Berita Manggarai Timur Hari Ini
Mengenal Kolo, Makanan Khas Manggarai Timur
Kolo adalah nasi yang dimasak bukan menggunakan periuk atau rice cooker, namun dimasak menggunakan bambu
Penulis: Robert Ropo | Editor: Edi Hayong
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Robert Ropo
POS-KUPANG.COM, BORONG - Setiap daerah tentu memiliki budaya/tradisi masing-masing termasuk jenis makanan khas. Untuk di Manggarai Raya pada umumnya dan khususnya di Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki berbagai jenis makanan khas, salah satunya adalah Kolo.
Kolo adalah nasi yang dimasak bukan menggunakan periuk atau rice cooker, namun dimasak menggunakan bambu. Setiap ruas bambu dipotong lalu diisi dengan beras dicampur dengan air dan juga bisa ditambahkan bumbu dapur untuk menambah rasa seperti santan kelapa, kunyit untuk bahan pewarna dan bumbu lainnya.
Baca juga: Kasus Stunting di Wilayah Manggarai Timur Alami Penurunan Periode Februari 2022
Untuk menjaga masakan bersih, biasanya sebelum isi beras, pada lubang bambu dialas pada setiap sisi menggunakan daun enau maupun daun kelapa. Kemudian pada tutupannya ditutup juga dengan menggunakan daun tersebut.
Cara masaknya dengan membakar di tungku api, sehingga oleh masyarakat setempat menyebutnya tapa kolo. Tapa artinya bakar, sehingga nasi bambu yang dimasak dengan cara dibakar. Untuk lebih nikmat rasanya saat menyantap kolo, bisa dengan sup santan daging ayam atau sup daging babi.
Baca juga: Wakili NTT di Ajang Puteri Indonesia, Breldy Lerrick Akui Persiapan Hampir 100 Persen
Salah seorang warga Manggarai Timur, Ges Olang, kepada POS-KUPANG.COM, Minggu 6 Maret 2022, menjelaskan Kolo merupakan makanan khas warga Manggarai Timur yang diwariskan leluhur di berbagai kampung dan desa. Tapa kolo biasanya dilakukan dalam berbagai upacara adat masyarakat. Salah satunya saat penanaman padi sawah atau ladang.
Upacara tapa kolo ini biasanya juga dilakukan dengan penyembelian seekor ayam jantan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meminta nenek moyang dan juga penghuni sawah/ladang agar tanaman yang ditanam pada lahan sawah atau ladang itu dijauhkan dari segela bencana hama maupun penyakit.
Baca juga: Breldy Lerrick Wakili NTT ke Puteri Indonesia, Ibunda Berlinang Air Mata
Sehingga dengan harapan agar tanaman itu dapat tumbuh dengan subur. Dan tanaman itu dapat memberikan hasil yang melimpah. Adapun tapa kolo ini, hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Manggarai Timur pada khususnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bambu.jpg)