Selasa, 14 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 26 Januari 2022: Kekuatan Ilahi

Kisah Yesus mengutus tujuh puluh murid. Mereka diutus berdua-dua. Catatan kesaksian penginjil Lukas ini patut direnungkan serius.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Rabu 26 Januari 2022: Kekuatan Ilahi (Lukas 10:1-9)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Kisah Yesus mengutus tujuh puluh murid. Mereka diutus berdua-dua. Catatan kesaksian penginjil Lukas ini patut direnungkan serius.

Pertimbangannya, kesaksian yang diberikan dua orang lebih berbobot. Unus testis nullus testis, demikian adagium Latin.

Selain itu, tentu ada hal lain yang juga masuk dalam pertimbangan. Ini tak hanya perlu digali, tapi juga dihayati. Soalnya, disebutkan dengan jelas diutus "berdua-dua".

Maka, begitulah yang kemudian terjadi juga dalam Gereja perdana. Barnabas bersama Saulus (Kis 13:2); Judas dan Silas (Kis 15:27); Barnabas dan Markus (Kis 15:39); Paulus dan Silas (Kis 15:40); Timotius dan Silas (Kis 17:14); Timotius dan Erastus (Kis 19:22).

Para murid yang diutus berdua-dua itu diibaratkan seperti anak domba yang datang ke tengah-tengah serigala.

Serigala itu binatang buas. Berarti, medan perutusan itu bukanlah tempat rekreasi, destinasi wisata dengan segala keindahan dan kenyamanan. Tetapi jelas terkuak adanya bahaya, keterancaman yang menanti, yang bakal dialami.

Baca juga: Renungan Harian Katolik, Rabu 26 Januari 2022: Keberlanjutan Pelayanan dan Rekan Seperjalanan

Namun ibarat itu tidak hanya berbicara tentang keterancaman. Soalnya, masakan domba tidak ada gembalanya? Domba biasanya tidak dibiarkan sendirian. Ada gembala yang siap melindungi.

Jadi, dua sisi ibarat ini patut diperhatikan. Memang ada bahaya. Tapi jangan lupa ada yang melindungi, meskipun tidak tampak atau ditampakkan.

Tidaklah heran, para murid dinasihatkan agar tidak membawa kelengkapan pribadi, uang, bekal, alas kaki.

Pun jangan menyalami orang di jalan. Maksudnya, tidak usah mengharapkan diantar, cari perhatian agar diberi bantuan.

Semua itu tidak perlu. Karena sudah ada yang mengaturnya. Ada gembala yang tak kelihatan yang akan menunjukkan kehadiran-Nya dan memberi pertolongan dan kekuatan.

Maka, pergi ke medan perutusan tanpa bekal dan sebagainya, sebaiknya juga dilihat sebagai upaya untuk memberi ruang dan membuat kehadiran Sang Gembala dengan kekuatan-Nya itu bisa makin tampak dengan lebih jelas.

Baca juga: Renungan Harian Katolik, Selasa 25 Januari 2022: Tiada Yang Mustahil Bagi Tuhan

Kalau kita tidak mencemaskan diri dengan segala tetek bengek perlengkapan dan kebutuhan; kalau kita tidak menyandarkan diri pada kekuatan sendiri; maka wibawa kekuatan Sang Gembala itu akan makin nyata.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved