Berita Ngada Hari Ini
Parang Bajawa, Dari Sarana Doa Hingga Aksesoris Budaya
mereka secara bermartabat datang ke kantor Polisi dan menyampaikan bahwa mereka baru saja membunuh
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Patrianus Meo Djawa
POS-KUPANG.COM, BAJAWA - Parang Bajawa telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kabupaten Ngada.
Dari generasi ke generasi parang Bajawa telah memberikan kontribusi besar kedalam setiap tatanan kehidupan sosial maupun budaya masyarakat Ngada.
Tak hanya berperan sebagai perlengkapan kerja, senjata tajam satu ini telah menjadi bagian penting didalam perayaan budaya, mas Kawin, aksesoris pakaian adat juga sebagai simbol kelas sosial dan jati diri para penggunanya.
Sementara dari aspek sosial, Parang Bajawa sangat melekat dengan kewibawaan, martabat dan keberanian para penggunanya.
Baca juga: Maksimalkan Peran Bhabinkamtibmas, Waka Polres Ngada Lakukan Anev Rutin
"Orang Ngada kalau pakai Parang itu Bangga dan itu merupakan jati diri orang Ngada bahwa mereka perkasa, mereka siap tempur dan mereka sangat bermartabat. Misalnya, zaman dulu usai orang Ngada bunuh orang, mereka secara bermartabat datang ke kantor Polisi dan menyampaikan bahwa mereka baru saja membunuh orang," kata Yohanes Mopa (72), Budayawan asal Kabupaten Ngada.
Sejak jaman dahulu, Parang Bajawa telah menjadi sarana pemujaan kepada Tuhan melalui Ngadhu Bhaga, pemujaan terhadap leluhur melalui Loka Lanu, tarian adat yang berhubungan dengan ritual (Ja'i), sebagai penyampaian maklumat adat (bhea Sa) dan sebagai sarana doa penyembelihan hewan kurban ( Noza Kaba ) dan juga untuk mas Kawin (Bèso).
Karena banyaknya kegunaan Parang Bajawa baik dari segi sosial dan budaya, hingga saat ini masih banyak orang Ngada yang mengaitkan parang Bajawa dengan hal-hal mistis.
Baca juga: Dua Wanita Kakak Beradik Asal Kabupaten Ngada Jadi Pimpinan Perangkat Daerah
Parang Bajawa tercipta dari banyak macam dan ukuran. Induk dari semua parang Bajawa adalah Sau Ga'e. Parang jenis ini jumlahnya sangat terbatas dan sangat sulit untuk dijumpai. Sau Ga'e hanya berada didalam rumah - rumah adat dengan jumlah anggota Suku terbesar.
Bentuk Sau Ga'e menyerupai segitiga atau prisma. Yohanes Mopa, Budayawan asal Kabupaten Ngada, telah membuatnya dalam bentuk sketsa gambar untuk diterbitkan dalam bentuk buku.
Sau Ga'e hanya boleh dikeluarkan dari dalam rumah adat dan digunakan pada saat ritual -ritual tertentu saja.
Masyarakat Kabupaten Ngada percaya tentang mistik yang bersemayam didalam Sau Ga'e. Bahkan, ketika Parang ini dipertunjukkan didepan umum, anak-anak dan wanita hamil diminta untuk tak boleh mendekat.
Baca juga: Jalani Prakerin, Dua Pelajar di Kabupaten Ngada Dianiaya Pemilik Bengkel
Setelah kedatangan bangsa Portugis ketanah Ngada untuk menyebarkan agama, masyarakat Ngada kemudian diperkenalkan lagi dengan sebuah parang, asli buatan Portugis. Parang Portugis dinamai Sau.
Panjang parang ini mencapai 1 meter atau bahkan lebih dengan ujungnya sedikit lebih membesar dari pangkalnya.
Seiring perkembangan jumlah penduduk lokal Ngada, kelompok masyarakat adat yang ingin mandiri membangun kesatuannya sendiri kemudian makai parang buatan Portugis ini sebagai salah satu simbol didalam rumah adat mereka.
Parang Portugis ini di peroleh dengan cara barter dengan harta benda bahkan ditukar dengan Budak - budak.
Sau atau parang Portugis hingga saat ini juga sangat mistis. Sau disimpan secara khusus diatas Mataraga didalam rumah adat.