Berita NTT

BPS Catat Ketimpangan di NTT Turun

BPS NTT mencatat tingkat ketimpangan kemiskinan NTT turun berdasarkan data ketimpangan pengeluaran penduduk Provinsi NTT

Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM/HO-TANGKAP LAYAR
BPS - Rilis berita resmi statistik oleh BPS NTT tentang keadaan kemiskinan provinsi NTT dan ketimpangan kemiskinan provinsi NTT periode September 2021. Senin 17 Januari 2022 

Laporan Kontributor POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG- Badan Pusat Statistik Provinsi NTT ( BPS NTT) mencatat tingkat ketimpangan kemiskinan NTT turun berdasarkan data ketimpangan pengeluaran penduduk Provinsi NTT September 2021.

Pada September 2021, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Provinsi NTT yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,339. Angka ini menurun 0,007 poin jika dibandingkan dengan Maret 2021 yang sebesar 0,346. Angka itu juga menurun 0,017 poin dibandingkan dengan September 2020 yang sebesar 0,356.

Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Adi H. Manafe, tentang keadaan kemiskinan dan ketimpangan kemiskinan di NTT pada Senin 17 Januari 2022.

Untuk perkotaan, kata dia, Gini Ratio pada September 2021 tercatat sebesar 0,322, turun dibanding Gini Ratio Maret 2021 yang sebesar 0,327 dan Gini Ratio September 2020 yang sebesar 0,329.

Baca juga: BPS NTT Sebut Kota Maumere Paling Rendah Inflasinya

Sementara untuk di daerah perdesaan, lanjut dia, Gini Ratio pada September 2021 tercatat sebesar 0,306, turun dibanding Gini Ratio Maret 2021 yang sebesar 0,311 dan Gini Ratio September 2020 yang sebesar 0,311.

Sedangkan berdasarkan ukuran ketimpangan Bank Dunia, jelasnya, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 19,45 persen.

"Hal ini berarti pengeluaran penduduk pada September 2021 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah," sebutnya.

Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 20,58 persen yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan rendah. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 21,15 persen, yang berarti tergolong dalam kategori ketimpangan rendah.

Baca juga: Kunker di Matim, Kepala BPS NTT Bertemu Bupati Agas Bahas Pengetasan Kemiskinan

Berdasarkan data yang ditampilkannya, sejak September 2015 angka Gini Ratio mengalami fluktuasi sampai dengan September 2018. Namun Gini Ratio mengalami peningkatan tertinggi pada September 2016 yaitu sebesar 0,026 poin dibanding Maret 2016. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa distribusi pengeluaran penduduk pada periode tersebut semakin memburuk.

Selanjutnya, selama periode September 2018 hingga Maret 2020, angka Gini Ratio mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa selama periode tersebut terjadi perbaikan pengeluaran di Provinsi NTT.

"Namun demikian, akibat adanya pandemi Covid-19, nilai Gini Ratio kembali mengalami kenaikan pada September 2020, lalu kembali mengalami penurunan pada September 2021," tukasnya.

Ia juga menyampaikan ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia.

Baca juga: SP Online BPS NTT tak Capai Target

Berdasarkan ukuran ini, tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12 hingga 17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 17 persen.

Pada September 2021, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 19,45 persen yang berarti ada pada kategori ketimpangan rendah.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved