Kenali Gejala Covid Pada Anak, Segera Bawa untuk Diperiksa Sebelum Terlambat!

satu dari sembilan kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun. Jumlah kasus COVID-19 pada anak dilaporkan

Editor: Ferry Ndoen
Shutterstock
Shutterstock Ilustrasi 

Artikel ditulis oleh dr. Atika Sari Pasande, Dokter RSUD Umbu Rara Meha Waingapu.

CORONAVIRUS disease atau yang dikenal dengan COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada tahun 2019. 

Virus ini diketahui menular lewat percikan air ludah orang yang terinfeksi (airbone) dan menular dengan sangat cepat hingga ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Virus ini tidak pandang bulu, menyerang bukan hanya orang dewasa, bahkan juga anak, remaja bahkan penularan dapat mungkin terjadi dari ibu ke bayi baru lahir. 

Data terakhir menuliskan, satu dari sembilan kasus konfirmasi COVID-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun. Jumlah kasus COVID-19 pada anak dilaporkan memang tidak sebanyak dewasa, sebagian besar anak mengalami gejala ringan dan lebih sedikit yang memerlukan perawatan di rumah sakit dibandingkan dengan dewasa. 

Meskipun sangat jarang, anak dengan COVID-19 dapat mengalami gejala berat bahkan hingga kematian. Sebanyak 3-5% dari seluruh kasus COVID pada anak mengalami kematian dan setengahnya adalah balita.

Menurut Central of Disease Control and Prevention (CDC), masa inkubasi atau rentang waktu antara seseorang terkena virus dan timbul gejala  pada anak sama dengan dewasa yaitu sekitar 2-14 hari, dengan rata-rata 6 hari.  Anak akan mengalami beragam keluhan, seperti:

1.      Gejala umum berupa demam, cepat capai, sakit kepala, pegal atau sakit badan

2.      Gejala pernapasan berupa batuk, pilek, hidung tersumbat, hilang penciuman, sakit tenggorokan, sesak napas atau susah bernapas

3.      Gejala pencernaan berupa nyeri perut, diare, mual dan muntah serta malas makan.

Gejala yang paling sering dialami adalah batuk dengan/tanpa demam diikuti oleh sakit kepala, kelelahan, nyeri tenggorokan. Gejala yang dialami rata-rata selama 6 hari, lebih singkat bila dibandingkan dengan dewasa (11 hari).  Bahkan sebagian besar anak tidak memiliki gejala atau gejala ringan, tetapi tetap dapat menularkan ke orang lain.

Timbulnya batuk, demam, atau nyeri tenggorokan mirip dengan gejala pada penyakit lain seperti influenza, faringitis (radang tenggorokan) atau alergi, sehingga sering kali disepelekan oleh orang tua dengan tidak memeriksakan anaknya ke dokter dan mengobati sendiri. Orang tua baru memeriksakan anaknya saat gejala memberat, timbul sesak napas, anak lemah, sehingga anak sudah jatuh ke dalam kondisi berat. 

Beberapa penelitian menyebutkan, anak dengan kelainan genetik, penyakit jantung bawaan, obesitas, diabetes, asma, gangguan saraf dapat meningkatkan risiko anak menjadi COVID-19 gejala berat. Anak dengan penyakit penyerta seperti ini perlu perhatian lebih apabila mengalami gejala-gejala seperti yang disebutkan di atas.

Hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan mencegah penularan penyakit ini. Upaya pencegahan harus melibatkan seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dan yang melakukan kontak erat dengan anak. Lakukan protokol kesehatan yang sudah dianjurkan pemerintah yaitu dengan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak minimal 2 meter dengan orang lain, dan menghindari kerumunan seperti bepergian atau berekreasi kecuali untuk urusan penting. 

Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak berusia >2 tahun dianjurkan untuk memakai masker bila keluar rumah dan bertemu orang lain. Masker dipilih sesuai dengan ukuran wajah anak, yang dapat menutup rapat hidung dan mulut anak.

 Apabila anak menolak memakai masker, jangan dipaksa atau dimarahi, ajarkan secara terus menerus dan berikan contoh dengan cara orang tua dan keluarga memakai masker. Anak adalah peniru yang handal, mereka melakukan apa yang mereka lihat.

Selain melakukan protokol kesehatan, upaya pencegahan penularan COVID-19 dapat dilakukan dengan vaksinasi. Sejak Juli 2021, pemerintah telah memberikan izin vaksinasi untuk anak usia 12-17 tahun dengan menggunakan vaksin Sinovac.

 Sebelum disuntik, anak akan berkonsultasi dengan dokter mengenai penyakit yang diderita sebelumnya, sehingga hanya anak yang memenuhi syarat yang akan divaksin. 

Orang tua tidak perlu ragu untuk membawa anaknya untuk vaksin karena vaksin Sinovac telah teruji keamanannya untuk anak >12 tahun. Penularan penyakit COVID-19 dari anak ke orang dewasa atau sebaliknya dapat dicegah dengan melakukan protokol kesehatan dengan benar dan vaksinasi bagi anak usia >12 tahun. (*)

Shutterstock
Ilustrasi
Shutterstock Ilustrasi (Shutterstock)
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved