Cerpen

Surat Sakti untuk Umbu 

Umbu, surat sakti ini Bapak tulis akhir Januari 2022 ketika hujan air mata sudah berhenti. Sekarang Bapak sudah sehat walafiat.

Editor: Agustinus Sape
KOMPAS.com
Ilustrasi 

Sejatinya Bapak tidak rela engkau menderita setelah orang tua mati. Sebab itu, selama Bapak masih hidup, Bapak tidak terus-menerus memberi setiap apa yang engkau minta.

Maksudnya apa, supaya engkau belajar tentang kehidupan nyata. Engkau tahu suka-dukanya sehingga nanti engkau menjadi manusia sukses yang pantang menyerah.

Ketika engkau dewasa, Bapak beri pancing sehingga engkau pancing sendiri ikan dari kolam kehidupan. Seandainya Bapak berikan  terus setiap apa yang engkau minta, maka Bapak sangat takut kalau nanti engkau hanya mampunya meminta.

Engkau bukanlah manusia boneka, Umbu! Bapak mau engkau jadi manusia sukses seperti yang lain, dan kalau boleh melebihi yang lain.

Di sinilah bedanya engkau dengan Bapak. Umbu menuntut supaya Bapak perlakukan engkau yang sudah dewasa sama dengan ketika engkau masih kecil. Karena perlakuannya beda, maka engkau menghajar Bapak yang  menurut penilaianmu sendiri Bapak jahat, kikir, dan pelit sehingga tidak beri ATM dan PIN ATM.

Ya, Bapak terima kenyataan, Bapak babak belur, pingsan, dan masuk rumah sakit. Mungkin saja mamamu yang  sudah mati, seandainya saja masih hidup dan menyaksikan langsung dalam video yang viral, maka pasti saja ia marah karena mama sungguh paham, bahwa jikalau bukan Bapak yang menabur benihdi rahim mamamu, maka tidak akan terjadi kamu ada bumi ini.

Tetapi Bapak tahu, mama kamu hanya marah sesaat. Dia bukan perempuan pendendam. Dia perempuan murah hati. Bapak sesalah apa pun, mama kamu selalu maafkan. Apa lagi anak kandung dari dirinya sendiri?

Umbu, sejujurnya saya katakan, bahwa Bapak sakit karena disakiti. Saya pingsan dan opname, tetapi untungnya Bapak masih hidup. Seandainya Bapak mati, maka yang malu bukan saya. Bapak sudah mati, mau tahu dari mana lagi. Kamu buang ke laut lepas atau kamu biarkan saja jasad Bapak dimakan anjing, daku panewiki, ango.

Cuma saja hati ini terus bersedih kalau cucu-cece yang tidak menyakiti, mereka memikul rasa malu sepanjang sejarah keturunan karena telanjur mereka memiliki ayah yang  membunuh ayah kandungnya.

Sesungguh tidak beralasan engkau membenci Bapak. Kamu cuma dua orang yang bersaudara. Harta warisan sudah dibagi rata, dan masing-masing anak dengan rumah tangganya sendiri.

Baik buruknya rumah tangga kalian, ada di tangan kamu sendiri. Bapak sesekali boleh menolong di kala kamu sangat sulit, tetapi tidak setiap hari.

Tentu  kamu akan malu kalau kamu hanya kerjanya meminta dan meminta, entah kepada siapa pun. Kamu masih muda, sedangkan Bapak sudah tua.

Jika Bapak sulit dan susah karena faktor usia lamban berjalan, maka sesungguhnya kepada kamulah Bapak berharap karena kamu adalah darah-daging.

Itu cuma Bapak berharap. Apakah nanti harapan benar jadi kenyataan, tentu ada dalam hati dan perasaan kalian sendiri.  

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved