Kamis, 9 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 24 Januari 2022: Fitnah

Barangkali lebih baik sakit gigi daripada sakit hati karena fitnah. Itulah mengapa sering dikatakan, “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan!”

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian katolik Senin 24 Januari 2022: Fitnah (Markus 3:22-30)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Mesti diakui fitnah memang lebih tajam dari sebilah pedang! Goresan luka dan sakit yang ditimbulkan oleh tajamnya pedang mungkin masih bisa ditahan dan diobati, tetapi luka yang ditimbulkan oleh tajamnya kata-kata (fitnah) sangat sulit untuk ditanggung dan diobati. Sakitnya itu lho!

Barangkali lebih baik sakit gigi daripada sakit hati karena fitnah. Itulah mengapa sering dikatakan, “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan!”

Dalam Kitab Suci teks asli Yunani, “fitnah” atau disebut “katalalew” biasa merujuk pada segala macam perkataan negatif untuk menentang orang lain.

Sebut saja,  “menentang pemimpin atau Allah” (Bil 12:8; 21:5, 7), “mengumpat” (Mzm 101:5), “menghina” (Ay 19:3), “mengatakan sebuah dusta” (Hos 7:13), “mengatakan sesuatu yang bisa dianggap kurang ajar” (Mal 3:13), atau “menuduh” (1Pet 2:12; 3:16).

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 22 Januari 2022: Tuduhan

Dus, fitnah tak hanya sekadar menyebarkan berita buruk, tetapi juga memutar-balikkan fakta, mengadu domba, menghancurkan pihak lain.

Karena itulah fitnah memang sangat  berbahaya. Dampak yang ditimbulkannya dalam kehidupan selalu negatif, tidak pernah ada yang positif.

Fitnah itu semacam penyakit hati yang disebabkan oleh menuruti hawa nafsu, menuruti bujukan setan, tidak percaya diri, iri hati dengan orang lain, dan kurangnya mensyukuri berkat-berkat Allah yang ada pada diri sendiri.

Penyebabnya bisa beraneka ragam, antara lain: egoisme, tidak sepaham, tidak mau menerima orang lain sebagaimana adanya, kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, kepentingan politik, kebencian, pembalasan oleh karena dendam yang berkepanjangan, dan sebagainya.

Rasul Yakobus berkata, “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu ?” (Yak 4:1). 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 18 Januari 2022: Senjata Hukum

Meski hampir tidak ada orang menyukainya, fitnah bisa terjadi dan dilakukan oleh siapa saja. Dari kalangan atas sampai bawah. Tak peduli apakah mereka itu orang terhormat atau orang biasa, apakah ia seorang yang mengaku sudah lama sebagai orang percaya atau sebagai orang yang baru saja percaya.

Dalam hidup sehari-hari merebak fitnah lewat gosip, hoaks, kabar bohong. Dalam kontestasi politik, fitnah mewabah lewat apa saja.

Penginjil Markus menunjukkan bukti nyata bahwa  orang-orang sekelas ahli Taurat yang terhormat dalam kalangan agama Yahudi tak sungkan menyatakan fitnah langsung kepada Yesus.

Terang-terangan mereka berkata, "Ia kerasukan Beelzebul", dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan" (Mrk 3:22).

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved