Breaking News

KKB Papua

Abelom Kogoya: KKB Itu Hancurkan Papua, Apakah Mereka Pantas Jadi Saudara Kami? Mereka Pembunuh Kok!

Kepala Suku Besar di Kabupaten Puncak, Abelom Kogoya sangat murka atas kebiadapan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang bergentayangan di daerah itu

Editor: Frans Krowin
Tribunnews.com
Kepala Suku Besar di Kabupaten Puncak, Papua, Abelom Kogoya 

POS-KUPANG.COM - Kepala Suku Besar di Kabupaten Puncak, Abelom Kogoya sangat murka atas kebiadapan kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang bergentayangan di daerah itu.

Pasalnya, kelompok separatis itu hanya bisa membakar, menyerang bahkan membunuh siapa pun orang yang ditemui.

Oleh karena itu, KKB bukan orang Papua. KKB juga bukan sesama saudara atau masyarakat yang selama ini hidup di Papua.

KKB adalah pembunuh. KKB adalah penjahat yang harus dilibas demi keamanan dan ketentraman masyarakat.

Pernyataan itu dilontarkan Abelom Kogoya, atas kebengisan KKB yang menembak mati karyawan PTT dan seorang anak kepala suki di Distrik Ilaga.

Ia mengungkapkan kemarahannya itu seusai menghadiri pemakaman Bebi Tabuni, anak kepala suku di Distrik Ilaga, Abeloni Tabuni yang tewas dibantai KKB Papua di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak pada Rabu 2 Maret 2022.

Bebi Tabuni tewas bersama tujuh pekerja PT PTT yang memperbaiki Tower Base Transceiver Station (BTS) 3 Telkomsel di lokasi tersebut.

Menurut Abelom Kogoya, KKB bukan bagian dari masyarakat Papua. Sebab mereka tega membunuh sesamanya sendiri.

Mereka juga bukan anak Papua, karena selalu membunuh sesama masyarakat Indonesia yang berada di Papua.

Apalagi mereka juga terus menebar ketakutan bagi masyarakat Papua.

Baca juga: Inilah Sosok Goliat Tabuni, Pimpinan KKB Papua yang Disebut Jadi Dalang Tewasnya 8 Pekerja PTT

"Kalau dianggap saudara, tidak mungkin anak ini Beby Tabuni mereka bunuh. Mereka itu cuma buat hancur kota ini, mereka bakar, mereka membunuh," kata Abelon.

Sebagai Kepala Suku Besar yang membawahi seluruh suku di Kabupaten Puncak, Abelom tak ingin konflik bersenjata terus terjadi di daerah itu.

Ia tidak ingin ada lagi korban jiwa gegara konflik bersenjata yang terus terjadi di Papua.

"Saya tidak mau lagi mereka datang tembak-tembak tempat saya. Kalau mereka berbuat lagi saya minta aparat keamanan langsung amankan mereka. Proses saja mereka," kata Abelom lewat keterangan tertulis, Selasa.

Abelom ingin pembangunan di wilayahnya bisa terlaksana dengan baik, sehingga kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan.

Lantas, Siapa Abelom Kogoya?

Abelom Kogoya adalah kepala suku di Kampung Kmak, Distrik Ilaga Utara, Kabupaten Puncak.

Pada 2021, Abelom pernah diancam akan ditembak mati komplotan KKB pimpinan Numbuk Telenggen.

Akan tetapi hal itu sama sekali tidak menciutkan nyali Abelom. Sebab meski diancam, ia tetap mengimbau warganya tak terprovokasi aksi-aksi yang dilakukan.

“Jadi saat mereka datang buat kekacauan, tiba-tiba para KKB Papua, langsung mencari saya dan mengancam saya,” ujar dikutip dari Antara pada 2021.

Untungnya lanjut dia, aksi KKB Papua tersebut, hanya sebatas ancaman

Baca juga: Begini Kisah NS, Pria yang Selamat dari Serangan KKB Papua: Hanya Saya Yang Lari, Yang Lainnya Habis

Kampung Kimak yang diketuai Abelom diketahui pernah diserang oleh KKB yang kini dikategorikan sebagai kelompok teroris.

Tokoh agama setempat, Pendeta Menaser Labene, menuturkan bahwa KKB juga sempat mengusik ketenangan warga yang bermukim di wilayah Muara, Distrik Ilaga Utara, Kabupaten Puncak.

Akibat kehadiran KKB itu, warga Kampung Muara meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi sementara pada rumah sanak keluarga mereka di kampung-kampung terdekat.

KKB Papua mampu melukai prajurit TNI padahal hanya mengirimkan tiga personel bersenjata. Tiga personel yang punya kehebatan melakukan serangan mendadak, yakni Trio Kogoya. Ini sosoknya.
KKB Papua mampu melukai prajurit TNI padahal hanya mengirimkan tiga personel bersenjata. Tiga personel yang punya kehebatan melakukan serangan mendadak, yakni Trio Kogoya. Ini sosoknya. (Tribunnews.com)

Seperti Kampung Paluga, Kampung Kimak, dan Kampung Kago.

Kemarahan Kepala Suku Abeloni Tabuni

Di bagian lain, Abeloni Tabuni, kepala suku yang anaknya Beby Tabuni tewas dibantai KKB Papua, begitu terpukul.

Ia pun melontarkan ancaman kepada KKB Papua.

Abeloni Tabuni memperingatkan kelompok kriminal bersenjata (KKB) untuk tidak datang lagi ke wilayahnya.

Ia meminta KKB Papua untuk meninggalkan wilayahnya dan tidak kembali lagi.

Abeloni juga mengimbau warga setempat ikut mengecam dan melawan aksi KKB Papua.

"Jadi, OPM dari Intan Jaya itu salah besar, tidak (jangan) datang-datang lagi ke sini Kabupaten Puncak, jangan ganggu-ganggu datang," kata Abeloni di Polsek Beoga, Sabtu 5 Maret 2022.

Seperti dilansir dari Kompas TV dalam artikel 'Anaknya Tewas Tertembak, Kepala Suku di Puncak Papua Peringatkan KKB untuk Tidak Datang Lagi'.

"Tidak usah datang lagi ke Kabupaten Puncak ini," tegas dia.

Baca juga: Putra Kepala Suku Gome Tewas Diserang KKB Papua, Fakta Terkuak Setelah Korban Dievakuasi dari TKP

Bukan hanya memperingatkan anggota KKB untuk tidak datang lagi ke wilayahnya, Abeloni juga membantah klaim pihak KKB yang mengatakan 8 karyawan PTT, termasuk anaknya adalah anggota TNI/Polri.

Menurut Abeloni, anaknya setiap hari bekerja memasang dan memperbaiki jaringan tower.

"Saya punya anak ini, Beby Tabuni sudah kena tembak."

"Dia pasang jaringan, baru anaknya kena tembak," ujar Abeloni.

Sebelumnya, aksi biadab kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua kembali terulang di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua pada Rabu 2 Maret 2022.

Delapan pekerja Palapa Timur Telematika (PTT) tewas dibunuh saat melakukan perbaikan Tower Base Transceiver Station (BTS) 3 Telkomsel.

Di hari yang sama, KKB juga menyerang prajurit TNI, Pratu Heriyanto yang sedang berpatroli sekira pukul 12.45 WIT.

Akibatnya, Pratu Heriyanto tertembak pada bagian leher bawah telinga.

Baca juga: Serang Pekerja Telekomunikasi di Beoga, Anak Kepala Suku Jadi Korban Tembak KKB Papua

Tangkapan layar dari CCTV Tower B3 di Distrik Beoga, salah satu pekerja PT. PTT yang selamat dari aksi KKB Papua, sedang meminta pertolongan ke arah kamera setelah KKB menyerang mereka pada Rabu 2 Maret 2022 dini hari. Akibat kejadian tersebut, delapan pekerja tewas terkena tembakan. (IST via Kompas.com)
Tangkapan layar dari CCTV Tower B3 di Distrik Beoga, salah satu pekerja PT. PTT yang selamat dari aksi KKB Papua, sedang meminta pertolongan ke arah kamera setelah KKB menyerang mereka pada Rabu 2 Maret 2022 dini hari. Akibat kejadian tersebut, delapan pekerja tewas terkena tembakan. (IST via Kompas.com) (Tribunnews.com)

Delapan pekerja Palapa Timur Telematika yang tewas itu adalah:

Berikut identitas karyawan PTT yang tewas di tangan KKB dari data yang dihimpun Tribun-Papua.com:

- Billy (menimggal)

- Renal (meninggal)

- Bona (meninggal)

- Nelson (korban selamat)

- Bebi Tabuni (meninggal)

- Jamal (meninggal)

- Eko (meninggal)

- Pak De (meninggal)

Baca juga: KKB Papua Bombardir Pekerja Jaringan Telekomunikasi, 8 Orang Tewas Terjungkal dari Puncak Menara

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal menuturkan kronologi peristiwa yang menggemparkan Tanah Air.

Awalnya, penyerangan diketahui setelah seorang karyawan PTT menghubungi aparat keamanan lewat telepon pada Kamis 3 Maret 2022.

"Penyerangan yang dilakukan oleh KKB terhadap karyawan Palapa ring Timur Telematika (PTT) terjadi pada Rabu 2 Maret 2022 di Tower BTS 3 Telkomsel "CO 53M 756085 9585257" di Wilayah Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, namun baru diketahui hari ini," ungkap Kamal lewat rilis pers yang diterima Tribun-Papua.com, Kamis malam.

Seorang saksi inisial NS menyebut, saat penyerangan dilancarkan KKB, dirinya tak berada di basecamp.

Namun saat kembali, dirinya menemukan delapan rekannya sudah meninggal dunia.

“Melihat rekan-rekannya sudah tidak bernyawa, sekira pukul 13.00 WIT saksi meminta bantuan penyelamatan melalui CCTV Tower BTS 3. Kemudian pukul 16.00 WIT baru termonitor di CCTV Pusat PTT di Jakarta,” katanya.

Terkini, delapan korban masih berada di Tower BTS 3 Telkomsel dan belum bisa dievakuasi akibat terkendala cuaca.

Akses menuju lokasi kejadian hanya bisa dilalui lewat transportasi udara.

Baca juga: Jenazah Kasar Kulua Sudah Dibakar, Komandan Perang KKB Papua Ini Tewas Diterjang Peluru TNI

“Pihak Perusahaan PT Palapa Timur Telematika sudah mengevakuasi karyawan yang berada di BTS 4. Sedangkan untuk di BTS 3 belum bisa dilakukan karena terkendala cuaca,” kata Kamal.

Sementara, Polres Puncak saat ini sudah membentuk tim untuk menuju lokasi krjadian, sekaligus melakukan penegakan hukum. (*)

Berita Lain terkait KKB Papua

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved