Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Kamis 27 Januari 2022: Pelita
Anak-anak generasi milenial mungkin tidak kenal pelita. Kalau saya sih masih beruntung lahir dan hidup dalam dunia transisi old dan now.
Renungan Harian Katolik Kamis 27 Januari 2022: Pelita (Markus 4:21-25)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Saya tak bisa menahan diri untuk bertanya kepada Yesus Sang Guru, apa maksud perkataan-Nya, "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang ... melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian?" (Mrk 4:21).
Soalnya setahu saya, gantang itu takaran, terutama untuk menyukat beras, kacang hijau, kedelai. Beras segantang lebih kurang 3.125 kg beratnya. Maka siapa sih yang mau menaruh pelita di bawah gantang? Ngapain?
Tahu bahwa saya kebingungan, Penginjil Markus coba menjelaskan. "Hei bro ... keadaan kalian zaman now di sini beda dengan keadaan orang zaman old di sana.
Kalau kalian sekarang semua serba ada dan mudah. Untuk membuat rumah jadi terang, lu tinggal pencet tombol dan listrik nyala.
Begitu pun untuk menyalakan lilin di kala PLN membuat pemadaman bergilir. Lu nggak susah-susah amat koq. Tinggal ambil korek api atau geretan, beres deh ... lilin menyala.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 26 Januari 2022: Kekuatan Ilahi
Tapi zaman Yesus, beda bro. Dulu boro-boro ada listrik. Korek api aja belum ada. Kalau orang mau menyalakan pelita, dia mesti bikin gesekan batang buluh kering. Nggak gampang lho! Makanya kalau udah ada api, nyalanya dijaga benar.
Lagian, rumah di Palestina umumnya gelap banget. Hampir-hampir nggak ada jendela, karena padang pasir, berdebu. Terbayang khan, betapa pentingnya pelita atau lampu minyak di rumah orang Palestina tempo itu.
Anak-anak generasi milenial mungkin tidak kenal pelita. Kalau saya sih masih beruntung lahir dan hidup dalam dunia transisi old dan now. Maka saya sempat tahu dan pakai pelita.
Di seminari dulu kami bikin pelita dari kaleng susu indomilk. Pelita ini dipakai untuk belajar curi-curi masa ujian semesteran, saat lampu neon sudah dipadamkan bapak asrama.
Pelita itu jenis lampu yang diisi dengan minyak. Sumbunya terapung-apung di atas permukaan minyak itu. Nyalanya tidak seberapa hebat. Karena itu pelita sering diletakkan di atas kaki dian yang sederhana. Atau, terkadang ditaruh di atas tembok yang agak tinggi, supaya bisa menerangi seluruh ruangan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 24 Januari 2022: Fitnah
Sewaktu penghuni rumah mau pergi keluar, pelita diturunkan dan diletakkan atau disimpan sementara di bawah gantang, yaitu di bawah sebuah alat rumah tangga untuk menakar gandum.
Gantang itu terbuat dari tanah liat dan dilengkapi dengan beberapa gagang. Bila dibalik, gantang itu bisa menutupi pelita dan mengamankan nyalanya agar tidak padam. Tapi akibatnya, nyala pelita tentu berkurang bahkan nyaris tak kelihatan lagi.
Saya jadi ngerti sekarang dengan perkataan Yesus itu. Sang Guru mengibaratkan murid-murid-Nya, termasuk saya, dengan pelita yang seharusnya menyala dan nyalanya bisa menerangi seluruh ruangan, dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)