Sabtu, 9 Mei 2026

Obituari Pater Alex Beding

Dia Menjala di Lautan Lain (Bagian-2)

Inilah poin penting yang digarisbawahi P Steph Tupeng Witin, SVD dalam buku “Bersyukur dan Berharap, Kenangan 60 Tahun Imamat Alex Beding, SVD”

Tayang:
Penulis: dion db putra | Editor: Eflin Rote
intan imamat
Alex Beding (tengah) dan Steph Witin (kanan) 

Marcel Beding dikenal sebagai salah seorang wartawan perintis Harian Kompas. Marcel mengabdi di Kompas hingga pensiun.

Saudara Pater Alex lainnya adalah Fransiskus Meli Beding (lahir 2 Desember 1938, meninggal 10 Mei 1973), Yohanes Bosko Gesi Beding (27 Januari 1941). Tahbisan imam Pater Bosko Beding 29 Juni 1969. Pater Bosko yang juga dikenal sebagai wartawan itu meninggal dunia 16 Juli 1989.

Saudari perempuan Pater Alex, Suster Benedicta CIJ, lahir 5 Juni 1928, meninggal pada tanggal 20 Mei 2011 dalam usia ke-83. Lima puluh tahun lebih dalam Kaul Kebiaraan.

Karolus Arkian adalah seorang tukang kayu. Pada awal dia senang melaut. Kemudian ketika orang membangun Gereja Paroki Lamalera dia tertarik untuk memegang alat-alat tukang kayu dan mencoba sendiri.

Alex Beding kecil menjalani pendidikan sekolah dasar selama dua tahun.

Alex pun diminta ayahnya menjaga pledang (perahu tradisional nelayan Lamalera) dan jangan menjadi guru.

“Nanti siapa yang jaga pledang untuk memberi rejeki kepada keluarga,” demikian Pater Alex Beding mengenang ucapan ayahnya. Tapi Alex sering pergi ke Pastoran Lamalera untuk membantu; sementara ia sendiri belajar untuk menulis, sampai bisa menulis surat sendiri. Bahasa Indonesia dia belajar dari orang-orang yang bergaul dengannya.

Karolus Arkian melalui pekerjaannya sebagai tukang kayu dapat membuat meja, kursi, bangku untuk para guru. Kalau Alex Beding kecil hendak ke sekolah, Arkian selalu menyuruhnya untuk mengambil uang dari guru-guru langganannya.

Karolus Arkian membantu Pater Bernhard Bode membangun kapela-kapela di stasi-stasi seluruh Lembata bahkan sampai di Kedang. Dan, Karolus Arkian sangat senang serta menikmati pekerjaannya itu.

Semuanya dilakukan dengan berjalan kaki. Dia juga menjadi anggota konfreria, termasuk angkatan pertama.

Dari keluarga sederhana inilah Alex Beding tumbuh dengan iman yang kokoh. Keluarga religius tapi tetap sederhana. Bekerja keras untuk hidup tapi tetap terbuka melayani gereja dan sesama.

Dengan fasilitas yang minim bisa berbuat banyak untuk kebahagiaan banyak orang.

Seperti ditulis Steph Tupeng Witin, nilai-nilai hidup ini tumbuh dari kenyataan dan konteks Lamalera, sebuah desa nelayan miskin tapi kaya cahaya matahari.

Maka dari Lamalera kemudian “cahaya” itu menerangi seluruh Lembata, bangsa ini bahkan dunia.

Hal tersebut sejalan dengan arti harafiah dari Lamalera yaitu tempat cahaya matahari. (Lama: tempat, ruang, lapangan) dan Lera: matahari. Dari Lamalera beralas wadas, cahaya itu perlahan menerangi kehidupan.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved