Selain itu selama musim kemarau nanti Maklon mengatakan mereka harus melakukan manajemen air dengan baik sebab jarak sumber air terdekat 3 kilometer.
Karena kesulitan air, dimusim panas mereka bahkan tidak bisa memanfaatkan lahan pekarangan bahkan kebun mereka untuk diolah.
Akibatnya pada musim panas mereka hanya bisa mengandalkan pasokan bahan makanan yang dihasilkan saat musim hujan seperti jagung.
Baca juga: Kepala Bidang HAM Kemenkumham NTT Laksanakan Monev IPK dan IKM
Kepala Desa Pathau, Nus A. Bani menambahkan penghasilan utama masyarakat desa Pathau adalah pertanian komoditas jagung.
"Kalau musim hujan disini semua pasti tanam jagung," ujarnya.
Sebagai makanan pokok bersama dengan nasi, jagung tersebut bisa mereka atur sehingga bisa bertahan hingga musim tanam berikut.
Sementara pada musim kemarau lahan mereka tidak bisa ditanami apa-apa karena tidak ada sumber air yang bisa mengairi lahan tersebut.
Baca juga: Lapas Lembata Senam bersama Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-58
Hasil pokok pada musim kemarau mereka bergantung pada hasil pohon asam yang mereka kumpulkan untuk kemudian ditimbang agar bisa membeli bahan kebutuhan pokok.
Kades Bani menambahkan, itu yang terjadi selama ini sehingga.
Dia berharap pemerintah bisa memberikan perhatian pada mereka soal kebutuhan mereka terhadap air bersih.
"Kadang kalau musim panas kami bisa datangkan tangki air untuk masyarakat di wilayah yang susah air," tukasnya.(*)